JAKARTA - Pernahkah kamu saat berbaring, membuka Instagram atau TikTok, dan tiba-tiba merasa cemburu? Teman-teman sedang berlibur di Bali, ada yang pergi ke konser K-pop, atau berkumpul di kafe yang sedang ramai. Sementara itu, kamu hanya scroll-scroll sambil berpikir, "Mengapa hidupku tidak berubah sama sekali? " Ini yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Rasa takut kehilangan momen-momen seru, khawatir tidak terupdate, dan merasa tidak dianggap "ada" dalam lingkungan sosial. Namun kini ada konsep yang berlawanan: JOMO (Joy of Missing Out). Alih-alih merasa panik karena ketinggalan, orang-orang mulai menemukan kebahagiaan dalam melewatkan beberapa kegiatan. Ternyata, JOMO dapat membuat hidup lebih tenang. FOMO: Ketakutan Akan Ketinggalan Tren Generasi Z hidup di dunia digital yang sangat cepat. Notifikasi datang terus-menerus, tren selalu berubah setiap minggu, dan algoritma media sosial membuat kita merasa semua orang mempunyai hidup yang lebih menarik. Fenomena FOMO telah diteliti oleh Przybylski dan rekan-rekannya pada tahun 2013. Mereka mendefinisikan FOMO sebagai kecemasan yang dirasakan ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman berharga yang dialami oleh orang lain. Penelitian mereka menunjukkan bahwa FOMO seringkali berhubungan dengan penggunaan media sosial yang berlebihan dan tingkat kepuasan hidup yang rendah. Oleh karena itu, FOMO sering membuat kita: Mengikuti tren meskipun tidak tertarik, hanya agar tidak disebut kudet. Berpikir terlalu banyak jika tidak diajak berkumpul. Mengalami kelelahan mental karena membandingkan hidup kita dengan orang lain. Intinya, FOMO membuat kita terjebak dalam "perlombaan" yang tidak ada akhir. JOMO: Kebahagiaan Dengan Pilihan Sendiri Sementara FOMO menghadirkan kecemasan, JOMO memberikan ketenangan pikiran. Joy of Missing Out berarti kita bisa mengatakan, "Oke, saya tidak ikut, tetapi saya senang dengan keputusan saya. " Dalam psikologi positif, JOMO dapat diasosiasikan dengan mindfulness, yaitu kemampuan untuk hadir dalam momen saat ini tanpa terganggu oleh tekanan dari luar (Kabat-Zinn, 1994). Dengan mindfulness, kita menjadi lebih mampu menikmati hal-hal sederhana dan tidak merasa bersalah ketika melewatkan sesuatu. Contoh sederhana: Menolak untuk berkumpul karena lebih ingin cukup tidur. Tidak pergi ke konser mahal, namun puas menonton streaming langsung dari rumah. Benar-benar menikmati akhir pekan sendirian tanpa harus memberi kabar di media sosial. JOMO bukan berarti menolak bersosialisasi, tetapi lebih kepada menyadari bahwa tidak semua hal perlu diikuti. Hidup menjadi lebih ringan karena kita mengetahui apa yang menjadi prioritas kita. Dari FOMO Menuju JOMO Lalu, bagaimana cara kita tidak terjebak dalam FOMO terus-menerus? 1. Batasi waktu di media sosial. Penelitian dari APA (American Psychological Association) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang lebih teratur dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepuasan hidup. 2. Ketahui apa yang membuatmu bahagia. Tidak semua tren cocok untuk kita. 3. Latih rasa syukur. Menghargai apa yang kita miliki dapat membuat hati lebih tenang (Emmons & McCullough, 2003). 4. Hidup secara mindful. Fokuslah pada momen saat ini alih-alih sibuk memikirkan kehidupan orang lain. Kesimpulan FOMO dan JOMO adalah dua sisi dari kehidupan kita di era digital. Yang berbeda adalah FOMO membuat kita cemas, sedangkan JOMO mengajarkan kita untuk lebih menikmati hidup. Seperti yang dikatakan oleh psikolog sosial, kunci kebahagiaan tidak terletak pada seberapa banyak kegiatan yang kita ikuti, melainkan pada bagaimana kita menghargai pilihan yang kita buat. Jadi, sekarang pertanyaannya: Apakah kamu masih berada di pihak FOMO yang mudah gelisah, atau sudah beralih menuju JOMO dan menikmati hidup dengan tenang?