JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan penanganan terhadap sejumlah rumah ibadah yang mengalami dampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). "Kementerian PU menindaklanjuti hasil pemeriksaan kondisi bangunan rumah ibadah Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur serta Masjid Nurul Huda Reo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur." Penanganan terhadap kedua rumah ibadah tersebut disesuaikan dengan tingkat kerusakan masing-masing bangunan. Aspek keselamatan, kebutuhan para pengguna, serta kearifan lokal masyarakat setempat menjadi pertimbangan dalam proses tersebut. Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan kembali bangunan yang terdampak harus tetap memperhatikan nilai-nilai lokal. Koordinasi dengan pihak yang menggunakan atau mengelola bangunan juga diperlukan. "Kalau bangunan kita kerjakan ulang, di manapun kearifan lokal harus dijaga. Jadi, harus koordinasi dengan yang menggunakan atau mengelola bangunan tersebut," kata Menteri PU Dody Hanggodo, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis. Langkah Kementerian PU tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Dody setelah meninjau Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek serta Masjid Nurul Huda Reo. Hasil pemeriksaan terhadap Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek mencakup tiga bangunan, yaitu gedung peribadatan gereja, gedung aula gereja, dan rumah pastoran. Dari pemeriksaan tersebut diketahui gedung peribadatan dan aula mengalami kerusakan struktural sehingga dinyatakan tidak aman digunakan. Sementara itu, rumah pastoran tidak mengalami kerusakan dan masih dinyatakan aman untuk digunakan. Sebagai bagian dari tindak lanjut, jemaat gereja melakukan pembongkaran atau Cear Di'a serta membersihkan area gereja dan aula. Masyarakat juga melaksanakan proses adat sebagai upaya mempertahankan nilai adat dan kearifan lokal yang melekat dalam kehidupan jemaat di Dampek. Sebelum bagian atap dibongkar, pihak gereja terlebih dahulu mengamankan aset-aset gereja. Proses tersebut melibatkan sekitar 30 jemaat dan mendapat dukungan sekitar 20 personel Polda NTT untuk menjaga kelancaran serta keamanan kegiatan. Untuk tahap selanjutnya, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) NTT menyiapkan penanganan Gereja Santo Petrus dan Paulus menggunakan pendekatan rancang bangun. Sebelum itu, kajian terhadap kondisi struktur bangunan eksisting akan dilakukan. Dalam proses perencanaan, pengurus gereja juga akan dilibatkan. Dengan demikian, bangunan yang nantinya dibangun kembali diharapkan tetap menyesuaikan kebutuhan jemaat sekaligus mempertahankan karakter lokal. Adapun pemeriksaan pada Masjid Nurul Huda Reo menunjukkan struktur utama bangunan secara umum masih berdiri tegak. Meski demikian, sejumlah kerusakan ditemukan pada bagian struktur maupun nonstruktur. Berdasarkan hasil identifikasi, kerusakan kolom level IV tercatat sebesar 4,67 persen, sedangkan kolom level III mengalami kerusakan sebesar 3,125 persen. Selain itu, kerusakan plafon mencapai 60 persen dan kerusakan dinding sebesar 10 persen. Masjid Nurul Huda Reo kemudian dikategorikan mengalami rusak sedang. Penanganan yang direkomendasikan mencakup pembongkaran seluruh plafon, pembongkaran bagian dinding yang memiliki retakan lebih dari 6 milimeter, serta penguatan struktur bangunan. Berbeda dengan gedung utama, menara Masjid Nurul Huda Reo dikategorikan mengalami kerusakan berat dan sebagian bangunannya telah runtuh. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan merekomendasikan pembongkaran menara secara total. Seperti halnya Gereja Santo Petrus dan Paulus, penanganan Masjid Nurul Huda Reo akan dilakukan berdasarkan hasil asesmen serta tingkat kerusakan. Dengan pendekatan tersebut, proses rehabilitasi maupun pembangunan kembali dapat dilaksanakan secara tepat dan aman.