SABANG - Sabang siang itu tampak lebih sibuk daripada biasanya. Pada Senin, 1 Desember, KN Antares milik Direktorat Jenderal Perhubungan Laut tampak bersiap di dermaga, mengisi ruang geladaknya dengan berbagai kardus, karung, hingga tumpukan beras. Kapal negara itu mendapat mandat mendesak: mempercepat distribusi bantuan dan mengangkut warga terdampak banjir besar di Aceh. “Kapal tersebut membawa bantuan logistik dari berbagai lembaga serta membantu warga terdampak banjir,” kata Kepala Distrik Navigasi Tipe A Kelas II Sabang, Tohara, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa. Lintasan Cepat Sabang–Ulee Lheue KN Antares mulai bergerak. Dari Sabang, kapal lepas tali pada pukul 13.30 WIB. Ombak relatif bersahabat, dan pada 16.00 WIB kapal sudah merapat di Pelabuhan Ulee Lheue. Tanpa jeda, kru segera memindahkan logistik ke ruang penyimpanan. Tiga setengah jam kemudian, saat langit mulai gelap, KN Antares kembali berangkat pada 19.50 WIB menuju Krueng Geukueh. Rute ini krusial untuk menjangkau wilayah terdampak banjir di Lhokseumawe dan sekitarnya. Kapal diperkirakan tiba pada Selasa pagi pukul 10.00 WIB. Logistik dari Banyak Pintu: Dari Poltekpel hingga Aliansi Mahasiswa Bantuan yang diangkut KN Antares datang dari berbagai titik. Dari BPSDMP/Poltekpel Malahayati, ada 50 sak beras 10 kilogram, 98 dus mi instan, dan 50 dus air mineral. Dari jalur mahasiswa, arus bantuan tak kalah deras. Aliansi Mahasiswa Provinsi Aceh menyalurkan 103 karung pakaian kering, beras 5 kilogram sebanyak 15 sak, mi instan 13 dus, air mineral 14 dus, serta tambahan 33 karung pakaian kering dari STIS Al-Aziziyah Sabang. Setelah tiba di Lhokseumawe pada Selasa pagi, seluruh muatan diserahkan ke Posko KSOP Kelas IV Lhokseumawe. Tak Sekadar Bawa Bantuan: Antares Menjemput Warga Misi berikutnya lebih genting: evakuasi manusia. Pada Selasa siang pukul 13.00 WIB, KN Antares dijadwalkan menjemput 100 warga terdampak banjir di Lhokseumawe. Mereka bakal diberangkatkan ke Ulee Lheue pukul 15.00 WIB. Nakhoda Ricky Hasbalah memimpin kru campuran dari Disnav Sabang, SROP Ulee Lheue, serta personel SROP Blang Oi. “Seluruh kru, peralatan, dan sistem navigasi siap mendukung percepatan penanganan darurat. Kami memastikan semua kegiatan berjalan aman dan tepat waktu,” ujar Tohara. Kolaborasi Darurat: Kemenhub, Pemda, dan Relawan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menegaskan seluruh unit kerja teknis di Aceh terus bekerja berlapis, berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait. Tujuannya satu: bantuan harus tiba sebelum banjir menutup lebih banyak akses. KN Antares kini menjadi salah satu simpul vital—sebuah jembatan laut—di tengah banjir yang membuat jalur darat tersendat. Di saat air merendam rumah dan memutus jalan, kapal negara itu menjadi tumpuan, membawa harapan dalam bentuk karung logistik dan dek yang siap menampung pengungsi. *(Dikutip dari berbagai sumber)