JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam rangka implementasi konkrit kepada masyarakat dari 4 studi mata kuliah, para mahasiswa yang menempuh semester VI di LSPR Institute of Communication & Business, melakukan dampingan pada masyarakat selama beberapa hari di Rumah Belajar Gang Satoe, yang berlokasi di Jl. Gergaji, Klender, Jakarta Timur. Publikasi kegiatan tersebut diselenggarakan pada Sabtu, 21 Juni 2025 di area Lapangan Tenis PLN, Jatinegara. Kegiatan tersebut berbentuk workshop kreatif bertema : ”Cahaya dari Gang Kecil : Menyalakan Potensi, Menumbuhkan Kreativitas.” Kegiatan ini merupakan kegiatan belajar seni tie dye dan soft skill. Silvia Praestice, Ketua Pelaksana Satoe Spark, menambahkan bahwa workshop ini bertujuan mendorong anak-anak untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri mereka. ‘Melalui workshop ini, kami berharap anak-anak dapat lebih menyadari berapa pentingnya soft skill bagi kehidupan mereka, baik saat ini maupun masa depan. Kami juga berharap anak-anak ini dapat menjadi agent of change di lingkungannya dengan terus berkegiatan positif mencari potensi diri, dan mengembangkannya, sehingga dapat menjadi pribadi yang berdampak positif bagi sekitar,”ujar Silvia. Selain itu, salah satu bagian yang tak kalah bermakna adalah adanya Papan Harapan. Papan Harapan sebagai wadah di mana anak-anak diajak menuliskan harapan mereka menggunakan selembar kertas, lalu menempelkannya pada papan kayu yang disediakan. Kegiatan ini menjadi simbol dari semangat bermimpi dan bertumbuh yang ingin ditanamkan oleh Satoe Spark. Papan Harapan merepresentasikan salah satu nilai dari acara ini, yaitu memberi ruang bagi-anak untuk mengenal dan mengungkapkan impian mereka, serta menumbuhkan optimisme dalam menghadapi masa depan. Selain workshop, memasuki inti kegiatan dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi oleh Grace Heidy Jane Amanda Wattimena, Msi., dosen Ilmu Komunikasu yang dikenal dengan pendekatan edukatif dan komunikatif. Dalam sesi ini, anak-anak diajak untuk memahami tentang pentingnya keterampilan komunikasi, kerja sama tim, serta mengenai potensi peluang usaha melalui penjualan. Mulai Dari Riset Sebelum dampingan ke masyarakat dilakukan, Silvia menjelaskan bahwa ada riset yang dilakukan para mahasiswa. Para mahasiswa melakukan desk research dari internet sebelum terjun ke masyarakat. Di Rumah Belajar Gang Satoe, para mahasiswa melakukan riset lapangan mengenai lingkungan belajar di area itu. Lingkungan di area Gang Satoe merupakan tempat terdampaknya kegiatan yang kurang baik, contohnya tawuran pelajar. Patokan kriteria fokus dampingan dari berbagai kelompok mahasiswa yang berbeda adalah pendidikan berkualitas. Terkait pendidikan berkualitas, Silvia menjelaskan bahwa perlu lingkungan yang bisa memberi ruang lebih di mana anak-anak bisa mengekspresikan diri melalui pendidikan yang menyenangkan. “Sejak awal, fokus dampingan adalah pengembangan soft skill,” tuturnya. Menyikapi kenakalan yang terjadi di area tersebut, para mahasiswa mendidik agar anak-anak di Gang Satoe menjadi agent of change di lingkungannya. Anak-anak dianjurkan agar tidak mengikuti kenakalan kakak-kakaknya. Di Rumah Belajar Gang Satoe, anak-anak diajarkan public speaking dan kerja sama tim. Meski program ini hanya dilakukan beberapa hari, tetapi materi yang diberikan menjadi bekal untuk anak-anak di kemudian hari. Dalam pra event pada 14-15 Juni 2025, anak-anak diajarkan untuk berkreasi membuat kaos dengan teknik tie dye. Apa yang sudah diajarkan kepada anak-anak akan diteruskan oleh Karang Taruna setempat. Beberapa nilai dari riset yang menjadi acuan pemilihan subyek yang didampingi, antara lain kemiskinan, kenakalan, dan faktor lain yang mendukung pendampingan ke masyakarat dilakukan, yaitu dukungan masyarakat sekitar, dukungan lingkaran sosial. Silvia menjelaskan bahwa Rumah Belajar Gang Satoe sangat terbuka. Dan masyarakat di sana, termasuk RT, RW sangat mendukung program ini. “ Tim mahasiswa lebih mudah untuk mendapat informasi dan juga akses untuk perizinan di rumah belajar Gang Satoe, “ tuturnya. Berkelanjutan Mahmud Sidik selaku pendiri Rumah Belajar Gang Satoe menjelaskan latar belakang terbentuknya komunitas tersebut. “Rumah Belajar Gang Satoe saya dirikan karena prihatin dengan kondisi lingkungan yang rawan aksi negatif, seperti tawuran pelajar. Saat ini anak-anak memiliki ruang belajar dan beraktivitas positif, agar tidak terjerumus dalam pengaruh yang buruk. Kehadiran kakak-kakak mahasiswa di sini sungguh melegakan, karena menunjukkan bahwa masih ada anak muda yang peduli dan mau menciptakan peluang belajar bagi adik-adiknya,”ujar Mahmud Sidik. Mahmud Sidik berharap agar kegiatan, program ini dapat berkelanjutan, berjangka panjang. Meski belum diketahui kapan akan dilakukan. Ia memaparkan bahwa kedekatan emosional dari para mahasiswa dan anak-anak sudah terbentuk. “Sesekali waktu, tengok adik-adik, “ harapnya. Sesuai Harapan LSPR Dalam sambutan pada kegiatan tersebut, Rizka Septiana, M.Si., dosen pengampu mata kuliah Community Development menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. “ Hari ini saya bukan hanya bangga kepada anak-anak Rumah Belajar Gang Satoe, tapi juga kepada mahasiswa kelas PRDC26-2 TP LSPR Institute Communication and Bussines yang sudah turun langsung dan membawa perubahan yang nyata. Lewat aksi sederhana dan penuh kepedulian, mereka membuktikan bahwa cahaya bisa lahir dari gang kecil, “ ungkap Rizka Septiana. Rizka juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya program Satoe Spark hingga selesai, dan berjalan sesuai harapan. “LSPR berkomitmen mencetak lulusan yang unggul. Siap terjun ke dunia kerja dengan kompetensi tinggi. Bukan hanya cakap teori atau pendidikan, tapi juga memiliki kesadaran sosial yang tinggi, “ paparnya. Kegiatan tersebut merupakan implementasi pembelajaran menjadi proyek nyata. Para dosen menjadi saksi hidup dari kerja keras para mahasiswa turun langsung ke masyarakat mempraktikkan ilmu dari hasil belajar. Kegiatan ini mengajak mahasiswa untuk memahami teori komunikasi dan menjadi individu unggul, bisa berempati dan berkolaborasi. “Di Rumah Belajar Gang Satoe, mereka belajar mendengar, memahami kebutuhan masyarakat, “ jelas Rizka lebih lanjut. Rizka menuturkan bahwa kedekatan emosional antara anak-anak dan para mahasiswa sudah terjadi. “Hubungan yang terbentuk tidak bisa dilepaskan, “ tegasnya. Setelah acara ini, ada acara lain yang dibuat mahasiswa untuk melihat bagaimana perkembangan mereka. Anak-anak yang didampingi harus menjadi agen perubahan. (Yohana Sri W.)