SIMEULUE, NETRALNEWS.COM - Perum Bulog Kantor Cabang Meulaboh di Kabupaten Simeulue siap menyerap gabah dari petani yang saat ini sudah memasuki masa musim panen. Kepala Kantor Bulog Cabang Meulaboh, Momon di Simeulue, Sabtu, (10/1/2026) mengatakan untuk masa panen tahun 2026 ini Bulog siap menampung gabah kering dari petani. Untuk gabah kering hasil panen petani akan dibeli dengan harga Rp 6.500 per kilogram. “Sama seperti tahun lalu, Bulog siap menampung gabah dari petani di Simeulue, untuk harga masih seperti tahun lalu Rp 6.500 per kilogramnya,” kata Momon. Nantinya kata Momon, gabah yang di beli dari petani daerah kepulauan itu akan dikirim ke daratan Aceh untuk di penggilingan hingga menjadi beras. Pihak Bulog memastikan penyerapan gabah dari petani ini dilakukan hingga panen selesai. “Pembelian gabah dari petani ini akan terus dilakukan hingga panen padi di Simeulue ini selesai,” ucap Momon. Rita, seorang petani di Kecamatan Teupah Selatan, Simeuleu menilai kehadiran Bulog menyerap gabah petani merupakan kabar baik, karena petani bisa memperoleh pendapatan dengan menjual gabahnya. Menurutnya, penyerapan gabah menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketahanan pangan serta menjaga stabilitas harga di tingkat petani. “Kita berharap pembelian gabah petani oleh Bulog ini terus berlanjut dan berkelanjutan, sehingga diharapkan taraf ekonomi petani di Kabupaten Simeulue jauh lebih baik,” kata Rita. Rita juga berharap Bulog siap membeli semua gabah petani dengan kwalitas apapun agar para petani tidak merasa was - was terhadap hasil panennya. Ia juga meminta Bulog bisa membeli gabah dengan harga yang sesuai aturan sehingga tidak merugikan petani. “Kepada Pemerintah kita juga berharap agar mendorong pengembangan dan distribusi varietas padi unggul yang tahan kekeringan terhadap faktor alam lainnya sehingga hasil panen petani bisa lebih baik setiap tahunnya,” ucap Rita. Selain itu kata Rita Diana, petani juga perlu mendapatkan dukungan berupa subsidi yang tepat waktu seperti pupuk, benih, dan alsintan modern, serta kebijakan berbasis data yang akurat harus menjadi landasan utama dalam perencanaan produksi beras. “Kepada pemerintah kami sebagai petani berharap subsidi seperti pupuk, Saprodi dan kebutuhan pertanian lainnya dapat terus diberikan,” harap Rita.