JAKARTA, NETRALNEWS.COM— Fenomena tarif ojek online (ojol) yang melonjak usai konser besar kembali menjadi sorotan publik. Setelah kejadian serupa saat konser Coldplay di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada 2023, kini peristiwa itu kembali terulang setelah konser BLACKPINK “Deadline Tour in Jakarta” yang digelar pada 1–2 November 2025. Sejumlah penonton mengaku kesulitan mendapatkan transportasi dengan tarif normal setelah konser selesai. Banyak driver ojol disebut mematikan aplikasi dan menawarkan jasa antar secara offline dengan harga tinggi. Beberapa pengunjung mengaku ditawari tarif antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, bahkan untuk jarak yang tidak terlalu jauh dari kawasan GBK. Video Viral di TikTok, Driver Ojol Tawarkan Harga Tinggi Salah satu unggahan viral datang dari akun TikTok @sastradpr, yang membagikan pengalaman saat keluar dari stadion. Dalam video berdurasi singkat itu, tampak suasana ramai di luar GBK, di mana sejumlah driver berkerumun menawarkan jasa antar secara langsung dengan tarif jauh di atas harga normal. Video tersebut sudah ditonton lebih dari 3,3 juta kali dan langsung menuai banyak komentar dari warganet. Banyak yang merasa kesal dan menilai tindakan para driver sebagai bentuk “aji mumpung.” “Keluar stadion langsung ditawarin 150 ribu padahal jarak cuma 2 kilometer,” tulis salah satu komentar yang disukai ribuan pengguna. Penumpang: “Deal 50 Ribu, Di Tengah Jalan Diminta 500 Ribu” Tidak sedikit penonton yang merasa dirugikan akibat perubahan tarif sepihak. Akun TikTok @grizziee misalnya, membagikan pengalaman tidak menyenangkan saat memesan ojol secara offline usai konser. “Pernah waktu itu deal 50k, di tengah jalan diminta 500k, akhirnya aku minta turun dan dia tetap maksa minta 400k,” tulisnya. Akhirnya, ia hanya membayar Rp200 ribu setelah sempat berdebat di pinggir jalan. Cerita itu langsung memicu banyak reaksi dari pengguna lain yang pernah mengalami kejadian serupa setelah acara besar. Warganet Terbelah: Antara Etika dan Kebutuhan Fenomena ini memunculkan dua kubu di media sosial. Sebagian warganet mengecam perilaku oknum driver ojol yang memanfaatkan situasi ramai untuk menarik keuntungan berlebih. Namun, sebagian lainnya justru membela para driver. Mereka menilai kondisi setelah konser memang sangat padat, akses keluar sulit, dan waktu tunggu lama, sehingga wajar jika tarif menjadi lebih tinggi. “Beli tiket jutaan bisa, masa ngasih rezeki lebih ke ojol aja ngeluh,” tulis akun @WF di kolom komentar. Komentar serupa juga datang dari akun @rheny319 yang menilai penonton konser seharusnya memahami kesulitan para driver di lapangan. “Kalian memperkaya promotor aja gak itungan, kasih sedikit rezeki ke ojol malah ribut,” tulisnya. Diskusi Panas di Media Sosial Perdebatan soal tarif ojol ini terus bergulir di berbagai platform media sosial. Ada yang menilai tindakan menaikkan tarif sebagai pelanggaran etika dan tidak profesional karena dilakukan di luar aplikasi resmi. Namun, tidak sedikit yang berpendapat bahwa kondisi di lapangan memang menuntut penyesuaian harga. Permintaan tinggi dan sulitnya akses keluar dari stadion membuat banyak driver memilih sistem offline agar tetap mendapatkan penghasilan layak. “Kalau macetnya kayak gitu, keluar GBK aja bisa sejam. Wajar aja mereka minta lebih,” tulis salah satu komentar pengguna TikTok lainnya. Fenomena Berulang Usai Konser Besar Kenaikan tarif ojol usai konser bukan hal baru. Kejadian serupa pernah mencuat saat konser Coldplay tahun 2023 di lokasi yang sama. Saat itu, banyak penonton juga mengaku sulit mendapatkan ojol aktif di aplikasi, sementara yang menawarkan secara offline memasang harga tinggi. Situasi ini menunjukkan bahwa kebutuhan transportasi setelah acara besar di ibu kota masih belum tertangani dengan baik. Padatnya area sekitar stadion dan lonjakan penumpang membuat sistem daring sering kali tidak stabil. *Publik Harapkan Pengawasan Lebih Baik* Fenomena ini kembali memunculkan harapan agar ada pengawasan dan koordinasi yang lebih baik antara pihak penyelenggara konser, aparat keamanan, dan perusahaan transportasi daring. Masyarakat menilai, penertiban perlu dilakukan agar tidak ada lagi praktik menaikkan tarif secara sepihak yang merugikan penumpang. Banyak warganet juga berharap pengguna bisa lebih bijak, serta para driver tetap menjunjung etika kerja agar kepercayaan publik terhadap layanan ojol tidak menurun. (Sumber: okezone.women)