JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gelaran Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur resmi berakhir dengan menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031. Meski demikian, hasil ini menyisakan catatan kritis dari arus bawah, salah satunya datang dari tokoh warga NU dan kiai kampung asal Situbondo, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur. Dalam catatan pamungkasnya, Gus Lilur melahirkan sebuah akronim satir untuk menggambarkan dinamika politik yang terjadi di arena muktamar: “Papi Umba Pakocir”, yang merupakan singkatan dari Panglima pergi umrah tiba-tiba, pasukan kocar-kacir. Akronim tersebut merujuk pada “hilangnya”Ketua Umum PKB Gus Muhaimin Iskandar secara mendadak dari arena muktamar pada malam pemungutan suara yang paling menentukan. Padahal sebelumnya, kekuatan PKB dinilai serius mengawal pemenangan Buya Said Aqil Siradj. Optimisme itu sempat menguat setelah Buya Said masuk dalam sembilan besar anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dengan raihan 273 suara. "Sampai kemudian, pada malam yang paling menentukan, Gus Muhaimin tiba-tiba hilang dari arena. Ditelepon tidak diangkat. Di-WA gak dibalas. Belakangan diketahui beliau sedang berada di atas pesawat, dalam perjalanan umrah," ungkap Gus Lilur dalam catatannya, Senin (31/8/2026). “Umrah tentu mulia. Tidak ada satu pun warga NU yang pantas mencelanya. Tetapi meninggalkan gelanggang pada malam pemungutan suara ketika ribuan orang sedang menunggu, menyisakan satu pertanyaan besar yang sampai hari ini belum terjawab, mengapa harus malam itu?” sambungnya. Menurut Gus Lilur, absennya sang "panglima" di momen krusial mengulang pola intervensi penguasa seperti yang terjadi pada Muktamar Ke-34 di Lampung. Ia menilai ada skenario besar dari pihak luar yang membuat peta suara berbalik, sehingga memupuskan harapan agar NU bisa merdeka memilih pemimpin tanpa intervensi politik. Selain menyoroti hilangnya tokoh kunci, Gus Lilur juga mengkritik keras perubahan aturan main di tengah forum. Melalui Sidang Pleno III, disepakati bahwa Ketua Umum PBNU tidak lagi dipilih langsung oleh muktamirin, melainkan ditetapkan oleh AHWA dari lima nama hasil penjaringan, sebuah keputusan yang didukung oleh 401 dari 552 pemilik suara. "Mengubah aturan main di ambang kontestasi, apa pun niatnya, selalu membuka syak wasangka. Maka berdasarkan seluruh fakta itu, mereka bukan menang. Tapi dimenangkan," tegasnya. Meski melayangkan kritik tajam terhadap proses suksesi yang dianggap penuh intervensi penguasa, Gus Lilur tetap menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin. Ia berharap kepemimpinan baru ini dapat membawa kemaslahatan bagi umat. “Selamat dan sukses atas terselenggaranya Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama. Selamat kepada KH Miftachul Akhyar dan kepada Gus Kikin. Semoga amanah itu membawa maslahat bagi umat,” ucap Gus Lilur. Di akhir catatannya, Gus Lilur menegaskan komitmennya untuk tetap menyuarakan gerakan moral yang konsisten ia dengungkan. “Seperti lima tahun yang telah berlalu, untuk lima tahun yang akan datang, saya tetap akan melantangkan satu slogan yang sama: Ber-NU tanpa ber-PBNU”. “Sebab NU itu bukan kantor. NU itu cara beragama. Ia hidup di langgar-langgar, di majelis tahlil, di pengajian selepas maghrib, di khidmah para kiai kampung yang tidak pernah masuk daftar hadir muktamar mana pun. Kantor boleh berganti penghuni. Cara beragama tidak boleh berganti pemilik,” pungkas Gus Lilur.