TEHERAN - Peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin terbuka setelah sejumlah pejabat dari Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara mediator mengindikasikan adanya perkembangan positif dalam proses diplomasi yang sedang berlangsung. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa kesepakatan terkait pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi tercapai dalam waktu dekat. Dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa (4/8), Bessent mengatakan peluang mencapai kesepakatan sangat besar dan dapat terwujud dalam hitungan hari. Menurutnya, langkah tersebut akan menjadi pintu masuk menuju normalisasi situasi yang selama ini memicu ketegangan di kawasan. Pernyataan senada disampaikan Presiden AS Donald Trump, yang mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Iran berjalan cukup baik. Namun, Trump juga memperingatkan bahwa Teheran dapat menghadapi konsekuensi serius apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali. Sebelumnya, Trump menyebut proses diplomasi yang berlangsung saat ini sebagai peluang terakhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan Washington. Meski demikian, pemerintah Iran membantah adanya perundingan langsung dengan Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan dengan Washington. Menurut Baghaei, pembahasan yang saat ini berlangsung hanya dilakukan antara Iran dan Oman, dengan fokus pada pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Ia menjelaskan bahwa diskusi tersebut berjalan positif baik dari sisi teknis maupun politik. Iran dan Oman disebut tengah menyusun mekanisme baru yang dapat menjamin kelancaran pelayaran sekaligus menjaga kepentingan kedaulatan serta keamanan kedua negara. Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa koridor pelayaran baru yang sedang dibahas nantinya berpotensi menggantikan jalur utara dan selatan yang selama ini digunakan kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui adanya perkembangan dalam negosiasi yang melibatkan Oman dan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa pembicaraan tersebut masih belum mencapai tahap final. Sementara itu, Qatar turut mengonfirmasi bahwa proses mediasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung. Kedua pihak disebut terus bertukar draf kesepakatan sebagai bagian dari upaya mencari solusi diplomatik. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari mengatakan pembahasan telah memasuki tahap yang sangat maju. Ia menambahkan bahwa Qatar, Oman, dan Pakistan bekerja sama secara intensif untuk memfasilitasi komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran. Menurut Al Ansari, fokus utama para mediator saat ini adalah mencegah eskalasi konflik, membuka kembali Selat Hormuz, serta menciptakan ruang bagi berlanjutnya dialog diplomatik antara kedua pihak. Apabila kesepakatan berhasil dicapai, pembukaan kembali Selat Hormuz diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas perdagangan dan distribusi energi global, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran minyak paling penting di dunia.