JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat meningkat hingga mendekati 6 persen pada semester II 2026. Keyakinan tersebut muncul setelah perekonomian nasional mencatat pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II 2026. Menurut Purbaya, capaian pertumbuhan pada periode April–Juni 2026 tersebut tergolong positif mengingat kondisi ekonomi global saat itu masih menghadapi berbagai tekanan, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang turut memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. “Pertumbuhan 5,29 persen merupakan hasil yang cukup baik jika melihat tantangan eksternal yang terjadi pada saat itu,” ujarnya dalam taklimat media di Jakarta, Rabu. Untuk menjaga momentum pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini, pemerintah menyiapkan berbagai langkah guna mengoptimalkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi. Salah satu strategi yang ditempuh adalah meningkatkan likuiditas di pasar serta mendorong penurunan tingkat suku bunga. Pemerintah juga berupaya menekan biaya pendanaan yang diterapkan sejumlah special mission vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan agar sektor perbankan dapat menyalurkan kredit dengan bunga yang lebih kompetitif. Purbaya menilai langkah tersebut dapat membantu meningkatkan aktivitas investasi dan konsumsi, yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Terkait melambatnya kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB), ia menegaskan bahwa kondisi tersebut belum tentu mencerminkan pelemahan sektor manufaktur secara keseluruhan. Menurutnya, pemerintah akan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan pada semester II 2026 untuk memperkuat sektor manufaktur, terutama dengan memanfaatkan peluang pemulihan permintaan global yang mulai terlihat. Sementara itu, mengenai pertumbuhan ekonomi di kawasan Maluku dan Papua yang hanya mencapai 1,36 persen secara tahunan, Purbaya mengakui masih diperlukan upaya lebih besar untuk menggerakkan perekonomian di wilayah tersebut. Pemerintah berencana berkoordinasi dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) guna menyusun strategi yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menciptakan sumber pertumbuhan baru di kawasan tersebut. “Kami akan mendalami faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan di sana dan memastikan ada mesin pertumbuhan ekonomi yang dapat diaktifkan,” kata Purbaya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II 2025, namun sedikit lebih rendah dibandingkan capaian triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen. Hampir seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen. Sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah pengadaan listrik dan gas yang tumbuh 10,81 persen, disusul penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 10,60 persen. Di sisi lain, sektor industri pengolahan yang menjadi kontributor utama perekonomian nasional tumbuh 4,52 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,68 persen. Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 3,73 persen setelah pada triwulan I mengalami kontraksi 0,77 persen. Dengan hasil tersebut, pertumbuhan ekonomi kumulatif selama semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Dari sisi wilayah, seluruh kelompok provinsi mencatat pertumbuhan positif. Kawasan Bali dan Nusa Tenggara menjadi wilayah dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 6,10 persen, diikuti Jawa (5,65 persen), Sulawesi (5,53 persen), dan Sumatera (5,06 persen). Sementara itu, Kalimantan tumbuh 4,10 persen, sedangkan Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan paling rendah yakni 1,36 persen. Sumber: Antara