JAKARTA, NETRALNEWS.COM— Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan pembongkaran tiang monorel terbengkalai di Jalan HR Rasuna Said bukan sekadar pekerjaan teknis. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan, penataan kawasan ini disiapkan dengan anggaran Rp100 miliar, mencakup pembongkaran, perbaikan jalan, hingga penataan trotoar. Proyek ini disampaikan Pramono saat berada di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Minggu (11/1/2026), dan dijadwalkan mulai dilaksanakan pekan depan. Jalan HR Rasuna Said dikenal sebagai salah satu jalur utama dengan aktivitas tinggi. Karena itu, penataan kawasan ini dinilai penting. Anggaran Bukan Hanya untuk Bongkar Pramono menjelaskan, anggaran Rp100 miliar tidak difokuskan semata-mata pada pembongkaran tiang monorel. Porsi terbesar justru diarahkan untuk memperbaiki kondisi jalan dan trotoar di sepanjang ruas tersebut. Menurutnya, biaya teknis pembongkaran tiang monorel sendiri relatif kecil. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana kawasan itu kembali rapi dan nyaman digunakan. Banyak yang selama ini melintas di kawasan tersebut merasakan dampak tiang monorel yang terbengkalai. Jalan dan Trotoar Ikut Dirapikan Selain jalan, penataan juga menyasar trotoar. Pramono menyebut, proyek ini mencakup perapihan kawasan secara menyeluruh, bukan pekerjaan parsial. Trotoar menjadi salah satu elemen yang akan dibenahi agar lebih tertata. Biasanya, trotoar yang nyaman memberi ruang lebih aman bagi pejalan kaki. Langkah ini menjadi bagian dari upaya merapikan wajah kota di kawasan bisnis Jakarta. Pembongkaran Dimulai Pekan Depan Pembongkaran tiang monorel dijadwalkan mulai dilakukan pada pekan depan. Pramono menyampaikan rencana untuk mengundang mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dalam kegiatan pembongkaran tersebut. Rencana ini disebut sebagai simbol pembersihan kawasan sekaligus penataan ulang Jalan HR Rasuna Said. Jalan yang selama ini dipenuhi tiang terbengkalai diharapkan kembali rapi. Pelan-pelan, kawasan ini akan berubah wajah. Fokus pada Penataan Kawasan Pramono menegaskan, pendekatan yang diambil Pemprov DKI Jakarta bukan hanya menyelesaikan satu masalah. Pembongkaran dilakukan bersamaan dengan penataan, agar hasilnya terasa lebih menyeluruh. Menurutnya, jika hanya membongkar tanpa perbaikan lanjutan, manfaatnya akan terbatas. Karena itu, opsi penataan dipilih sejak awal perencanaan. Cara ini dinilai lebih masuk akal untuk jangka panjang. Jalan Rasuna Said sebagai Akses Vital Jalan HR Rasuna Said merupakan salah satu akses vital di Jakarta. Banyak kendaraan melintas setiap hari, dengan aktivitas perkantoran yang padat. Kondisi jalan dan lingkungan sekitar menjadi faktor penting bagi kelancaran mobilitas. Penataan kawasan ini diharapkan memberi dampak langsung bagi pengguna jalan. Meski begitu, Pemprov DKI tidak menjanjikan hasil instan. Menata Kota Secara Bertahap Pembongkaran tiang monorel menjadi salah satu langkah dalam penataan kota yang dilakukan secara bertahap. Pramono menyampaikan, proyek ini dirancang agar kawasan terlihat lebih tertib dan fungsional. Biasanya, perubahan wajah kota memang membutuhkan waktu. Prosesnya tidak selalu cepat, tapi diarahkan agar berkelanjutan. Pilihan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi lapangan. Penataan Jalan HR Rasuna Said menjadi gambaran pendekatan Pemprov DKI Jakarta dalam merapikan kota. Tidak hanya membongkar, tetapi juga memperbaiki dan menata ulang kawasan. Langkah ini membuka opsi baru bagi wajah jalan utama Jakarta ke depan. Pelan, tapi diarahkan lebih rapi dan tertata.