NAGEKEO, NETRALNEWS.COM - Bayi berusia tiga bulan itu tidur di atas kasur tipis. Di sampingnya, sang ibu terbaring beralaskan tikar, berusaha mencari ruang di tengah sempitnya tenda darurat.Di luar, kehidupan tetap berjalan. Namun bagi keluarga Yohanes Roga, hari-hari setelah gempa terasa berbeda. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung kini tak lagi aman untuk dihuni.Yohanes, yang akrab disapa Joni, hanya bisa membangun tenda seadanya di halaman rumah. Tiang-tiang sederhana dipasang, sementara terpal dijadikan dinding sekaligus atap. Di sanalah Joni, istri, bayi perempuan mereka yang baru berusia tiga bulan, serta ibunya yang sudah lanjut usia menjalani malam demi malam. Sudah dua minggu sejak gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Bagi sebagian orang, dua minggu mungkin sekadar waktu yang berlalu seperti biasa. Bagi Joni, waktu itu berarti dua minggu tidur dalam kecemasan, dua minggu hidup tanpa rumah yang layak, dan dua minggu berusaha memastikan keluarganya tetap bertahan. Joni merupakan warga RT 12, Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Gempa mengubah kehidupan keluarganya dalam hitungan detik. Rumah yang selama ini menjadi tempat mereka menggantungkan rasa aman mengalami kerusakan berat hingga tak lagi layak ditempati. Sesaat setelah gempa, Joni membawa keluarganya mengungsi secara mandiri ke Penginanga, Kelurahan Lape. Mereka bertahan di sana sekitar satu minggu. Bukan hanya karena rumahnya rusak. Informasi mengenai potensi tsunami juga membuat Joni memilih menjauh dari rumah demi keselamatan keluarganya. Setelah peringatan tsunami dicabut, Joni kembali ke rumah. Namun kepulangan itu bukan berarti kehidupan kembali normal. Rumahnya masih berdiri dalam kondisi yang tidak aman. Sementara kebutuhan hidup tidak mungkin berhenti hanya karena bencana. Joni harus kembali bekerja sebagai petani sawah. Ia kemudian memilih jalan yang paling mungkin dilakukan, yakni membangun tenda darurat di halaman rumah. Di tempat sederhana itulah kehidupan keluarganya berlangsung hingga hari ke-13 setelah gempa. Di balik kisah tentang rumah yang rusak, ada tanggung jawab keluarga yang jauh lebih besar. Joni merupakan anak tunggal. Setelah ayahnya meninggal dunia, tanggung jawab untuk merawat ibunya berada di pundaknya. Kini tanggung jawab itu bertambah. Joni telah memiliki istri dan seorang bayi perempuan yang lahir pada 4 Mei 2026. Usia sang anak bahkan belum genap empat bulan ketika gempa mengguncang Flores. Dalam satu tenda sederhana, empat anggota keluarga itu harus berbagi ruang untuk tidur, beristirahat, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Bagi keluarga yang memiliki bayi dan orang tua lanjut usia, tenda darurat tentu bukan tempat yang ideal. Namun bagi Joni, pilihan yang tersedia memang terbatas. Ia tidak memiliki banyak pilihan selain bertahan. Di tengah situasi tersebut, Joni mengaku masih berjuang sendiri. Ia mengatakan belum merasakan bantuan berarti untuk memperbaiki rumahnya yang rusak. Namun Joni tidak menyampaikannya dengan kemarahan. Nada bicaranya justru terdengar pasrah, tetapi masih menyimpan harapan. “Saya secara pribadi sudah bersyukur sekali, saya dan keluarga bisa selamat dalam kejadian gempa ini. Kalau ada yang mau bantu, terima kasih. Kalau tidak pun kita tetap bersyukur,” ujar Joni. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat gambaran tentang seorang kepala keluarga yang berusaha menerima keadaan, sembari tetap berharap ada perhatian terhadap kondisi keluarganya. Ia tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Ia hanya ingin rumahnya kembali menjadi tempat yang aman bagi ibu, istri, dan anaknya. Sebagai seorang ayah sekaligus anak, Joni tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia harus memastikan bayi kecilnya dapat tidur dengan tenang dan ibunya yang telah lanjut usia tidak terus-menerus hidup dalam kondisi serba terbatas. Kisah Joni bukan satu-satunya. Di Desa Marapokot, dampak gempa terlihat dari banyaknya rumah warga yang mengalami kerusakan. Data yang dihimpun media ini mencatat sebanyak 279 rumah terdampak gempa di Desa Marapokot. Dari jumlah tersebut, 113 rumah mengalami rusak berat, 77 rumah rusak sedang, dan 89 rumah rusak ringan. Di balik angka-angka tersebut terdapat keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan rasa aman, dan harus mencari cara sendiri untuk bertahan. Ada yang mengungsi ke rumah keluarga. Ada yang bertahan di tempat pengungsian. Ada pula yang, seperti Joni, memilih tetap berada di sekitar rumahnya dengan mendirikan tenda darurat. Sore mulai turun ketika aktivitas di sekitar tenda perlahan berkurang. Di dalam tenda, kehidupan keluarga Joni terus berlangsung dengan segala keterbatasannya. Sang bayi masih terlalu kecil untuk memahami bahwa rumahnya telah berubah menjadi tenda. Sang ibu hanya bisa berharap keadaan segera membaik. Sementara Joni harus kembali memikirkan sawah dan pekerjaan yang menjadi sumber penghidupan keluarganya. Bencana memang telah berlalu, tetapi bagi mereka, dampaknya belum selesai. Gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah. Namun rasa takut dan ketidakpastian masih tinggal di dalam tenda-tenda para penyintas. Joni hanya berharap pemerintah tidak berhenti pada pendataan. Ia berharap ada langkah nyata untuk membantu keluarga yang rumahnya sudah tidak layak dihuni. Sebab bagi keluarga kecil seperti keluarga Joni, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat seorang bayi tumbuh, seorang ibu lanjut usia merasa aman, dan sebuah keluarga menata kembali harapan setelah bencana. Setelah dua minggu bertahan, Joni masih menunggu satu hal sederhana: kembali memiliki rumah yang aman untuk keluarganya.