TEHERAN - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang disepakati Iran dan Amerika Serikat (AS) sejalan dengan kepentingan Iran, kawasan Asia Barat, maupun dunia. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (29/8). Pezeshkian menyampaikan hal itu dalam sebuah upacara yang berlangsung di Teheran, ibu kota Iran. Menurut pernyataan yang dipublikasikan melalui situs web kantornya, ia menilai penerapan MoU tersebut dapat mencegah AS dan Israel menciptakan kekacauan, melakukan agresi, serta memicu ketidakamanan di kawasan. Kondisi itu juga dinilai dapat membuka kesempatan bagi negara-negara di kawasan untuk bergerak menuju stabilitas dan pembangunan. Dalam kesempatan tersebut, Pezeshkian juga menekankan pentingnya menggagalkan "rencana jahat musuh". Menurutnya, hal itu dapat dilakukan dengan memperkuat persatuan serta solidaritas di antara negara-negara Muslim. Ia menegaskan bahwa Iran tidak pernah menjadi negara yang memulai perang. "Kami tidak menginginkan perang, tetapi akan melawan setiap agresor dengan tegas, dan tidak ada kekuatan yang dapat memaksa sebuah bangsa yang teguh berdiri dengan segenap kekuatan dan tekadnya, untuk menyerah." Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada Sabtu (29/8) memperingatkan adanya upaya "besar" untuk memengaruhi pasar energi global demi kepentingan tertentu. Melalui unggahan di media sosial, ia mengatakan langkah tersebut bertujuan memperoleh keuntungan pribadi sekaligus memperpanjang perang AS melawan Iran. Pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam Iran secara terpisah melaporkan keberhasilan pasukan keamanan dalam memberikan pukulan "telak" terhadap tim "teroris" yang disebut memiliki keterkaitan dengan AS dan Israel. Operasi tersebut berlangsung di Provinsi Sistan dan Baluchestan, Iran tenggara, dan mengakibatkan satu anggota tim tewas serta enam lainnya ditangkap. Konflik antara kedua pihak sebelumnya meningkat setelah Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran serta sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke Israel, pangkalan, serta aset AS di kawasan tersebut. Pada saat yang sama, Iran memperketat pengawasan terhadap Selat Hormuz. Selanjutnya, pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani MoU yang bertujuan mengakhiri perang di seluruh front di kawasan tersebut. Kesepakatan itu menetapkan bahwa kedua negara akan menggelar perundingan dalam waktu 60 hari, dengan batas akhir 17 Agustus, untuk menghasilkan kesepakatan final. Akan tetapi, perkembangan perundingan tersebut masih belum diketahui secara pasti setelah hubungan kedua negara kembali mengalami eskalasi pada bulan lalu.