JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Ratusan santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Sidoarjo, Jawa Timur, dibawa ke layanan kesehatan. Mereka merasa tidak enak badan setelah ikut program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian ini muncul pada awal September 2026. Banyak orang langsung menyoroti karena jumlah yang terkena cukup besar. Menurut laporan Reuters, lebih dari 500 siswa di Sidoarjo mengalami gangguan kesehatan setelah makan dari program pemerintah itu. Ratusan Santri Mengalami Gejala Ratusan santri disebut mulai mengeluh setelah mengonsumsi menu MBG. Ada yang harus dirawat di rumah sakit. Ada juga yang hanya dipantau dulu dan kemudian bisa pulang. Badan Gizi Nasional (BGN) turun untuk menelusuri penyebabnya. Dapur yang diduga terkait dengan kejadian itu dihentikan untuk sementara selama 30 hari. Waktu itu dipakai sambil menunggu hasil pemeriksaan. Keputusan ini memperlihatkan bahwa masalahnya tidak hanya soal penyaluran makanan. Pengawasan keamanan pangan dalam program nasional ikut jadi perhatian. Penyebab keracunan masih belum dipastikan Gangguan kesehatan itu muncul setelah para santri makan MBG. Namun, alasan yang benar belum bisa ditetapkan sekarang. Tim masih menelusuri makanan yang disajikan dan cara pembuatannya. Pemeriksaan seperti ini penting. Keracunan makanan bisa datang dari banyak hal. Bisa dari bahan baku. Bisa juga dari cara memasak. Termasuk soal kebersihan alat. Lalu cara penyimpanan. Selain itu, lamanya makanan disimpan sebelum akhirnya dimakan. Karena banyak kemungkinan, menyebut satu jenis makanan sebagai sumbernya terlalu cepat juga tidak tepat. Lebih aman menunggu hasil pemeriksaan selesai. Evaluasi MBG harus jalan terus Kasus di Sidoarjo memberi pelajaran bahwa MBG tidak hanya dinilai dari jumlah porsi yang dibagikan. Kualitas pangan tetap harus dijaga. Keamanan makanan juga harus ikut jadi ukuran utama. Untuk program yang menyasar penerima dalam jumlah besar, pengawasan tidak boleh cuma satu tahap. Setiap dapur perlu memastikan hal-hal dasar berjalan. Kebersihan tempat dan alat. Cara pengolahan. Penyimpanan. Sampai proses kirim ke penerima. Dari sisi aturan, kejadian ini seharusnya jadi dorongan untuk memperbaiki cara evaluasi. Tapi tujuan MBG tetap harus dijaga. Dapur yang diduga ikut berperan memang bisa dihentikan sementara. Setelah itu, temuan investigasi perlu disampaikan dengan jelas. Pada akhirnya, makanan untuk anak harus aman dari awal sampai akhir. Mulai dari proses produksi. Lalu saat dipindah dan disimpan. Sampai tiba di meja penerima. Kasus Sidoarjo menegaskan bahwa keamanan pangan adalah bagian inti dari MBG, bukan sekadar tambahan.