SUKOANYAR – Kebiasaan mengirim pesan kepada guru tanpa salam, membalas chat secara singkat tanpa etika, hingga mengandalkan aplikasi kecerdasan buatan untuk menyelesaikan tugas sekolah menjadi fenomena yang mulai banyak ditemui di kalangan pelajar Desa Sukoanyar. Berangkat dari keresahan tersebut, Mahasiswa BBM-UM (Belajar Bersama Masyarakat Universitas Negeri Malang) menyelenggarakan Sosialisasi Santun Bermedia Sosial bagi siswa SMP di Desa Sukoanyar pada rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tepatnya pada 21 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi digital sekaligus menanamkan etika berkomunikasi di ruang digital melalui pendekatan diskusi interaktif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Ketika Teknologi Canggih Bertemu Kebiasaan yang Belum Siap Penelusuran yang dilakukan Mahasiswa BBM-UM bersama guru-guru di Desa Sukoanyar menunjukkan adanya persoalan yang cukup meresahkan, yakni penyalahgunaan teknologi oleh sebagian siswa. Guru menemukan kecenderungan siswa memanfaatkan aplikasi kecerdasan buatan untuk mengerjakan tugas sekolah tanpa melalui proses berpikir mandiri. Selain itu, banyak siswa masih belum memahami etika dasar dalam berkomunikasi secara digital, seperti menyapa guru dengan sopan, menggunakan bahasa yang santun, maupun menyampaikan keperluan secara jelas saat menghubungi guru melalui aplikasi pesan. Ironisnya, sekolah-sekolah di Desa Sukoanyar sebenarnya telah didukung fasilitas pembelajaran yang memadai, seperti Chromebook dan Interactive Flat Panel. Namun, kemajuan teknologi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan siswa dalam menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab, terutama ketika berada di luar lingkungan sekolah. Suara dari Masyarakat: Perlu Edukasi yang Menjangkau Anak Muda Kebutuhan akan edukasi literasi digital juga disampaikan masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua RT 2 RW 5, selama ini belum pernah ada sosialisasi yang secara khusus membahas etika bermedia sosial bagi anak-anak dan remaja di luar kegiatan belajar mengajar di sekolah. Masyarakat berharap hadirnya program yang mampu memberikan pemahaman mengenai penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, sehingga pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Memanfaatkan Momentum MPLS untuk Menanamkan Etika Digital Menjawab kebutuhan tersebut, Mahasiswa BBM-UM merancang program Sosialisasi Santun Bermedia Sosial dengan sasaran siswa SMPI Al-Faqih Desa Sukoanyar. Pelaksanaan kegiatan dipilih bertepatan dengan MPLS agar materi dapat diterima sejak awal oleh peserta didik baru. Momentum ini dinilai tepat karena siswa sedang memasuki lingkungan belajar yang baru dan mulai membangun pola komunikasi dengan guru maupun teman sebaya. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menggunakan media sosial secara bijak, memahami etika berkomunikasi digital, serta memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, secara bertanggung jawab sebagai sarana belajar, bukan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas. Sosialisasi Interaktif: Belajar dari Pengalaman Sehari-hari Berbeda dengan penyuluhan yang bersifat satu arah, kegiatan dikemas dalam bentuk diskusi interaktif. Tim KKN mengajak siswa berbagi pengalaman mengenai kebiasaan mereka menggunakan media sosial, mulai dari cara menghubungi guru melalui aplikasi pesan, etika berkomentar di media sosial, hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam proses belajar. Melalui berbagai contoh kasus yang dekat dengan kehidupan siswa, peserta diajak memahami bahwa kesantunan tetap harus dijaga meskipun komunikasi dilakukan melalui layar ponsel. Mereka juga didorong untuk lebih kritis dalam memanfaatkan teknologi sehingga mampu membedakan penggunaan AI sebagai alat bantu belajar dengan praktik yang menghilangkan proses berpikir mandiri. Menanamkan Kesantunan sebagai Bekal Menghadapi Era Digital Melalui kegiatan ini, tim KKN berharap siswa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai etika bermedia sosial serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesantunan dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media digital, menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat. Lebih dari sekadar mengenalkan aturan berkomunikasi, sosialisasi ini diharapkan mampu membentuk budaya digital yang sehat di lingkungan sekolah dan masyarakat. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi generasi yang melek teknologi, tetapi juga mampu menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dalam setiap interaksi di ruang digital.