JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan mulai meluas di sebagian besar wilayah Indonesia pada November 2026. Sementara itu, periode Agustus hingga September 2026 diprediksi masih menjadi puncak musim kemarau di sebagian besar daerah. Prakiraan iklim BMKG menunjukkan adanya transisi yang cukup jelas dari musim kemarau menuju musim hujan selama periode tiga bulan ke depan. Peta prakiraan iklim yang dirilis BMKG memperlihatkan dominasi warna cokelat hingga cokelat tua pada bulan Agustus dan September sebagai indikasi kondisi kemarau yang masih kuat. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa pola warna pada peta prakiraan memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi iklim di berbagai wilayah Indonesia. "Bisa kita lihat bersama juga di wilayah sekitar pesisir Riau, Sumatera Utara, dan juga Aceh di situ warnanya kuning dan bahkan hijau yang menunjukkan hal yang tadi kami sampaikan bahwa di situ memiliki tipe iklim yang berbeda," ujar Ardhasena dalam paparannya. Menurut Ardhasena, pada bulan Oktober mulai terlihat perubahan signifikan pada peta prakiraan iklim. Warna kekuningan mulai muncul lebih banyak dibandingkan bulan September yang menandakan awal musim hujan mulai memasuki wilayah barat Indonesia. "Untuk bulan Oktober, di situ kita melihat warna kekuningan mulai muncul lebih banyak dibandingkan bulan September," jelasnya. Memasuki bulan November, area berwarna kuning diperkirakan semakin meluas secara signifikan. Ardhasena memaparkan bahwa mayoritas wilayah Indonesia akan didominasi warna kekuningan pada peta prakiraan iklim di bulan tersebut. "Jadi bulan November kita lihat gambarnya di kanan bawah itu mayoritas warnanya sudah kekuningan, sudah mulai masuk musim hujan," bebernya. Dalam kesempatan yang sama, Ardhasena juga menjelaskan terkait fenomena El Nino yang masih berlangsung hingga awal tahun 2027. Ia menekankan bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua fenomena yang berbeda, meskipun kerap dikaitkan oleh masyarakat. "Kemarau tidak sama dengan El Nino. Jadi El Nino-nya masih berlangsung hingga awal tahun 2027, tetapi dampaknya di kita itu selesai mulai pertengahan bulan Oktober, lalu berlanjut ke November," tutur Ardhasena. Ia menjelaskan bahwa meskipun El Nino masih aktif hingga awal 2027, dampaknya terhadap Indonesia mulai berkurang secara bertahap. Periode pertengahan Oktober menjadi titik di mana pengaruh El Nino terhadap kondisi cuaca di Indonesia mulai mereda. BMKG juga memaparkan prakiraan sifat hujan bulanan untuk periode Agustus hingga November 2026. Pada bulan Agustus dan September, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masih mengalami curah hujan di bawah normal. Kondisi ini sejalan dengan puncak musim kemarau yang terjadi di sebagian besar daerah. Memasuki bulan Oktober, kondisi hujan diperkirakan mulai berubah. Beberapa wilayah mulai menunjukkan curah hujan yang mendekati normal, seiring dengan mulai masuknya musim hujan di wilayah barat Indonesia. Pada bulan November, kondisi hujan di wilayah Indonesia semakin membaik. Ardhasena menjelaskan bahwa meskipun Pulau Jawa masih tercatat mengalami curah hujan di bawah normal pada November, hujan sudah mulai datang dan memasuki wilayah tersebut. "Bulan Oktober dan November kita mulai muncul warna kuning yang menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia mulai normal. Walaupun juga kita lihat di bulan November itu hujan di pulau Jawa, misalkan, masih di bawah normal tetapi hujannya sudah mulai datang dan masuk ke wilayah Pulau Jawa," tuturnya. Prakiraan BMKG ini menjadi penting bagi berbagai sektor, termasuk pertanian, perkebunan, dan pengelolaan sumber daya air dalam melakukan perencanaan dan antisipasi menghadapi perubahan musim di Indonesia. ***