SURABAYA – Dalam upaya menekan tingkat kerentanan sosial dan memperkuat sistem keamanan di kawasan padat penduduk, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menginisiasi penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS). Langkah konkret ini difokuskan pada lingkungan RT 10 dan RT 11, RW 11, Kelurahan Pegirian, guna merespons risiko kriminalitas yang kerap memanfaatkan kontur labirin gang sempit di wilayah tersebut. Selama ini, ketahanan lingkungan di kawasan Pegirian masih sangat bergantung pada metode tradisional. Saat terjadi keadaan darurat, warga mengandalkan pukulan kentongan kayu atau tiang listrik. Namun, di tengah tingginya tingkat kebisingan perkotaan, metode ini menjadi kurang efektif karena suaranya kerap luput dari pendengaran, sehingga memperlambat waktu respons warga. Sirine Elektronik Sebagai Alat Bantu Utama Siskamling Untuk merevitalisasi fungsi Sistem Keamanan Keliling (Siskamling), infrastruktur berupa sirine elektronik dan panic button (tombol panik) diimplementasikan sebagai alat bantu keamanan modern. Peralatan ini dirancang untuk mendistribusikan sinyal bahaya secara instan dan lebih terstruktur. Sebagai instrumen penguatan keamanan desa, sistem EWS ini menawarkan keunggulan strategis: Efek Kejut Instan (Shock Therapy): Output suara berdesibel tinggi difungsikan untuk memecah keheningan secara ekstrem, yang bertujuan menciutkan nyali pelaku tindak kriminal (seperti curanmor) seketika saat mereka beraksi. Efisiensi Waktu Tanggap: Mengeliminasi kebutuhan warga untuk berlari keliling kampung sambil berteriak. Cukup dengan aktivasi sistem, peringatan bahaya langsung menyebar. Integrasi Alat dengan SOP Keamanan Terpadu Lebih dari sekadar pemasangan alat, inovasi ini berfungsi optimal karena dipadukan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan lingkungan. Fasilitas fisik ini memastikan semua warga memiliki pemahaman yang sama terhadap ritme alarm dan langkah apa yang harus diambil saat sirine berbunyi. Komitmen pemeliharaan juga ditegaskan oleh perangkat kampung setempat, termasuk Ketua RT 11, Mashudi, yang mengintegrasikan perawatan infrastruktur ini secara berkala dengan jadwal siskamling rutin. Melalui transisi dari alat konvensional menuju Teknologi Tepat Guna berbasis sistem elektronik mandiri, diharapkan fondasi ketahanan sosial masyarakat Kelurahan Pegirian menjadi semakin kuat. Integrasi sistem peringatan dini ini menjadi tonggak penting dalam menciptakan lingkungan permukiman yang tanggap, terkoordinasi, dan jauh lebih aman.