PURWOKERTO – Ada pemandangan tak biasa saat lagu Indonesia Raya dan Mars KPU berkumandang di Sekolah Luar Biasa (SLB) B Yakut Purwokerto, Kamis (6/8/2026). Suara memang tak terdengar riuh, namun jemari puluhan siswa disabilitas rungu-wicara menari lincah membentuk gerakan bahasa isyarat. Semangat mereka menyanyikan lagu kebangsaan menjadi pembuka emosional dalam agenda Pendidikan Pemilih yang digelar KPU Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah taktis KPU untuk memutus jurang partisipasi pemilih disabilitas yang secara nasional masih tertahan di angka 43,42% (dan 45,49% di Banyumas). Melalui program ini, KPU menargetkan edukasi politik dapat menjangkau 69.125 penyandang disabilitas di seluruh Indonesia tahun ini. Kepala SLB B Yakut, Wiwi Kusmiyati, menegaskan bahwa pemahaman politik sejak dini sangat krusial bagi anak didiknya yang akan menjadi penentu masa depan dalam Pemilu 2029 mendatang. "Hari ini kita belajar bersama KPU tentang pentingnya hak suara kita," tegas Wiwi di hadapan 31 siswa kelas 9 hingga 12 yang menjadi peserta. Anggota KPU Kabupaten Banyumas, Sufi Sahlan Ramadhan, yang hadir sebagai pemateri menyuntikkan optimisme bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk bersuara. Memilih adalah hak konstitusional mutlak setiap warga negara yang telah genap berusia 17 tahun. Dari Bingung Jadi Paham: Keseruan Simulasi di TPS Tidak hanya berteori, KPU memboyong suasana Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebenarnya ke dalam sekolah. Lengkap dengan bilik suara, kotak suara, hingga petugas KPPS. Para siswa belajar alur mencoblos secara merdeka: mengantre di daftar hadir, menerima surat suara, mencoblos di balik kelambu bilik, memasukkan surat ke kotak, hingga mencelupkan jari ke tinta biru. Pengalaman ini menjadi obat bagi rasa bingung yang sempat dirasakan para pemilih pemula. "Waktu Pemilu 2024 lalu saya sempat bingung di dalam bilik suara karena ukuran kertas suara legislatif yang sangat besar. Hari ini setelah diberi penjelasan KPU, saya jadi paham betul tata caranya," ungkap Fadli, salah satu siswa, menggunakan bahasa isyarat. Hal senada disampaikan Safiq, siswa lainnya yang kini mengaku mantap dan siap menyalurkan hak suaranya pada Pemilu 2029 nanti. Simulasi di SLB B Yakut Purwokerto menjadi bukti nyata bahwa kelompok disabilitas memiliki kapasitas yang setara. Mewujudkan Pemilu yang inklusif bukan lagi sekadar wacana regulasi di atas kertas, melainkan perjuangan bersama untuk memastikan tidak ada satu pun hak suara yang tertinggal.