MALANG - Tim UMBBM Tematik Departemen Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang, menvelenggarakan program Edu Forest atau Sekolah Hutan di Balai Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Kegiatan ini dilaksanakan dalam tujuh pertemuan pada tanggal 23, 25, dan 28 Juni serta 6, 13, 20, dan 21 Juli 2026. Setiap pertemuan dihadiri sekitar 20 hingga 25 peserta yang berasal dari PKK, Karang Taruna, Pokmas Gundul Joyo, dan BUMDes Sumberejo. Sekolah Hutan hadir sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan lahan, pembibitan, dan perawatan tanaman. Program ini tidak hanya diarahkan pada kegiatan penanaman, tetapi juga pada pemahaman bahwa keberhasilan pemulihan lahan sangat ditentukan oleh pemilihan tanaman, proses pembibitan, pemeliharaan, serta keterlibatan masyarakat setelah kegiatan selesai. Materi yang diberikan meliputi agroforestri untuk membangun kembali hutan produktif Desa Sumberejo, pembibitan tanaman kopi, durian, kelengkeng, dan nangka, serta pembuatan pupuk organik cair dan pestisida nabati. Peserta juga mengikuti praktik penyemaian, penanaman tanaman buah tahunan, serta perawatan dan penanganan hama penyakit tanaman. Kegiatan didampingi oleh Bapak Unggul Tranggono, ST, Bapak Safril Adi Nugroho, A.Md.P, Ibu Rina Dian Retnowati, dan Bapak Bayu Darmadi. Materi yang disampaikan melalui pemaparan, diskusi, dan praktik langsung agar peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara teoritis, tetapi juga memahami tahapan yang perlu dilakukan ketika mengelola bibit dan tanaman di lapangan. Pemilihan tanaman buah tahunan menjadi salah satu bagian penting dalam program ini. Tanaman seperti kopi, durian, kelengkeng, dan nangka tidak hanya berperan dalam memperbaiki tutupan lahan, tetapi juga memiliki nilai produktif yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang. Dengan demikian, pemulihan lingkungan yang diharapkan dapat berjalan seiring dengan pengembangan potensi ekonomi desa. Selama pelaksanaan, peserta menunjukkan interaksi yang cukup baik, terutama dalam kegiatan praktik. Namun, jumlah peserta mulai berkurang pada beberapa pertemuan lanjutan. Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi tim pelaksana karena berhentinya program memerlukan kehadiran dan keterlibatan yang konsisten dari kelompok sasaran. Penguatan koordinasi, penyesuaian jadwal, dan pembagian peran antar kelompok perlu dilakukan agar pengetahuan yang telah diberikan dapat diterapkan secara lebih merata. Melalui Sekolah Hutan, masyarakat memperoleh akses pembelajaran yang dekat dengan kebutuhan desa. Praktik penyemaian, pembuatan pupuk organik cair, dan penggunaan pestisida nabati juga memperkenalkan cara pengelolaan tanaman yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Program ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan bersama dalam merawat lahan dan memanfaatkan sumber daya desa secara lebih terencana. "Acaranya cukup baik untuk kelompok sasaran sudah bagus dan sudah cocok dalam program sekolah hutan ini" ujar salah satu peserta dalam sekolah hutan. Rangkajan Sekolah Hutan selanjutnya akan diteruskan melalui program penanaman kembali kawasan hutan gundul di Gunung Gede, Desa Sumberejo. Kegiatan lanjutan tersebut menjadi tahap penting untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh selama pelatihan. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat diharapkan dapat menjaga keberlanjutan program sehingga penanaman tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi diikuti dengan perawatan dan pengelolaan yang konsisten.