JAKARTA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai film memiliki potensi sebagai sarana literasi digital untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal. Menurut Nezar, karya audiovisual dapat menggambarkan dampak praktik judol dan pinjol ilegal secara lebih nyata, termasuk pengaruhnya terhadap korban, keluarga, hingga lingkungan sosial. “Masyarakat bisa melihat bagaimana seseorang masuk ke dalam masalah, bagaimana tekanan berkembang, dan bagaimana dampaknya ikut dirasakan keluarga serta orang-orang di sekitarnya,” ujar Nezar dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu. Pernyataan tersebut disampaikan Nezar ketika menerima audiensi Indonesian Institute of Journalism (IIJ) bersama tim produksi film "Menang untuk Kalah" di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Nezar mengapresiasi kehadiran film "Menang untuk Kalah" yang mengangkat persoalan pinjol ilegal melalui kisah kehidupan sebuah keluarga dalam bentuk drama. Ia menjelaskan bahwa penggambaran dari sisi keluarga penting karena pelaku pinjol ilegal dapat memanfaatkan data dan profiling untuk memberikan tekanan kepada korban. Dampak tekanan tersebut juga dapat meluas, tidak hanya kepada peminjam, tetapi hingga keluarga, teman, dan lingkungan sosialnya. "Para korban pinjol ilegal harus menerima tekanan psikologis yang besar dan tagihan dengan bunga tinggi, bahkan sampai dipermalukan di lingkungannya," katanya. Dengan menggunakan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, film tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa seseorang yang menjadi korban pinjol ilegal tidak selalu meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Dalam kondisi tertentu, keadaan darurat maupun tekanan ekonomi dapat membuat seseorang mengambil keputusan ketika berada dalam situasi sulit. Nezar menilai film seperti "Menang untuk Kalah" juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari program literasi digital yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Menurut dia, pemutaran film dapat dirangkai dengan kegiatan diskusi di kampus, komunitas, maupun ruang publik lainnya. Dengan cara tersebut, pesan dalam film dapat diteruskan melalui pembahasan mengenai keamanan digital dan literasi keuangan. Wamenkomdigi berharap kerja sama antara pemerintah, industri kreatif, media, komunitas, serta berbagai pelaku ekosistem digital dapat memperluas jangkauan edukasi mengenai bahaya pinjol ilegal kepada masyarakat. Film "Menang untuk Kalah" dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 November 2026 dengan Surya Saputra dan Lulu Tobing sebagai pemeran utama. Film tersebut turut melibatkan Jujur Prananto sebagai penulis naskah, yang dikenal sebagai penulis naskah Ada Apa Dengan Cinta, serta Hasto Broto sebagai sutradara.