JAKARTA – Qois Manawa, remaja berbakat asal Jakarta yang lahir pada 21 Desember 2008, menjadi sorotan dengan segudang prestasi membanggakan. Kerap dipanggil Nawa, pemuda berusia 17 tahun ini telah menorehkan jejak gemilang di berbagai bidang, mulai dari kepemimpinan organisasi, kompetisi bela diri, hingga seni public speaking dan fashion show. Saat ini menimba ilmu di PPTQ Al Uyun (dari SD mondok), Nawa membuktikan bahwa disiplin dan ketangguhan mental bisa membuka pintu kesuksesan di usia muda. Prestasi Nawa di dunia kepemimpinan tak tertandingi. Ia berhasil menjadi Top 3 Brand Ambassador DPRI Batch V, calon finalis AYEV, serta calon finalis Changemaker Indonesia Exchange to Singapore and Malaysia dan YGIS. Tak hanya itu, Nawa terpilih sebagai ketua penanggung jawab FPU Organization Summit #Batch3 Konsul Jakarta, delegasi FPU untuk sekolah, top 1 di PKBM Lentera, serta memasuki Pondok Top Indonesia 2019. Ia juga meraih Golden Ticket FPU Organization Summit #Batch3 dan menjadi penerima calon beasiswa fully funded FPU, menjadikannya figur inspiratif bagi generasi muda. Di bidang bela diri, Nawa menunjukkan ketangguhan luar biasa. Ia berhasil menjadi B2B di UKT Al Uyun 2025 dan 2024, B2B Player di Kejurwil Banten, serta komite Kejurwil Banten BB 58kg. Kariernya dimulai sejak dini sebagai B2B Taekwondo Player 2014-2015 di Birens Club, di mana ia meraih juara 2 kyorugi di Jepang. Prestasi ini dilengkapi dengan penampilan karate di KA, serta total 4 medali dan 13 piala yang diraihnya secara keseluruhan. Nawa juga unggul di kompetisi seni dan komunikasi. Ia menjuarai lomba broadcast sepondok 2025 dan 2023, menjadi pembicara di ekskul pidato, serta menjuarai public speaking Bahasa Inggris di pondok pesantren pada 2025 dan 2024. Di fashion show, ia juara tingkat sepondok 2025 dan 2024, finalis Brand Ambassador DPRI Batch V, serta pernah menang di tingkat sekolah TK Azmia, SD Setanggerang, dan TK Setanggerang. Bahkan sejak TK, ia menjadi model Dancow dan juara lomba MHQ tingkat TK Setanggerang. Riwayat pendidikannya yang bergengsi dimulai dari sekolah top saat TK dan SD. Secara keseluruhan, Nawa berhasil mengumpulkan 34 esertifikat dan sertifikat, termasuk 6 dari Coursera, mencerminkan dedikasinya dalam pengembangan diri. Prestasi akademik dan ekstrakurikulernya ini menjadikannya panutan di PPTQ Al Uyun, di mana ia terus mondok sejak SD. Visi Nawa yang kuat tercermin dalam lima pilar utamanya. Voice of Humanity: Membangun narasi kemanusiaan inklusif melalui platform digital dan aksi lapangan untuk memutus rantai isu sosial di lingkungan pendidikan. Strategic Communication: Mengoptimalkan public speaking sebagai instrumen edukasi dan advokasi yang menjembatani ide dengan eksekusi. Mental Toughness: Menerapkan filosofi disiplin dan ketangguhan mental dari bela diri ke kepemimpinan organisasi, membentuk karakter pantang menyerah. Synergy & Leadership: Menggerakkan kolaborasi strategis lintas sektor antar-pelajar untuk memperkuat posisi pemuda sebagai pilar pembangunan masa depan. Creative Branding: Memanfaatkan inovasi teknologi dan komunikasi visual untuk memperluas pesan positif serta membangun ekosistem kepemimpinan modern. Banyak yang melihat 34 sertifikat dan panggung internasionalnya, namun sedikit yang tahu bahwa Qois Manawa pernah dipaksa bungkam oleh perundungan. Inilah kisah tentang bagaimana seorang remaja Jakarta mengubah trauma menjadi 'Mental Toughness' yang membawanya juara hingga ke Jepang." Dulu, Qois Manawa atau yang akrab disapa Nawa pernah merasa dunianya begitu sempit karena bullying. Rasa takut sempat menelan kepercayaan dirinya, membuatnya merasa tak berdaya. Namun, alih-alih menyerah, Nawa memilih untuk 'mengasingkan diri' ke dalam disiplin pesantren sejak usia SD. Di sana, ia menempa luka menjadi baja. Ia melampiaskan amarahnya pada matras bela diri hingga meraih juara di Jepang, dan melatih lidahnya di panggung pidato agar suaranya tak lagi bisa direndahkan. Hari ini, ia berdiri sebagai Top 3 Brand Ambassador DPRI, membuktikan bahwa titik terendah bukanlah akhir, melainkan fondasi untuk membangun visi "Voice of Humanity". Kisah Nawa menginspirasi ribuan pemuda Indonesia. Dari Jakarta, ia membuktikan bahwa kombinasi talenta, kerja keras, dan visi jelas bisa meraih prestasi global. Komunitas pendidikan dan bela diri menyambut hangat perjalanan Nawa, yang diprediksi akan terus bersinar di masa depan.