JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Realisme magis awal mula dikenalkan oleh kritikus dari Jerman yang bermula dari esai yang ditulis oleh Franz Roh (1925), dengan sebuah esai berjudul “Post Expresionites". Pada tahun 1917 Massimo Bontempelli, pangeran Italia, telah menerapkan istilah realisme magis dengan tujuan menelusuri sastra modern, kelahiran realisme magis dalam karya sastra, khas novel. Kesamaan realisme magis, yaitu adanya unsur supranatural juga tidak masuk akal yang diterima dan dianggap wajar sebagai bagian dari aspek kehidupan sehari-hari dalam cerita—yang berpadu di sebuah cerita kompleks sehingga karya sastra menjadi kompleksitas penggabungan ceirta. Para penulis karya sastra, sastrawan Salman Rushdie dalam Warnes (2021:317) mengatakan hal-hal yang tidak mungkin terjadi terus menerus mencakup masuk akal, di tempat terbuka di bawah matahari tengah hari. Jadi kehidupan realitas menjadikan perpaduan dengan magis—yang semestinya tidak ada keanehan dalam kehidupan keseharian. Realisme magis secara terminologi, ada banyak rujukan definisi realisme magis. Tidak hanya sejarahnya yang cukup panjang dan rumit, wacana ini ada dalam beberapa media seni, seperti seni lukis, film, dan sastra. Bahwa realisme merupakan gaya penceritaan di sebuah karangan atau di sebuah lukisan yang akan dihadirkan hal-hal magis sekaligus realis. Wendy B. Faris memberikan tanda untuk menemukan realisme magis, maka terbentuk karakteristik realisme magis sebagai alternatif untuk menemukan unsur magis pada sebuah karya sastra. Ada lima karakteristik; (1) irreducible elemen (elemen tak tereduksi), (2) phenomenal world (dunia fenomenal), (3) unsliting doubt (keraguan yang tak terpecahkan) (4) merging realism (dunia riil dan magis tergabung),(5) disruption of time, space, and identity (gangguan waktu, ruang, dan identitas) ( Faris, 2004:7). Dalam marging realism: theory, history, community, Zamora dan Faris menjelaskan bahwa realisme magis dapat dianggap sebagai perluasan dari gaya realis, namun menggugat kenyataan itu sendiri. Tubuh dan pemikiran, hidup dan mati, nyata dan khayal, diri dan liyan, dan laki-laki dan perempuan, batas-batasan ini yang terlarutkan dan disatukan (1995:6). Hart and Ouyang menyebut magis dapat berarti semua hal yang menentang empirisme, termasuk kepercayaan dalam agama, tahayul, mitos, legenda, voodoo, atau Todorov sebut dengan istilah (uncang marvelous, dan fantastique (2005:14). Namun kalau bergenre sastra fantastique tidak sama dengan genre realisme magis. Todorov ,menjelaskan unsur-unsur fantastik dalam bukunya Introduction A Literature Fantastique (1970). Karya fantasi selalu memiliki keragu-raguan, dan mempertanyakan kebenaran cerita, tentang nyata dan tidak nyata, yang alamiah dan tidak. Tetapi pada gaya penceritaan realisme magis, pembaca diajak percaya bahwa hal-hal magis memang ada dan menjadi kehidupan sehari-hari. Padahal, jika ditelusuri naik melalui narasi maupun deskriptif dalam cerita, kedua unsur tersebut justru berjalan beriringan, tanpa ketegangan, tanpa ada pertanyaan terhadap satu yang lain (Chanardi, 1985). Di Indonesia realisme magis ditandai pada tahun 60-an. Realisme magis muncul dengan membawa narasi penceritaan cukup bekembang dalam sastra postkolonial karena dianggap sebagai alat yang ampuh untuk menunjukkan perlawan terhadap kolonialisme, terutama di negara berkembang yang sebagian besar masyarakatnya dikaburkan masih menderita akibat efek destruktif kolonialisme. Ciri kolonialisme jika dikaitkan dengan cara menemukan narasi pada karya sastra, serta kerja kritik sastra, poskolonial dipahami sebagai suatu kajian tentang bagaimana sastra mengungkapkan jejak perjumpaan kolonial, yaitu konfrontasi antar ras, antarbangsa, dan antar budaya dalam kondisi hubungan kekuasaan tidak setara, yang telah membentuk sebagian yang signifikan dari pengalaman manusia sejak awal zaman imperialisme Eropa (Day dari Foulcher, 2008--3). Jadi, menurut Day dan Folcher, kritik postkolonial adalah strategi membaca sastra yang mempertimbangkan kolonialisme dan dampaknya dalam teks sastra, posisi, atau suara pengamat berkaitan dengan isu tersebut. Pada bahasa lain karya sastra bergenre realisme magis. Atau dengan kata lain juga disebut sebagai gaya penceritaan pada sebuah karya sastra, jika objeknya lukisan, puisi, dan film maka alatnya ‘realisme magis’ untuk menjadikan ketiga karya seni tersebut menjadi lebih menarik serta mudah menyampaikan pesan serta kesan kepada pembaca dan penonton jika pada film. Sehingga, dengan mudah mencapai tujuan seorang penulis untuk menyadarkan masyarakat kita—Indonesia yang kental dengan hal-hal mitos—yang dipercayai. Latar belakang negara yang memiliki kesamaan mengenai penjajahan, Indonesia dijajah oleh Belanda dan Kolombia juga mendapat penjajahan dari Spanyol. Sehingga kedua negara dengan karya sastra yang memiliki karya-karya berbasis poskolonial menawarkan kisah-kisah masa lalu yang dimunculkan kembali sebagai bentuk refleksi dan perlawanan. Arva (Hasanah, Subakti, dan Handayani, 2020:3) cerita yang dengan cerita masalah trauma, teknik penceritaan. Realisme magis mampu mengungkapkan kejadian-kejadian traumatis yang tidak dapat dilakukan oleh cerita realis biasa (2008:3). Sehingga, karya sastra akan menjadi salah satu alat membentuk kesadaran masyarakat. Karena, masyarakat akan memiliki kekuatan untuk melawan sikap-sikap buruk melekat dalam diri masyarakat jajahan, serta mungkin dapat dikatakan sebagai hantu-hantu kolonialisme hidup di tubuh pikiran kita sehingga tak memiliki cara hidup ideal terhadap identitas dirinya. Catatan ini berangkat dari pertanyaan: "apakah terma realisme magis hanya merujuk pada satu macam bentuk, terlebih pada salah satu karya agung sebagai satu-satunya yang paling realisme magis?" Dari sinilah, Prayoga (2022:1) yang berupaya mengulas ideologi yang diusung lewat realisme magis dan bagaimana realisme magis bekerja. Metode yang digunakan adalah interpretasi teks-tunggal sebagai gerbang jaringan ratusan gerbang lain: yakni melalui perspektif (fragmen, suara teks lain, kode lain) untuk membuka hal-hal yang tersembunyi secara misterius (Barthes, 2002:12). Penulis: Akhmad Mustaqim