DESA DUKUHSARI - Setiap Minggu sore, lantunan Maulid Diba' mengiringi pertemuan anggota Muslimat Nahdlatul Ulama Desa Dukuhsari. Pembacaan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad saw. berlangsung dengan khusyuk dan penuh khidmat. Di tengah kegiatan keagamaan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kelompok 126 tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat. Secara bergantian, mahasiswa KKN 126 mendapat tugas membaca bagian-bagian Maulid Diba'. Mereka duduk bersama anggota Muslimat NU, mengikuti rangkaian kegiatan, serta menyesuaikan diri dengan tata cara pembacaan yang selama ini dijalankan oleh masyarakat Desa Dukuhsari. Keterlibatan itu menjadi salah satu bentuk kontribusi KKN 126 dalam bidang keagamaan. Namun, bagi para pelajar, kegiatan tersebut memiliki arti yang lebih luas dari sekedar menjalankan program kerja. Pertemuan rutin setiap minggu sore menjadi ruang belajar untuk mengenal tradisi masyarakat, membangun kedekatan dengan warga, dan memahami cara menempatkan diri dalam kehidupan sosial desa. Maulid Diba' merupakan rangkaian syair yang memuat pujian, doa, serta kisah keteladanan Nabi Muhammad saw. Dalam kehidupan masyarakat, pembacaannya tidak hanya menjadi bentuk ekspresi keagamaan, tetapi juga mempertemukan warga dalam satu ruang kebersamaan. Mereka hadir, membaca, mendengarkan, dan mengikuti rangkaian kegiatan secara bersama-sama. Suasana khusyuk yang terbangun selama pembacaan menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat kerukunan. Pertemuan yang dilakukan secara rutin memberikan kesempatan kepada warga untuk saling berjumpa dan menjaga hubungan sosial. Kebersamaan tidak hanya tumbuh melalui percakapan, tetapi juga melalui kebiasaan duduk bersama dan mengikuti tradisi yang sama. Di dalam ruang kebersamaan itulah mahasiswa KKN 126 belajar bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan berskala besar. Kehadiran yang konsisten, kesediaan mengikuti kebiasaan warga, dan keberanian mengambil bagian dalam kegiatan setempat juga dapat menjadi bentuk kontribusi yang bermakna. Ketika mendapat giliran membaca Maulid Diba', siswa tidak hanya berhadapan dengan teks yang harus dilafalkan. Mereka juga belajar mengikuti ritme kegiatan, mematuhi peraturan yang berlaku, serta menjalankan tanggung jawab yang telah dipercayakan oleh anggota Muslimat NU. Penugasan membaca secara bergantian menunjukkan adanya penerimaan masyarakat terhadap kehadiran siswa. KKN 126 tidak ditempatkan sekedar sebagai tamu yang menyaksikan kegiatan dari luar. Mereka diberi ruang untuk terlibat langsung dalam tradisi keagamaan yang dijalankan oleh warga. Bagi beberapa mahasiswa, keterlibatan dalam pembacaan Maulid Diba' merupakan pengalaman pertama. Hal tersebut menjadikan pertemuan bersama Muslimat NU Dukuhsari meninggalkan kesan tersendiri. Mereka memperoleh pengalaman yang tidak selalu ditemukan di ruang perkuliahan, yaitu belajar membaca tradisi melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat yang menjalankannya. Pengalaman pertama itu juga mengajarkan keberanian dan kemampuan beradaptasi. Mahasiswa perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, memperhatikan tata cara pembacaan, serta menjaga sikap selama kegiatan berlangsung. Proses tersebut menjadi bagian dari pembelajaran sosial yang tumbuh secara alami selama pelaksanaan KKN. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mulai memahami bahwa tradisi keagamaan mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat. Pembacaan Maulid Diba' tidak berdiri sebagai kegiatan ritual semata. Di dalamnya terdapat nilai-nilai penghormatan kepada Nabi Muhammad saw., kebersamaan antarwarga, kesinambungan tradisi, serta ruang bagi masyarakat untuk menjaga hubungan satu sama lain. Kegiatan bersama Muslimat NU Desa Dukuhsari juga menampilkan hubungan antara pengabdian dan pembelajaran. Di satu sisi, mahasiswa KKN 126 berusaha memberikan kontribusi melalui kehadiran dan keterlibatan mereka. Di sisi lain, masyarakat memberikan pengetahuan tentang tradisi, tata krama, dan cara hidup berdampingan di lingkungan desa. Hubungan tersebut menempatkan KKN sebagai proses yang berlangsung dua arah. Mahasiswa tidak datang dengan anggapan bahwa mereka menjadi satu-satunya pihak yang membawa pengetahuan. Mereka juga menerima pengalaman, pelajaran, dan nilai-nilai sosial dari masyarakat yang didapat selama menjalankan pengabdian. Setiap giliran membaca menjadi latihan untuk bertanggung jawab. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk mengenal warga lebih dekat. Sementara itu, setiap lantunan Maulid Diba' mengingatkan bahwa kebersamaan dapat dibangun melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara rutin dan dilandasi rasa saling menghormati. Dampak positif dari kegiatan tersebut terlihat pada tumbuhnya kedekatan antara mahasiswa dan masyarakat melalui ruang keagamaan. Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan Muslimat NU memperluas interaksi mereka dengan warga, sedangkan kepercayaan untuk ikut membaca memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjadi bagian dari pertemuan tersebut. Bagi KKN 126, Minggu sore di Desa Dukuhsari akhirnya tidak hanya menjadi waktu untuk memenuhi agenda kegiatan. Pertemuan bersama Muslimat NU menjadi perjalanan belajar tentang tradisi dan kehidupan bermasyarakat. Siswa belajar bahwa membangun kerukunan tidak selalu membutuhkan kegiatan yang rumit. Kerukunan dapat tumbuh dari kesediaan untuk hadir, mendengarkan, mengambil bagian, dan menghormati kebiasaan yang telah dijaga oleh masyarakat. Lantunan Maulid Diba' mungkin berakhir ketika seluruh rangkaian bacaan selesai. Namun, pengalaman yang diperoleh mahasiswa KKN 126 tidak berhenti pada pertemuan itu. Dari kegiatan yang berlangsung setiap Minggu sore tersebut, mereka membawa pulang pemahaman bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang diberikan kepada masyarakat, melainkan juga tentang kesediaan untuk belajar dan bertumbuh bersama masyarakat.