MALANG, NETRALNEWS.COM – Di balik pesatnya perkembangan pariwisata Kota Batu, tersimpan jejak-jejak sejarah yang selama ini nyaris luput dari perhatian. Mulai dari peninggalan yang diduga berasal dari tradisi megalitik, masa Hindu-Buddha, Mataram Islam, kolonial, hingga tradisi masyarakat yang masih lestari, semuanya ditemukan dalam satu kawasan, yakni Desa Pesanggrahan. Melihat potensi tersebut, 11 mahasiswa UM BBM Tematik Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kota Batu melaksanakan inventarisasi 11 Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) melalui pendekatan sejarah lisan (oral history). Kegiatan yang berlangsung pada 13–21 Juli 2026 ini dipimpin oleh Ketua Kelompok KKN, Valendrio Alextri Sakti, di bawah bimbingan Deny Yudho Wahyudi selaku Dosen Pembimbing Lapangan. Inventarisasi ini menjadi langkah awal dalam mendokumentasikan objek-objek yang memiliki nilai penting sejarah, arkeologi, pendidikan, agama, dan kebudayaan sebagai dasar pelestarian warisan budaya di Kota Batu. Ketua Kelompok UM BBM Tematik Departemen Sejarah, Valendrio Alextri Sakti, menjelaskan bahwa inventarisasi tidak hanya berfokus pada pendataan benda bersejarah, tetapi juga mendokumentasikan cerita, ingatan kolektif, dan pengetahuan lokal yang selama ini diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. "Banyak warisan budaya yang belum terdokumentasi secara baik. Padahal, bukan hanya bendanya yang penting, tetapi juga cerita dan nilai sejarah yang hidup di tengah masyarakat. Melalui inventarisasi ini, kami ingin memastikan keduanya sama-sama terdokumentasikan sebagai langkah awal pelestarian," ujarnya. Menemukan Jejak Sejarah dari Berbagai Zaman Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa Desa Pesanggrahan menyimpan tinggalan budaya dari berbagai periode sejarah yang mencerminkan panjangnya perjalanan peradaban di kawasan tersebut. Tim berhasil mendata Watu Dakon yang diduga berasal dari tradisi megalitik, Arca Ganesha peninggalan masa Hindu-Buddha, Nisan Mbah Seco Yudho dan Nisan Mbah Seco Sudhiro yang diperkirakan berasal dari masa Mataram Islam, serta Masjid Al-Mukhlisin yang diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1831 dan menjadi salah satu masjid tertua di Kota Batu. Selain itu, inventarisasi juga mencatat sejumlah bangunan bersejarah, seperti Hotel Kartika Wijaya, Villa Gelastan, Biara Novisiat Karmel Regina Apostolorum, serta Gerbang Desa Pesanggrahan yang menjadi penanda identitas desa. Tak hanya tinggalan fisik, tim juga mendokumentasikan tiga punden yang hingga kini masih menjadi pusat aktivitas budaya masyarakat, yaitu Punden Mbah Ageng Maimunah Mayangsari, Punden Macari, dan Punden Tuyomerto. Ketiganya masih dimanfaatkan sebagai lokasi doa bersama, ziarah, hingga pelaksanaan tradisi bersih desa yang diwariskan lintas generasi. Menggali Sejarah dari Cerita Masyarakat Berbeda dari inventarisasi pada umumnya, kegiatan ini menggabungkan observasi lapangan dengan pendekatan oral history atau sejarah lisan. Selain melakukan dokumentasi visual, pencatatan koordinat GPS, dan pengisian formulir inventarisasi ODCB, tim juga mewawancarai juru pelihara, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta warga setempat. Pendekatan tersebut berhasil merekam berbagai informasi yang selama ini hanya hidup dalam ingatan masyarakat. Salah satunya adalah asal-usul nama Pesanggrahan yang dipercaya berasal dari kata mesanggrah atau tempat singgah. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang, kawasan ini dahulu menjadi tempat persinggahan para raja, adipati, dan punggawa Kerajaan Mataram sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan pemandian air panas Songgoriti. Cerita-cerita seperti inilah yang menjadi pelengkap penting dalam inventarisasi karena tidak dapat diperoleh hanya melalui pengamatan terhadap benda maupun bangunan bersejarah. Jadi Dasar Pelestarian Warisan Budaya Menurut Dosen Pembimbing Lapangan, Deny Yudho Wahyudi, inventarisasi merupakan tahapan penting dalam upaya pelestarian cagar budaya. Dokumentasi yang lengkap akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam melakukan kajian lebih lanjut terhadap objek-objek yang memiliki potensi untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Selain menghasilkan data mengenai kondisi fisik objek, kegiatan ini juga berhasil mendokumentasikan nilai sejarah, fungsi budaya, serta memori kolektif masyarakat yang selama ini belum banyak tercatat secara ilmiah. Data hasil inventarisasi nantinya diharapkan dapat memperkaya basis data kebudayaan yang dimiliki Dinas Pariwisata Kota Batu, sekaligus menjadi referensi dalam penyusunan program pelestarian, penelitian lanjutan, hingga pengembangan edukasi sejarah lokal. Warisan Budaya Bukan Hanya Masa Lalu Meski berhasil menginventarisasi berbagai ODCB, tim menemukan masih banyak tantangan dalam upaya pelestarian. Sejumlah objek belum memiliki papan informasi, belum masuk ke dalam basis data resmi, serta berada di kawasan yang rentan mengalami perubahan akibat perkembangan wilayah. Karena itu, inventarisasi ini diharapkan menjadi titik awal bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan budaya yang dimiliki Desa Pesanggrahan. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat, jejak-jejak sejarah yang selama ini tersembunyi kini mulai terdokumentasikan secara sistematis. Lebih dari sekadar mendata benda bersejarah, kegiatan ini menjadi upaya menyelamatkan identitas, memori kolektif, dan pengetahuan lokal agar tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang.