JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pertempuran yang terjadi pada 21 Desember 1948 bukan hanya menyisakan kisah cerita heroik dari Kapten Soemadi yang saat itu menjadi pemimpin dalam pertempuran di Mendalan. Pertempuran itu juga menyisakan kisah-kisah mistis. Pertempuran ini melibatkan Kompi Soemadi atau terkenal dengan Kompi Macan Putih dan Kompi Mistar. Pertempuran berawal dari pasukan-pasukan Belanda yang mulai memperluas agresinya di Desa Padusan. Namun karena informasi penyerangan Belanda tersebut bocor, Kapten Soemadi kemudian menginstruksikan untuk meletakkan 10 bom seberat 250 kg di Mendalan Kasembon sebagai pintu masuk wilayah tersebut. Bom tersebut berhasil membuat barisan tentara-tentara Belanda yang masuk ke Mendalan Kasembon kocar-kacir. Akibatnya adalah Belanda tidak bisa menguasai Mendalan secara utuh dan harus mundur untuk merencanakan ulang strateginya. Kemudian pertempuran dilanjutkan pada 25 Desember 1948 dimana kompi Macan Putih dan Kompi Mistar bersama-sama menyerbu markas Belanda di Mendalan. Penyerbuan ini memang tidak berhasil mengusir Belanda di Mendalan. Tapi setidaknya berhasil membuat Belanda gigit jari, karena harus menambahkan personil dan persenjataan di Mendalan sebagai bentuk kewaspadaan dari penyerbuan selanjutnya. Belanda yang tidak tinggal diam karena marah atas penyerbuan tersebut kemudian melakukan operasi besar-besaran guna menumpas kompi Macan Putih. Belanda melakukan operasi dengan mengerahkan Tank dan Panzer dari arah Pare, Ngoro dan Kandangan. Akibat dari pertempuran ini Letda Moestadjab, yang menjadi komandan peleton harus gugur dalam pertempuran. Kompi Soemadi harus mundur sampai ke Padusan akibat operasi tersebut. Sehari setelah tiba di Desa Padusan Kompi Macan Putih langsung melancarkan serangannya kembali di Desa Sajen. Serangan ini membuat beberapa serdadu Belanda berguguran. Menanggapi serangan tersebut Belanda kemudian melancarkan serangan balasan dengan menggunakan serangan udara. Bom-bom dijatuhkan dari udara, peluru-peluru Mitraliur ditembakkan dari pesawat P-51 Mustang. Akibat serangan besar-besaran yang dilakukan oleh pihak Belanda ini Serma Fakih gugur bersamaan dengan 3 prajurit lainnya, yang kemudian dimakamkan di kuburan Desa Padusan. Melihat alat-alat yang harus dikerahkan Belanda dalam serangan ini membuktikan bahwa pihak Belanda benar-benar marah dan tidak menganggap remeh gerakan-gerakan yang dilancarkan oleh Kompi Macan Putih. Desa Padusan merupakan tempat singgah Kompi Macan Putih untuk kemudian gabung ke pasukan yang lebih besar, yaitu pasukan Hayam Wuruk di Dlanggu. Pasukan ini dipimpin oleh Mayor Pamor Rahardjo. Tentu tujuan dibuatnya pasukan ini adalah untuk menghadapi perang yang lebih besar. Perang benar-benar terjadi pada 12 Februari 1949 dengan durasi waktu sehari semalam. Korban dari pihak Komando Hayam Wuruk dan para serdadu Belanda sama-sama saling berjatuhan. Korban yang berjatuhan dalam perang ini bukan hanya dari pihak militer, melainkan juga rakyat sipil yang juga ikut membantu dalam peperangan. Tidak terhitung berapa jumlah korban yang harus gugur dalam peperanganan ini. Belanda menanggapi pertempuran ini dengan terus menambah personil dan alat-alat perang, yang kemudian mengharuskan Komando Hayam Wuruk mundur. Ajaibnya adalah Kompi yang dipimpin oleh Kapten Soemadi kembali lolos dan berhasil menembus pertahanan musuh. Kapten Soemadi kemudian memimpin anak buahnya untuk menuju Kediri melewati Hutan Anjasmoro. Cerita-cerita di atas merupakan rangkaian cerita tentang heroiknya para pejuang kita dalam mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Namun dibalik cerita-cerita tersebut terselip kisah-kisah mistis yang dialami Kapten Soemadi dan kompinya dalam penyerangan-penyerangan yang mereka lakukan. Menurut cerita yang disampaikan oleh Yudo Nugroho (67) yang merupakan anak dari Kapten Soemadi menyampaikan kisah-kisah mistis yang dialami ayahnya selama perang. Dalam ceritanya, ayahnya tidak akan meluncurkan aksi penyerbuan ke markas Belanda kecuali ada satu tanda. Tanda tersebut adalah jika mereka melihat Macan Putih berjalan didepan mereka sebelum penyerbuan, maka penyerbuan harus dilakukan karena akan berjalan sesuai rencana. Ini terus dilakukan oleh Kompi Soemadi selama perang, karena hal inilah kemudian Kompi Soemadi disebut dengan Kompi Macan Putih. Selain itu cerita mistis lain ketika Kompi Soemadi harus bergerilya di hutan. Pada satu malam karena lokasi mereka jauh dari perkampungan, mengharuskan mereka bermalam di satu Goa. Goa tersebut adalah Goa Gembyang yang berada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Gua ini menjadi saksi perjuangan para pahlawan terdahulu dalam bergerilya melawan para penjajah. Dalam cerita tersebut menjelaskan banyak para prajurit yang ditemui dengan sesosok makhluk yang memiliki bentuk tubuh seperti manusia namun berkepala singa. Sosok tersebut diyakini sebagai penunggu Goa tersebut. Sosok tersebut terlihat berada di depan Goa seolah-olah menjaga para prajurit yang tidur di dalamnya. Cerita-cerita mistis seperti ini sebenarnya tidak hanya kita temui dalam kisah ini saja. Melainkan kisah-kisah perang para pahlawan kita juga banyak terselip kisah-kisah mistis seperti ini. Kita boleh percaya atau tidak, tapi yang jelas bahwa makhluk lain yang bersandingan alam dengan kita, tapi tetap dalam satu tempat yang sama pasti ada. Dalam agama Islam percaya akan adanya makhluk seperti Malaikat ataupun Jin menjadi satu kewajiban yang harus diyakini.