KOTA BATU - Di tengah banyaknya struktur di Desa Sidomulyo, Kota Batu, ada suatu lokasi yang masih menyimpan lapisan-lapisan kenangan dari masa lalu. Tempat tersebut dikenal dengan sebutan Punden Mbah Ranti. Bagi beberapa orang, punden mungkin hanya dilihat sebagai tempat yang suci atau bahkan sakral. Namun, untuk masyarakat Jawa yang tetap memegang nilai-nilai nenek moyang, punden adalah simbol asal-usul suatu daerah, tempat di mana sejarah dan budaya terjalin. Punden Mbah Ranti tidak tampil sebagai bangunan yang megah. Sebenarnya, kesederhanaannya menyimpan kisah mendalam tentang penebangan hutan, usaha menciptakan pemukiman, serta nilai-nilai etika yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kini arealnya semakin menyusut akibat desakan bangunan di sekitarnya, tetapi maknanya belum sepenuhnya lenyap. Dalam perspektif Jawa, punden bukan hanya lokasi suci. Menurut Bapak Zaenal Arifin, penduduk asli Sidomulyo yang banyak meneliti nilai-nilai budaya, menyatakan bahwa punden dapat dipahami sebagai “wiwitan”, yaitu permulaan dari suatu daerah. Punden bukan hanya ditemukan, tetapi juga muncul karena ada individu yang memulai hidup di suatu lokasi. Mereka yang membuka hutan tidak datang tanpa perencanaan. Mereka memilih tempat yang dekat dengan sumber air, memiliki kemungkinan untuk bertahan hidup, serta mendukung berdirinya sebuah permukiman. Dengan demikian, menghormati punden sebenarnya adalah menghormati para leluhur yang telah membuka jalan untuk generasi yang akan datang. Pandangan ini menarik karena merubah pemahaman bahwa punden hanya terhubung dengan dunia supranatural. Dalam sudut pandang budaya, punden malah menjadi simbol awal dari sebuah peradaban setempat. Masyarakat Jawa memiliki cara unik dalam menghormati lokasi-lokasi yang dianggap mempunyai nilai sejarah dan spiritual. Bahkan, etika saat berada di sekitar punden juga diatur oleh rasa hormat. Menunjuk dengan satu jari, berbicara sembarangan, atau bersikap kurang santun dianggap sebagai refleksi dari moralitas seseorang. Sikap itu bukan hanya disebabkan oleh ketakutan terhadap hal-hal gaib, tetapi juga karena punden dianggap sebagai lambang penghormatan kepada nenek moyang dan asal-usul desa. Nilai yang dilestarikan bukan hanya kekudusan lokasi, tetapi juga etika, sopan santun, dan pengertian bahwa kehidupan saat ini dibentuk oleh usaha orang-orang yang telah mendahului kita. Salah satu aspek menarik Punden Mbah Ranti adalah perannya yang selalu berubah seiring dengan perkembangan masyarakat. Dahulu, punden terutama berfungsi sebagai penanda awal lokasi dan tempat untuk menghormati para leluhur. Saat ini punden juga berfungsi sebagai ruang sosial yang terbuka untuk semua masyarakat. Di lokasi ini pernah diadakan selamatan desa, pagelaran wayang, pengajian, perayaan 17 Agustus, sampai pertunjukan bantengan. Punden dipilih karena dianggap sebagai tempat yang netral dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai kelompok masyarakat, tanpa terikat pada satu agama tertentu. Fungsi ini menunjukkan bahwa punden tidak hanya terhubung dengan sejarah, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan kohesi sosial komunitas desa. Di Punden Mbah Ranti ada batu-batu yang bukan hanya sebagai penanda fisik. Menurut penjelasan Bapak Zaenal, tiga batu di punden melambangkan prinsip hidup Jawa: “antep o atimu, antep o pikiranmu, lan antep o lakumu”. Artinya, manusia diharapkan memiliki hati yang kuat, pikiran yang jelas, dan tindakan yang tegas. Uniknya, orang Jawa lebih suka menggunakan kata “antep” ketimbang “berat”. Yang ditekankan bukan tekanan, melainkan kedewasaan jiwa. Simbol-simbol tersebut menunjukkan bahwa punden sejatinya menyimpan ajaran moral yang diturunkan melalui barang-barang sederhana seperti batu, pohon, dan nama lokasi. Sejalan dengan perkembangan zaman, keterkaitan masyarakat dengan punden juga mengalami perubahan. Banyak penduduk masih mempercayai eksistensi Punden Mbah Ranti, tetapi perhatian terhadap pemeliharaannya tidak selalu sama. Beda sudut pandang keagamaan dan perubahan cara berpikir membuat beberapa orang menjauh dari tradisi punden. Sebagai warisan budaya, punden sebenarnya memiliki makna yang melebihi sekadar urusan ritual. Ia merupakan catatan hidup yang menyimpan data mengenai pola hunian, sistem sosial, interaksi manusia dengan lingkungan, dan cara masyarakat Jawa memahami kehidupan. Punden Mbah Ranti menyampaikan bahwa sejarah tidak selalu muncul dalam bentuk nisan atau dokumen formal. Terkadang, kisah kehidupan terungkap melalui narasi para orang tua, lambang-lambang budaya, serta lokasi yang terlihat biasa. Saat sebuah punden menghilang, yang punah bukan hanya sebidang tanah atau beberapa batu kuno. Yang semakin memudar adalah ingatan bersama mengenai siapa yang pertama menjelajahi wilayah, bagaimana sebuah desa terbentuk, dan nilai-nilai apa yang dulunya menjadi dasar kehidupan bersama. Di zaman di mana banyak tradisi tergantikan oleh pembangunan, Punden Mbah Ranti mengingatkan bahwa kemajuan tidak perlu menghilangkan jejak sejarah. Sebenarnya, dari lokasi-lokasi seperti ini, sebuah desa bisa menemukan jati dirinya, sambil mempertahankan keterkaitan yang terus-menerus antara nenek moyang, lingkungan, dan generasi mendatang.