YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pembaca yang budiman, pada episode yang lalu sudah kita bahas tentang salah satu karakter yang dimiliki oleh Diponegoro yang pantas dijadikan sebagai role model yaitu bersifat dermawan kepada orang-orang kecil tanpa pamrih, dengan membebaskan pajak tanah lungguhnya yang digarap oleh petani penggarap tanah. Dengan demikian kehidupan petani akan tertolong karena mendapat penghasilan sesuai dengan kerja kerasnya. Untuk itulah Diponegoro marah besar ketika tanah-tanah lungguh bangsawan lainnya disewakan beramai-ramai kepada para cukong (pemodal besar) dari orang-orang Eropa maupun Tionghoa untuk ditanami tanaman yang laku keras di pasaran Eropa seperti lada, nila, kopi dan sebagainya. Jika tanah lungguh itu disewakan kepada para cukong, petani penggarap tanah kehilangan mata pencaharian. Untuk itulah Diponegoro sendiri tidak pernah menyewakan tanah lungguhnya kepada para cukong itu tetapi lebih memilih tanah lungguhnya digarap oleh para petani pribumi (tentang kisah tersebut, bisa dibaca DI SINI). Pada episode kali ini, pembaca saya ajak untuk mendengar cerita Diponegoro yang lain saat masih singgah di Semarang dalam perjalanannya ke Batavia. Saat Diponegoro masih ngobrol-ngobrol dengan Mayor de Stuers dan Kapten Roeps sebagai penerjemah bahasa Jawa karena Sang Pangeran dalam obrolannya menggunakan bahasa Jawa. Dalam sebuah perbincangan, Diponegoro berkata, “Saya pernah terluka dua kali saat di Gawok (15 Oktober 1826) dan sebelumnya pernah tertusuk bayonet ketika membantu membela hak-hak ayah saya (Sultan ketiga) melawan Inggris (20 Juni 1812).“ Menarik sekali apa yang disampaikan Diponegoro tentang terlukanya, karena Diponegoro sudah tidak terhitung terlibat dalam sebuah pertempuran besar selama hidupnya tetapi hanya dua kali Diponegoro terluka. Dari pengakuan ini sedikit menguak sumber-sumber sejarah peranan Sang Pangeran dalam peristiwa Geger Sepoy yaitu penyerangan Inggris dengan tentara Sepoy ke Keraton Yogyakarta pada tanggal 18, 19 dan 20 Juni 1812. Dalam ulasan kali ini, saya akan membahas tentang terlukanya Diponegoro di lingkungan Keraton Yogyakarta saat peristiwa Geger Sepoy, untuk terlukanya dalam pertempuran Gawok pada 15 Oktober 1826 kita ulas dalam kesempatan yang lain. Memang, dalam Geger Sepoy saat itu, Diponegoro tidak nampak besar peranannya. Bisa jadi, Diponegoro sudah diperingatkan oleh ayahandanya yang saat itu masih Putra Mahkota agar tidak terlibat terlalu jauh karena di istana menjelang terjadinya tsunami penyerangan Inggris yang meluluhlantakkan dan penjarahan besar-besaran di Keraton Yogyakarta, posisi ayahandanya berseberangan dengan Sultan kedua (Sultan Sepuh). Diponegoro dalam pengakuannya tertusuk bayonet sehingga terluka saat mendampingi ayahandanya untuk keluar keraton karena tempat kediaman ayahandanya sebagai Putra mahkota di Kadipaten (sebelah timur Alun-alun Utara) sudah dikuasai tentara Inggris dan Sepoy. Saat itu, pintu gerbang Wijilan atau Gapura Tarunosuro (sekarang masih ada gapuranya) sudah jebol, sehingga Putra Mahkota dan rombongan yang salah satunya dantara mereka Diponegoro menerobos berondongan tembakan tentara Inggris dan Sepoy menuju ke arah barat yaitu pintu gerbang Tamansari atau Gapura Jogoboyo (letaknya di sebelah barat Alun-alun Utara). Saat di depan pintu gerbang Tamansari (sekarang sudah tidak ada lagi pintu gerbangnya), Putra Mahkota dan rombongan termasuk Diponegoro ditangkap pasukan Inggris yang dipimpin oleh Mayor Dennis Harman Dalton dan sekretaris karesidenan Yogyakarta John Deans. Mayor Dalton setelah menangkap Putra Mahkota meminta agar dibawa ke Benteng Vredeburg menemui Letnan Gubernur Raffles, orang yang bertanggungjawab dalam penyerangan keraton itu. Penyerangan sendiri bertujuan menangkap Sultan kedua hidup atau mati, dan mengganti takhtanya kepada orang yang disukai Raffles, yang tentu saja orang yang tidak seperti Sultan kedua yang terus menerus menentang kolonisasi Inggris di Jawa. Permintaan itu disetujui oleh Putra Mahkota, tetapi tiba-tiba pasukan Inggris dan Sepoy melucuti semua senjata yang dibawa rombongan Putra Mahkota termasuk Diponegoro. Saat dilucuti dengan kasar oleh tentara Sepoy di bawah komando Mayor Dalton, Diponegoro tidak terima kerisnya dilucuti karena itu artinya merendahkan derajat seorang kesatria Jawa, sehingga terjadi insiden tertusuknya badan Diponegoro oleh sangkur milik tentara Sepoy. Tentu saja luka yang dialami oleh Diponegoro ini membuat Putra Mahkota cemas. Beruntung Tan Jin Sing yang tiba-tiba datang ke lokasi segera meminta tentara Sepoy tidak memperlakukan dengan kasar sehingga insiden terlukanya Diponegoro itu tidak menimbulkan masalah yang lebih besar. Kapiten Cina Tan Jin Sing yang saat itu bersekutu dengan Raffles untuk menggulingkan Sultan kedua juga mencegah tentara Inggris dan Sepoy mempermalukan Putra Mahkota dengan cara merampas tiga tombak pusaka Putra Mahkota dan payung kebesaran Putra Mahkota untuk dijarah. Saat itu memang tentara Inggris dan Sepoy seperti kerasukan setan menjarah semua yang ada di dalam keraton baik itu emas berlian, uang, senjata pusaka, manuskrip-manuskrip hingga gamelan milik Keraton Yogyakarta, Setelah Putra Mahkota tertangkap, sesaat kemudian datang komandan perang Inggris Kolonel Gillespie dan memberi tahu bahwa Raffles mengundangnya di Benteng Vredeburg yang kemudian disetujui oleh Kapiten Cina Tan Jin Sing. Di bawah pengawalan langsung Kolonel Gillespie, Putra Mahkota berjalan berkuda diikuti rombongan menuju Benteng Vredeburg dikawal sekitar 60 prajurit Inggris dan Sepoy. Setelah sampai di Benteng Vredeburg dan Putra Mahkota bertemu dengan Raffles, Kolonel Gillespie kembali ke Alun-alun Utara untuk mempimpin pertempuran lagi. Bagaimana kisah berikutnya. Ikuti terus artikel ini yang tentunya ditemukan kisah-kisah menarik lainnya. Tunggu episode berikutnya, ya. Penulis: Lilik Suharmaji Founder PUSAM (Pusat Studi Mataram) tinggal di Yogyakarta. Bacaan Rujukan Carey, Peter. 2022. Percakapan dengan Diponegoro. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Lilik Suharmaji. 2020. Geger Sepoy Sejarah Kelam Perseteruan Inggris dengan Keraton Yogyakarta 1812-1815. Yogyakarta: Araska.