JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di Dusun Tonggolari, Desa Sidomulyo, Kota Batu, terdapat sebuah lokasi yang oleh sebagian masyarakat dikenal sebagai Punden Mbah Melati, sementara sebagian lainnya menyebutnya sebagai Petilasan Mbah Melati. Perbedaan penyebutan tersebut bukan sekadar persoalan istilah, melainkan mencerminkan adanya beragam pemahaman masyarakat terhadap sejarah, tradisi, dan makna keberadaan tempat tersebut. Di balik nama yang berbeda itu tersimpan kisah mengenai pembukaan hutan, keberadaan sumber mata air, perubahan lanskap desa, serta hubungan masyarakat dengan leluhur dan lingkungan sekitar. Secara fisik, tempat tersebut bukanlah bangunan besar atau situs monumental. Justru kesederhanaannya menjadi salah satu hal yang menarik, karena lokasi ini menjadi ruang pertemuan antara sejarah lokal, tradisi lisan, dan kepercayaan masyarakat yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman. Berdasarkan keterangan juru pelihara, Mbah Melati merupakan sosok yang berasal dari Pati dan dikenal sebagai salah satu tokoh perintis atau pembuka wilayah Desa Sidomulyo. Namun, mengenai identitas Mbah Melati sendiri masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan masyarakat. Sebagian meyakini bahwa nama aslinya memang Mbah Melati, sedangkan pendapat lain menyebut bahwa nama sebenarnya adalah Mbah Rodiah, yang dipercaya sebagai istri kedua dari seorang tokoh agama bernama Mbah Hamzah atau Mbah Ambiyak. Lokasi yang kini dikenal sebagai Punden Mbah Melati sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai petilasan, yaitu tempat yang berkaitan dengan perjalanan hidup atau persinggahan seorang tokoh pada masa lalu. Tempat tersebut kemudian diperbaiki pada tahun 2017 dan hingga saat ini masih dirawat secara bersama oleh masyarakat setempat. Sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan pelestarian tradisi desa, masyarakat secara rutin mengadakan peringatan setiap satu bulan sekali, terutama pada malam Selasa Kliwon. Dalam pandangan masyarakat Jawa, cerita mengenai babat alas memiliki kedudukan penting karena para pembuka hutan dan pendiri permukiman dianggap sebagai tokoh yang berjasa dalam membangun kehidupan suatu wilayah. Oleh sebab itu, tempat-tempat yang memiliki hubungan dengan para leluhur sering kali dihormati sebagai penanda awal terbentuknya sebuah komunitas. Namun, kisah mengenai Mbah Melati tidak hanya berkaitan dengan cerita pembukaan wilayah. Salah satu narasumber menyampaikan pandangan lain yang juga berkembang dalam ingatan masyarakat, yaitu bahwa lokasi tersebut pada masa lalu merupakan sumber mata air dan aliran sungai yang digunakan warga untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci pakaian, serta memenuhi kebutuhan rumah tangga. Setelah terjadi perpindahan hak atas tanah, aliran sumber tersebut kemudian diarahkan ke bagian barat untuk keperluan pengairan ladang selada air. Perubahan fungsi sumber mata air inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam narasi masyarakat mengenai tempat tersebut. Dalam tradisi Jawa, sumber mata air tidak hanya dipandang sebagai tempat pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki nilai ekologis, sosial, dan spiritual. Karena itu, perubahan atau gangguan terhadap sumber air sering kali diikuti dengan munculnya berbagai cerita mengenai penunggu, bahurekso, atau kekuatan pelindung suatu wilayah. Kisah tentang penampakan, ular naga, maupun makhluk penjaga sumber mungkin terlihat sebagai cerita magis bagi sebagian orang. Akan tetapi, dalam konteks budaya, cerita-cerita tersebut memiliki fungsi sosial yang lebih luas, yaitu sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga keberadaan suatu tempat agar tidak dirusak atau dilupakan. Pensakralan lokasi tersebut kemudian menjadi salah satu cara masyarakat membangun rasa aman, menjaga ketertiban sosial, serta memperkuat hubungan manusia dengan alam. Fenomena serupa juga banyak ditemukan di berbagai wilayah Jawa, ketika pohon tua, sumber air, batu besar, atau lokasi permukiman awal dianggap memiliki nilai khusus karena berkaitan dengan sejarah kehidupan masyarakat. Kesakralan suatu tempat sering kali berfungsi sebagai bentuk perlindungan budaya terhadap ruang-ruang yang dianggap penting bagi keberlangsungan kehidupan bersama. Keunikan Punden Mbah Melati terletak pada kenyataan bahwa tempat tersebut masih memiliki peran dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Warga masih membersihkan area tersebut, melaksanakan kegiatan peringatan rutin, serta menjadikannya bagian dari identitas sosial desa. Bahkan, terdapat masyarakat Tonggolari yang lebih memilih melakukan ziarah ke Mbah Melati dibandingkan ke Punden Mbah Ranti. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan masyarakat dengan tempat-tempat leluhur masih terus berkembang melalui ingatan kolektif dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi semacam ini memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan besar seperti candi atau situs kuno. Warisan budaya juga dapat hidup melalui cerita, kebiasaan, ritual, serta praktik sosial yang terus dilakukan oleh masyarakat. Bagi kajian sejarah, kisah mengenai Mbah Melati tentu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut melalui arsip, dokumen kolonial, peta lama, maupun penelitian lapangan. Namun, nilai sebuah cerita rakyat tidak hanya ditentukan oleh tingkat kepastian historisnya, melainkan juga oleh bagaimana masyarakat mengingat, memahami, dan memberikan makna terhadap sejarah mereka sendiri. Versi yang disampaikan oleh juru pelihara menempatkan Mbah Melati sebagai tokoh pembuka hutan dan perintis desa, sedangkan versi narasumber lain lebih menekankan hubungan lokasi tersebut dengan sumber mata air serta kepercayaan masyarakat terhadap tempat tersebut. Kedua versi tersebut tidak harus dipandang sebagai cerita yang saling bertentangan. Sebaliknya, keberagaman cerita menunjukkan bahwa sejarah lokal terbentuk melalui berbagai lapisan ingatan masyarakat yang saling melengkapi dan memperkaya pemahaman terhadap masa lalu.