MALANG - Mahasiswa UM BBM Tematik Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) mengidentifikasi dan mendokumentasikan lima Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di Kota Batu melalui kolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kota Batu, Badan Pusat Statistik (BPS), pemerintah desa, dan tokoh masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Pesanggrahan, Desa Sumberejo, dan Kelurahan Sisir ini memperkuat inventarisasi warisan budaya sebagai data awal pelestarian cagar budaya. Pendataan dilakukan karena sejumlah objek berpotensi belum terdokumentasi secara sistematis sehingga belum memperoleh perlindungan dan pengelolaan yang optimal, sekaligus menjadi pembelajaran kontekstual bagi siswa melalui sejarah lisan dan dokumentasi budaya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan ODCB untuk memperkuat pelestarian warisan budaya serta menyediakan data awal inventarisasi bagi Dinas Pariwisata Kota Batu. Program ini mendukung SDGs 4 melalui pembelajaran kontekstual berbasis warisan budaya dan SDGs 17 melalui kemitraan antara UM, pemerintah daerah, BPS, pemerintah desa, dan masyarakat. Pendataan dilaksanakan pada 13–21 Juli 2026 di Desa Pesanggrahan, Desa Sumberejo, dan Kelurahan Sisir oleh mahasiswa UM BBM Tematik Departemen Sejarah UM bersama Dinas Pariwisata Kota Batu. Kegiatannya meliputi survei lapangan, observasi kondisi objek, pencatatan, pencatatan koordinat menggunakan GPS, pengisian formulir ODCB, serta wawancara sejarah lisan (oral history) bersama juru pelihara, tokoh masyarakat, dan warga untuk memperoleh informasi mengenai sejarah, fungsi, serta nilai budaya setiap objek. Kegiatan berhasil mendokumentasikan lima Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang terdiri atas dua Watu Dakon, satu Arca Durga Mahisasuramardhini, dan dua batu nisan era Mataram Islam di tiga wilayah pendataan. Watu Dakon di Desa Sumberejo ditemukan di kebun bunga mawar, sedangkan Watu Dakon di Desa Pesanggrahan merupakan tinggalan yang telah lama diketahui masyarakat. Arca Durga Mahisasuramardhini di Kelurahan Sisir ditemukan dalam kondisi rusak yang Ditempatkan di depan kamar mandi Balai RW 08 dengan bagian tubuh terbelah dan memerlukan perhatian pelestarian. Sementara itu, dua batu nisan yang dikenal sebagai makam Mbah Seco Yudho dan Mbah Seco Yudhiro diperkirakan berasal dari masa Mataram Islam. Seluruh data, dokumentasi, dan koordinat GPS telah diserahkan kepada Dinas Pariwisata Kota Batu sebagai inventarisasi awal ODCB. Kegiatan ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran kontekstual berbasis warisan budaya. Pendataan ODCB, dokumentasi, dan wawancara sejarah lisan menjadi sumber belajar yang memperkuat pemahaman pelajar dan masyarakat mengenai pelestarian warisan budaya. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk menyembunyikan Tujuan) melalui kolaborasi antara Universitas Negeri Malang, Dinas Pariwisata Kota Batu, Badan Pusat Statistik, pemerintah desa, dan masyarakat. Data hasil pengumpulan akan dimanfaatkan sebagai dasar penelitian, pembaruan dasar data kebudayaan, edukasi masyarakat, dan usulan pelestarian cagar budaya. Budayawan Desa Pesanggrahan, Andy Tri Sudrajat, menyampaikan bahwa pendataan ini menjadi langkah awal memperkuat basis data kebudayaan sekaligus mendukung pelestarian warisan budaya melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Keberlanjutan program diharapkan memperkuat pengelolaan warisan budaya sebagai identitas daerah sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.