MALANG - Masyarakat Jawa dikenal dengan pelestarian budayanya yang masih kental, tidak hanya pelestarian berupa bahasa, namun juga penghormatan kepada objek atau peninggalan yang dianggap sakral. Punden menjadi salah satu objek yang dihormati oleh masyarakat Jawa, hal ini tidak semata karena dianggap sebagai sosok cikal bakal suatu desa, namun juga dipercaya sebagai pelindung sebuah wilayah. Hal ini didasari karena masyarakat Jawa percaya bahwa setiap tempat atau desa dipercaya memiliki roh pelindung yang disebut danyang. Punden menjadi titik pusat interaksi spiritual antara warga desa dengan danyang. Warga meyakini bahwa menjaga punden dan memelihara hubungan harmonis dengan danyang akan menghindarkan desa dari mula-faktual (prahara), bahaya, kemarau panjang, atau wabah penyakit. Mahasiswa UM BBM Tematik Departemen Sejarah yang sedang melakukan KKN di Desa Sidomulyo dan Bumiaji melakukan pengalian data mengenai sejarah lisan punden-punden yang ada di Desa Sidomulyo dan Bumiaji. Khusus di Desa Bumiaji, kelompok kami berkesempatan mendokumentasikan dua punden yang hingga kini kedua situs tersebut masih terawat dengan baik serta menyimpan narasi sejarah dan kisahnya masing-masing. Salah satu punden yang memiliki kisah menarik adalah Punden Mbah Karyo. Punden berbentuk pesarean ini terletak di Jalan Sultan Hasanuddin, RT 01/RW 04, Dusun Beru, Desa Bumiaji. Situs ini merupakan tempat peristirahatan Mbah Karyo yang memiliki nama asli Raden Sukaryo. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh pembuka lahan (babat alas/babat karawang) di Dusun Beru, Desa Bumiaji, yang pada masa lampau bernama Desa Wonoaji. Mbah Raden Sukaryo merupakan seorang punggawa yang berasal dari Kadilangu, Demak. Beliau menjabat sebagai tumenggung dalam pasukan pimpinan Pangeran Rojoyo yang terdiri atas 10 punggawa dengan tujuan berhijrah ke Wonoaji (sekarang Bumiaji). Kepindahan mereka ke Wonoaji dilatarbelakangi oleh upaya menyelamatkan diri dari kejaran pasukan VOC pada tahun 1781 Masehi. Menurut narasi sejarah tertulis, sebelum menetap di Dusun Beru, beliau sempat bertugas di Alas Gading, Malang. Suatu ketika, beliau jatuh sakit sehingga memilih kembali ke pesantren yang berada di Wonoaji. Setelah pulih, beliau ditugaskan untuk membabat alas di wilayah yang kelak menjadi Dusun Beru—kawasan yang pada mulanya bernama Dusun Mberung. Setelahbertahun-tahun membabat alas, kondisi kesehatan beliau kembali menurun hingga akhirnyawafat tanpa memiliki istri maupun keturunan. Beliau kemudian dimakamkan di Dusun Beru, RT01/RW 06, Desa Bumiaji. Kisah ini dituturkan oleh Pak Suwandah selaku juru pelihara punden. Beliau dipercaya oleh masyarakat dan kepala dusun setempat hingga akhirnya resmi ditugaskan oleh Kepala Desa sejak tahun 2022. Narasi sejarah ini tidak sekadar bertumpu pada cerita rakyat belaka, melainkan tercatat dalam Kitab Tirituli yang disimpan, dibaca, dan diterjemahkan langsung oleh Pak Suwandah. Situs pesarean ini masih disakralkan oleh masyarakat setempat hingga saat ini. Menurut Pak Suwandah, sebagai wong Jowo sudah sepatutnya masyarakat menerapkan ajaran yang beliau sebut sebagai 'Tiga Bakti', yakni bakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bakti terhadap orang tua, dan bakti terhadap leluhur. Beliau menegaskan bahwa tanpa peran dan perjuangan para leluhur, desa maupun dusun yang dihuni oleh masyarakat saat ini tidak akan pernah ada. Masyarakat Dusun Beru menyelenggarakan tahlilan dan doa rutinan di pesarean ini sebagai wujud pemuliaan serta mendoakan para leluhur. Kegiatan keagamaan ini umumnya dilaksanakan pada malam-malam tertentu, seperti pada bulan Suro dan momen khusus lainnya. Selain itu, sebelum menggelar pertunjukan kesenian tertentu, paguyuban yang akan tampil biasanya terlebih dahulu memohon izin ke punden ini sebagai bentuk kula nuwun kepada leluhur yang disemayamkan di tempat tersebut. Nama Mbah Karyo pun diabadikan pada beberapa kelompok kesenian yang ada di sekitar Dusun Beru. Dua di antaranya yakni Gembung Hakaryo Wiguno dan Kesenian Bantengan Karyo Wiguno. Tidak hanya menjadi nama kelompok seni, nama beliau juga diabadikan sebagai nama gang yang menjadi jalan akses menuju kompleks Pesarean Mbah Karyo.