MALANG - Masa kolonialisme tidak dapat dilepaskan dari ingatan sejarah bangsa Indonesia. Belanda, Inggris, Prancis, hingga Spanyol pernah menginjakkan kaki di Nusantara dengan agendanya masing-masing. Di antara sekian bangsa asing tersebut, penjajahan Belanda menjadi yang paling melekat di ingatan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari panjangnya kurun waktu kekuasaan Belanda di Nusantara. Selama berabad-abad, pertempuran demi pertempuran pun meletus antara pejuang pribumi melawan dominasi kolonial. Menariknya, narasi era kolonialisme terkadang juga tersimpan dalam keberadaan sebuah punden—tempat keramat yang umumnya dipahami sebagai tempat peristirahatan terakhir atau penanda sosok cikal bakal suatu wilayah, tanpa keterikatan langsung dengan sejarah kolonial. Kendati demikian, setiap punden selalu menyimpan narasi unik yang menarik untuk diungkap kembali. Kami, tim mahasiswa KKN Tematik Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), melakukan penggalian data sejarah lisan mengenai punden-punden yang ada di Desa Sidomulyo dan Bumiaji. Khusus di Desa Sidomulyo, terdapat sembilan punden yang masih terawat dengan baik hingga saat ini. Pada 29 Juni lalu, kami melakukan pendataan, penelusuran, serta pendokumentasian sejarah punden di Desa Sidomulyo. Informasi dihimpun melalui wawancara langsung dengan Bapak Gunawan selaku juru pelihara punden dan Bapak Amin selaku sesepuh desa. Menurut Pak Gunawan, keberadaan tempat yang disakralkan ini senantiasa menyimpan kisah sejarah tersendiri. Salah satunya adalah Punden Mbah Bintoro, yang berlokasi di perbatasan Dusun Tinjumoyo dan Dusun Santrean. Berdasarkan tuturan lisan para sesepuh, punden ini berakar dari perjuangan seorang tokoh lokal berpengaruh yang gigih menolak tunduk pada otoritas Belanda. Jejak kehidupannya bahkan turut membentuk garis batas wilayah serta warisan budaya lokal hingga kini. Kisah Mbah Bintoro bermula sekitar era 1930-an hingga pascakemerdekaan Indonesia. Sikap membangkangnya membuat pemerintah Belanda merasa terancam hingga terus memburunya. Demi menyelamatkannya, Petinggi (Lurah) Santrean kala itu menyembunyikan Mbah Bintoro di area utara pinggir Kali Singsin, sebelah barat Kali Gedhe. Sayangnya, aksi berani tersebut berujung tragis. Lurah Santrean turut menjadi korban kekejaman Belanda karena dituduh menyembunyikan Mbah Bintoro. Tak lama setelah Belanda menyelesaikan pembangunan struktur di sepanjang Kali Singsin, keberadaan Mbah Bintoro akhirnya terendus dan beliau gugur dibunuh di tempat. Pasca-kejadian tersebut, warga Santrean tidak berani melapor maupun menguburkan jasad Mbah Bintoro karena dibayangi ketakutan serta persoalan kepemilikan lahan. Di tengah situasi genting itu, warga Sidomulyo (Tinjumoyo) memberanikan diri untuk mengurus dan memakamkan jenazah Mbah Bintoro secara layak di area tersebut. Proses pemakaman oleh warga Sidomulyo ini menjadi titik balik penting dalam sejarah kepemilikan lahan kawasan setempat. Lahan seluas sekitar tiga hektar di utara Sungai Brantas yang semula merupakan hak wilayah Santrean akhirnya diserahkan secara resmi menjadi tanah Bengkok Ganjaran, yang kini dikenal sebagai Krapyak milik Desa Sidomulyo. Bagi masyarakat setempat, Punden Mbah Bintoro bukan sekadar situs peninggalan masa lalu, melainkan wujud rasa hormat dan syukur atas jasa leluhur. Tradisi uri-uri—seperti selamatan desa, doa bersama, dan ritual budaya—rutin digelar untuk mendoakan Mbah Bintoro sekaligus memohon perlindungan dari musibah atau pageblug. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa Mbah Bintoro yang secara tidak langsung memberikan batas wilayah dan kelimpahan lahan bagi desa, lokasi pemakaman tersebut ditandai (ditengeri) serta dikeramatkan dan dirawat secara turun-temurun hingga hari ini.