JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Saat mendengar kata “kucing besar”, pikiran kita mungkin langsung melayang ke auman harimau yang menggema di hutan, atau singa yang suaranya bisa terdengar sejauh lima kilometer. Tapi tahukah kamu? Tidak semua kucing besar bisa mengaum. Cheetah, si pelari tercepat di darat, ternyata tidak bisa mengaum. Alih-alih mengeluarkan suara yang menggetarkan, ia justru bersuara seperti anak kucing: meow. Secara ilmiah, kemampuan mengaum pada kucing besar seperti singa dan harimau berasal dari struktur tulang hyoid di tenggorokan mereka yang fleksibel. Tulang ini memungkinkan pita suara bergetar dengan cara tertentu yang menghasilkan suara auman. Sementara itu, cheetah memiliki struktur tulang hyoid yang lebih kaku, mirip dengan kucing rumahan, sehingga mereka hanya bisa mengeong, mendengkur, atau mengeluarkan suara “chirp” seperti burung. Fenomena ini cukup unik karena secara ukuran, cheetah tergolong kucing besar. Tapi dari sisi anatomi dan vokalisasi, ia jauh lebih mirip dengan kucing domestik daripada kerabatnya seperti jaguar atau leopard. Bahkan, suara “chirp” yang dikeluarkan cheetah sering digunakan untuk memanggil anak-anaknya atau berkomunikasi jarak jauh, dan suara ini lebih terdengar seperti burung ketimbang predator buas. Menariknya, perilaku vokal ini menciptakan kesan bahwa cheetah bukanlah makhluk yang mengintimidasi. Ia lebih memilih menghindar daripada menyerang. Ia tidak mengaum untuk menandai wilayah atau menakut-nakuti musuh. Justru, kecepatan dan keheningan jadi senjatanya. Di dunia yang sering mengasosiasikan kekuatan dengan suara besar, cheetah adalah pengecualian yang elegan. Ia tidak perlu mengaum untuk menunjukkan siapa dirinya. Dengan lari 0–100 km/jam dalam waktu kurang dari 3 detik, mungkin cheetah ingin berkata “Mengapa harus mengaum kalau bisa langsung menghilang?”