JAKARTA - China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan mencapai 154,58 miliar dolar AS pada 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai tersebut terdiri dari ekspor sebesar 67,04 miliar dolar AS dan impor sebesar 87,54 miliar dolar AS. Dengan pangsa ekspor mencapai 23,7 persen dan impor 36,2 persen, aktivitas pelayaran di jalur Indonesia-China memegang peranan penting dalam mendukung aktivitas perdagangan kedua negara. Regulasi Telekomunikasi di China Perlu Jadi Perhatian Shipowner Di tengah tingginya mobilitas kapal yang beroperasi atau melintasi perairan China, kebutuhan akan koneksi internet yang andal semakin penting. Selain untuk komunikasi, koneksi internet di kapal juga dipergunakan untuk pertukaran data operasional, pemantauan kapal, pelaporan, hingga koordinasi dengan kantor pusat. Kebutuhan ini menjadi semakin krusial mengingat tidak semua layanan konektivitas maritim memiliki cakupan yang memadai untuk mendukung kapal yang berlayar hingga perairan China. SAILINK Dukung Konektivitas VSAT Hingga Perairan China Bagi pelaku industri pelayaran, keberlangsungan koneksi menjadi keharusan demi kelancaran operasional. China, misalnya, dikenal memiliki pengawasan yang ketat terhadap akses telekomunikasi, sehingga layanan konektivitas satelit yang dipergunakan kapal harus mengikuti ketentuan dan mekanisme perizinan yang berlaku. Berdasarkan Maritime Traffic Safety Law of the People's Republic of China, pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi administratif hingga RMB 30.000, bahkan mencapai RMB 100.000 untuk pelanggaran yang dianggap serius. Karena itu, shipowner perlu memastikan layanan yang dipergunakan tetap sesuai regulasi saat memasuki perairan China. Dalam konteks tersebut, SAILINK hadir sebagai layanan VSAT maritim yang dirancang untuk mendukung kebutuhan konektivitas kapal di berbagai wilayah pelayaran, dengan jangkauan yang mencakup China, Asia Timur, Laut China, hingga Asia Selatan, SAILINK dapat mendukung kebutuhan konektivitas kapal yang beroperasi maupun melintasi kawasan tersebut. Seiring meningkatnya perdagangan Indonesia-China, kemampuan layanan konektivitas untuk menjangkau wilayah pelayaran tersebut menjadi pertimbangan yang semakin penting bagi shipowner. Ketersediaan koneksi yang andal membantu memastikan komunikasi dan pertukaran data tetap berjalan selama pelayaran, sehingga mendukung kelancaran operasional kapal dan rantai pasok yang menghubungkan aktivitas perdagangan kedua negara.