JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pasar ponsel pintar di kelas harga dua jutaan pada tahun 2026 mengalami lonjakan standar spesifikasi yang signifikan, di mana fitur-fitur yang dulunya eksklusif untuk kelas menengah ke atas kini mulai diadopsi secara masif. Salah satu primadona yang tetap kokoh di posisi puncak adalah Redmi Note 13 Pro 4G yang menawarkan keunggulan visual melalui panel AMOLED 6,67 inci dengan tingkat kecerahan mencapai 1300 nits dan proteksi Gorilla Glass 5. Dari sisi teknis, perangkat ini mengandalkan chipset MediaTek Helio G99 Ultra yang dipadukan dengan konfigurasi memori luas 8/256 GB serta keunggulan fotografi pada sensor utama 200 MP yang dilengkapi teknologi Optical Image Stabilization (OIS) untuk hasil gambar yang stabil dan tajam. Selain itu, kecepatan pengisian daya 67 watt pada baterai 5000 mAh menjadikannya sebagai perangkat all-rounder yang sangat efisien untuk penggunaan harian maupun konten kreatif. Inovasi juga terlihat pada Motorola G57 Power yang mendobrak batasan daya tahan dengan menyematkan baterai berkapasitas monster 7000 mAh. Ponsel ini ditenagai oleh chipset Snapdragon 6S Gen 4 dengan fabrikasi 4 nm yang memberikan efisiensi daya luar biasa, serta penggunaan sensor kamera Sony LYT 600 50 MP yang menjamin kualitas tangkapan gambar kelas profesional di kelas harga terjangkau. Tidak mau kalah, Tecno Pova Curve hadir bagi pengguna yang mengutamakan estetika dan performa layar, mengusung desain Curved AMOLED dengan refresh rate super mulus 144Hz serta ditenagai chipset Dimensity 7300 yang sangat mumpuni untuk kebutuhan gaming menengah. Di sisi lain, Infinix Hot 60 Pro Series mencuri perhatian melalui desain bodi yang sangat tipis, hanya sekitar 6 mm, namun tetap mampu menampung baterai 5160 mAh dan layar AMOLED 1.5K. Bagi konsumen yang mencari keseimbangan antara performa dan kelengkapan fitur, Poco M7 Pro hadir dengan dukungan chipset Dimensity 7025 Ultra dan kamera OIS 50 MP yang sangat kompetitif. Tren teknologi 2026 ini menunjukkan bahwa dengan budget dua jutaan, pengguna tidak lagi harus berkompromi pada performa, karena kapasitas RAM minimal 8 GB dan memori internal 256 GB telah menjadi standar baru yang menjamin kelancaran multitasking serta penggunaan jangka panjang bagi masyarakat digital di Indonesia.*