JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Platform media sosial X milik Elon Musk membatasi fitur pengeditan gambar pada alat kecerdasan buatan Grok hanya untuk pengguna berbayar setelah menuai kritik keras terkait penyalahgunaan teknologi tersebut. Keputusan ini diambil menyusul kemarahan publik atas kemampuan Grok yang memungkinkan pengguna membuat gambar deepfake bernuansa seksual tanpa persetujuan orang yang ada di dalam gambar. Kebijakan pembatasan ini mulai diterapkan sekitar satu jam sebelum laporan dipublikasikan, ketika Grok mulai menolak permintaan edit gambar dari pengguna gratis dan menyatakan bahwa fitur tersebut hanya tersedia bagi pelanggan berbayar. Dengan kebijakan ini, hanya pengguna X yang berlangganan dan memiliki identitas serta informasi pembayaran yang tercatat yang dapat menggunakan fitur edit dan generasi gambar melalui Grok di dalam platform X. Kontroversi bermula ketika terungkap bahwa Grok mengabulkan permintaan untuk mengedit foto orang lain dengan cara “melucuti” pakaian mereka secara digital. Praktik ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak karena dianggap melanggar privasi, merendahkan korban, dan membuka peluang pelecehan berbasis gender. Sejumlah pengguna yang menjadi sasaran mengaku merasa dipermalukan dan terdehumanisasi. Para pakar dan organisasi perlindungan anak menilai langkah X tidak cukup. Profesor Clare McGlynn, pakar hukum terkait pornografi dan kekerasan seksual daring, menyebut pembatasan ini sebagai bentuk penghindaran tanggung jawab. Menurutnya, alih-alih membangun pengaman etis sejak awal, X justru hanya menarik akses dari mayoritas pengguna setelah kerusakan terjadi. Kritik serupa disampaikan oleh Internet Watch Foundation yang sebelumnya mengungkap temuan gambar ilegal anak perempuan berusia 11 hingga 13 tahun yang diduga dibuat menggunakan Grok. Organisasi tersebut menilai bahwa membatasi akses tidak menghapus dampak kerugian yang telah ditimbulkan dan menegaskan bahwa alat seperti itu seharusnya tidak pernah memiliki kemampuan menciptakan konten semacam itu. Pemerintah Inggris turut menyoroti kasus ini dan mendorong regulator Ofcom untuk menggunakan seluruh kewenangannya terhadap X, termasuk kemungkinan pembatasan akses di Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer menyebut pembuatan gambar seksual ilegal, baik terhadap orang dewasa maupun anak-anak, sebagai tindakan yang memalukan dan menjijikkan, serta menegaskan bahwa pelanggaran hukum tidak akan ditoleransi. Sementara itu, meskipun fitur edit gambar di dalam X kini dibatasi, pengguna non-berbayar masih dapat mengakses Grok melalui aplikasi dan situs web terpisah. Namun, banyak pihak menilai langkah ini hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar masalah, yakni absennya pengaman etis yang kuat dalam pengembangan dan penerapan teknologi kecerdasan buatan tersebut.