JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Planet misterius dengan ukurannya mirip Jupiter ditemukan. Halla nama planet itu, entah bagaimana selamat dari kematian bintangnya dan para astronom tidak yakin bagaimana caranya. Para astronom menemukan planet seukuran Jupiter yang seharusnya tidak ada pasca membengkaknya bintang induknya yang tiba-tiba dan membuat ledakan dahsyat. Raksasa gas 8 Ursae Minoris b, juga dikenal sebagai Halla, adalah planet “Jupiter panas” yang terletak 520 tahun cahaya dari Bumi. Dunia yang sangat besar tersebut tampaknya menghadapi kehancuran tertentu usai bintang induknya, Baekdu, membengkak hingga ribuan kali lipat dari ukuran aslinya untuk melahap planet mana pun di orbitnya. Namun Halla secara misterius dan ajaib selamat. Para astronom mempublikasikan temuan mereka pada 28 Juni di jurnal Nature seperti dikutip dari Live Science. “Ditelan oleh sebuah bintang biasanya memiliki konsekuensi bencana bagi planet-planet yang mengorbit dekat,” kata rekan penulis studi Daniel Huber, astronom dan peneliti di Institut Astronomi Sydney di Australia, dalam sebuah pernyataan. “Ketika kami menyadari Halla telah berhasil bertahan hidup di sekitar bintang raksasanya itu benar-benar kejutan.” Saat Baekdu kehabisan pasokan bahan bakar hidrogennya, bintang itu akan berkembang pesat, menggembungkan hingga 1,5 kali jarak orbit Halla, tambah para peneliti. Halla seharusnya benar-benar ditelan dan terbakar sebelum Baekdu yang sekarat menyusut kembali ke ukurannya saat ini. Hal yang sepertinya tidak terjadi. Halla pertama kali ditemukan oleh para astronom Korea pada tahun 2015 menggunakan teknik yang dikenal sebagai metode kecepatan radial untuk mencari tarikan planet-planet tersembunyi dalam gerakan bintang-bintang yang jauh. Namun Halla menghadirkan sebuah misteri sebab mengorbit bintang Baekdu, memiliki jari-jari hampir 11 kali matahari dan massa 1,6 kali, berubah menjadi raksasa merah. Bintang untuk sebagian besar waktunya terbakar dengan perpaduan atom hidrogen menjadi helium. Ketika kehabisan hidrogen lalu mulai menggabungkan helium sehingga menyebabkan peningkatan besar-besaran dalam keluaran energi. Hal ini menyebabkan terjadi pembesaran hingga ratusan atau bahkan ribuan kali lipat dari ukuran aslinya. Saat bintang-bintang mengembang maka planet sekitarnya dilahap dan lalu berubah menjadi bintang besar yang disebut raksasa merah. Untuk menetapkan bahwa Halla adalah salah satu planet asli Baekdu dan bukan penyelundup kosmik, para peneliti melakukan pengamatan menggunakan Observatorium Keck dan Teleskop Kanada-Prancis-Hawaii pada tahun 2021 dan 2022, yang mengonfirmasi bahwa orbit planet yang hampir melingkar selama 93 hari telah stabil selama lebih dari satu dekade. Para astronom berpikir hampir tidak mungkin Halla pernah disentuh oleh bintangnya yang terletak sekitar setengah jarak dari planet seperti Bumi dari matahari. “Kami hanya tidak habis berpikir Halla bisa bertahan diserap oleh bintang raksasa merah yang mengembang,” kata Huber. Sebaliknya, para peneliti telah mempersempit kemungkinan menjadi dua pilihan yakni Halla lahir setelah Baekdu berubah menjadi raksasa merah atau Baekdu pernah menjadi salah satu dari dua bintang dalam sistem biner yang kemudian bergabung sehingga mencegah keduanya berkembang cukup untuk melahap Halla. “Sistem ini kemungkinan besar mirip dengan planet fiksi terkenal Tatooine dari Star Wars yang mengorbit dua matahari,” kata rekan penulis studi Tim Bedding, profesor astronomi di Universitas Sydney, dalam pernyataannya. “Kalau sistem Baekdu awalnya terdiri dari dua bintang, perpaduan mereka bisa mencegah salah satu dari mereka berkembang cukup untuk menelan planet ini,” pungkasnya.