JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Scalping makin populer di kalangan trader agresif yang berburu cuan cepat di pasar saham. Strategi ini menekankan keputusan kilat untuk memanfaatkan pergerakan harga kecil dalam hitungan detik hingga menit. Berbeda dengan investor jangka panjang yang menahan saham berbulan-bulan, scalper bisa masuk dan keluar pasar berkali-kali sehari. Targetnya sederhana: kumpulkan keuntungan tipis, tapi konsisten hingga signifikan. Modal utama mereka bukan laporan keuangan perusahaan, melainkan grafik harga real-time, volume, dan order book. Scalping diminati karena peluang profit cepat dan sering. Posisi yang dipegang singkat membuat risiko dari berita buruk atau gejolak pasar lebih terkendali. Fokus intraday juga membuat scalper tak perlu repot menimbang kondisi makro ekonomi. Namun, strategi ini bukan sekadar klik beli-jual. Scalper butuh perangkat cepat, internet stabil, broker dengan eksekusi kilat dan biaya rendah, serta modal yang cukup untuk menahan kerugian kecil tanpa habis dimakan biaya transaksi. Pengetahuan analisis teknikal dan disiplin manajemen risiko mutlak diperlukan. Beberapa strategi scalping populer di antaranya momentum (masuk saat harga melesat, keluar sebelum melemah), support-resistance (beli di bawah, jual di atas), order flow (mengamati antrean order besar), hingga news trading (reaksi cepat terhadap berita). Contohnya, ketika ada antrean besar order beli di Rp995, scalper bisa masuk di level itu sambil berharap harga memantul. Meski menggiurkan, risikonya tak kalah besar. Potensi slippage, salah klik, hingga biaya transaksi dari ratusan order sehari bisa memangkas keuntungan. Karena itu disiplin jadi kunci: pasang stop loss ketat, jangan serakah, dan hanya pilih saham dengan likuiditas tinggi. Scalping juga menuntut mental baja. Refleks cepat, fokus penuh, dan tahan tekanan wajib dimiliki. Satu keputusan emosional bisa menghapus keuntungan kecil yang sudah dikumpulkan. Bagi pemula, disarankan memulai dengan akun demo atau modal kecil. Prinsip utama scalping bukan mencari satu transaksi besar, melainkan menjaga konsistensi keuntungan kecil sambil membatasi kerugian.