SURABAYA, NETRALNEWS.COM - Kota surabaya, Jawa Timur memiliki destinasi wisata hutan mangrove atau hutan bakau. Tempat yang sering dikunjungi wisatawan adalah Ekowisata Mangrove Wonorejo yang berlokasi di Jalan Raya Wonorejo Nomor 1, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya. Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya ini memiliki lahan seluas 200 hektar yang telah ditanami lebih dari 150 jenis tumbuhan mangrove, Ekowisata Mangrove Wonorejo juga berperan sebagai perantara untuk masyarakat andil dalam menjaga alam melalui penanaman bibit bakau lebih dari 350.000 bibit dan menjalin kerjasama dengan lebih dari 1000 perusahaan dan instansi. Mangrove merupakan kawasan konservasi alam untuk mencegah abrasi diwilayah timur Kota Surabaya. Menurut salah satu pengunjung Ekowisata Mangrove Wonorejo bernama Erwin Firdianzah mahasiswa ilmu komunikasi UNTAG Surabaya, “Mangrove memiliki keindahan alam yang menarik dari wisata lainnya karena budidaya alam tanaman mangrove yang dapat mencegah abrasi. Dan selain menjadi wisata tempat ini juga cocok sebagai tempat rekreasi edukas. Selain itu tempat ini juga memiliki tempat untuk berolahraga atau jogging track suatu manfaat yang sangat baik dan strategis tempatnya jadi sangat cocok dan rekomended untuk masyarakat untuk datang ke Mangrove Wonorejoi” menurutnya. Hutan Mangrove terdiri dari 2 kawasan utama, Yakni lintasan jogging(joggingtrack) dan hutan mangrove. Untuk memasuki jogging track pengunjung tidak dipungut biaya apapun (gratis). Namun dikawasan ini bagi pengunjung masih belum bisa menikmati hutan mangrove, Pengunjung harus menyebrangi sungai menggunakan perahu untuk menikmati hutan mangrove, dengan menyusuri sungai sepanjang 5,4 km selama kurang lebih 13-15 menit. Biaya tarif perahu (weekday) berlaku paket artinya harus 12 orang dalam satu rombongan tarifnya sebesar 25.000 untuk dewasa dan 15.000 untuk anak anak, untuk akhir pekan (weekend) biaya tarif rombongan tetap sama 25.000 untuk dewasa dan 15.000 untuk anak anak. Selain rombongan biaya tarif sewa kapal bisa di bandrol harga sebesar 300.000 per kapal. Namun untuk saat ini kawasan mangrove surabaya harus membayar tiket masuk berdasarkan data dari DKPP surabaya tarif untuk orang dewasa sebesar 10.000 rupiah dan 5.000 rupiah untuk anak anak dan tidak melebihi tinggi 100cm kemudian untuk hari weekend tarif masuk sebesar 15.000 rupiah dan 5.000 rupiah untuk anak anak. Untuk penarikan biaya ini juga akan memaksimalkan progam pemberdayaan masyarakat dari keluarga miskin, Pemkot Surabaya memberikan kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan. Area kuliner yang menyajikan hidangan khas pesisir dan olahan mangrove menambah kenikmatan berwisata. Pengunjung dapat beristirahat di gazebo-gazebo yang tersedia sambil menikmati kesejukan angin dan pemandangan burung-burung yang beterbangan di atas kanopi mangrove. Bagi pecinta fotografi, kawasan ini menawarkan beragam spot menarik untuk mengabadikan momen, mulai dari panorama hutan mangrove, keunikan akar-akar bakau yang mencuat dari permukaan air, hingga satwa liar yang hidup di dalamnya. Di sisi edukasi, Hutan Mangrove Wonorejo hadir sebagai laboratorium alam yang kaya akan pengetahuan ekosistem pesisir. Papan-papan informasi yang terpasang di sepanjang jalur tracking memberikan penjelasan mengenai berbagai jenis mangrove, proses pertumbuhannya, dan peran ekologisnya. Pengunjung dapat belajar langsung tentang bagaimana tanaman mangrove beradaptasi dengan lingkungan payau melalui sistem perakaran yang unik dan mekanisme penyaringan garam. Pusat informasi yang terdapat di kawasan ini juga menyediakan materi edukasi tentang pentingnya ekosistem mangrove bagi keberlanjutan lingkungan pesisir. Di sini, pengunjung dapat mempelajari bagaimana hutan mangrove berperan sebagai penahan abrasi, pencegah intrusi air laut, penyerap karbon, dan habitat bagi beragam biota laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Program-program khusus seperti penanaman bibit mangrove dan adopsi pohon mangrove memberikan pengalaman belajar interaktif, terutama bagi anak-anak dan remaja. Melalui kegiatan ini, pengunjung tidak hanya belajar tentang teknik penanaman yang benar tetapi juga nilai-nilai pelestarian lingkungan dan tanggung jawab terhadap alam. Bagi institusi pendidikan, kawasan ini menawarkan program kunjungan edukasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kurikulum. Siswa sekolah dapat melakukan pengamatan langsung terhadap ekosistem mangrove, mengidentifikasi jenis-jenis mangrove, dan mempelajari interaksi antar komponen ekosistem. Beberapa perguruan tinggi bahkan menjadikan Hutan Mangrove Wonorejo sebagai lokasi praktikum lapangan untuk mata kuliah ekologi, biologi kelautan, dan lingkungan. Perpaduan aspek rekreasi dan edukasi ini menjadikan Hutan Mangrove Wonorejo sebagai destinasi wisata yang bernilai lebih. Pengunjung tidak hanya pulang dengan kenangan indah dan foto-foto menarik tetapi juga dengan bertambahnya wawasan dan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan pesisir. Model ekowisata seperti ini menjadi contoh bagaimana kegiatan pariwisata dapat berjalan selaras dengan upaya konservasi dan pendidikan lingkungan. Oleh : M. Erwin Firdianzah Dosen Pengampu : Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA