PURBALINGGA, NETRALNEWS.COM — Sebuah masjid di Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, menawarkan pengalaman berbeda bagi para jamaah dan pengunjung. Masjid Watu Sanggar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menghadirkan perpaduan arsitektur masjid dengan simbol-simbol budaya Jawa. Keunikan itu terlihat dari bentuk bangunan yang dihiasi ornamen menyerupai ketupat, gunungan, hingga stupa candi. Ornamen tersebut menjadi bagian penting dari konsep pembangunan masjid yang sengaja mengadopsi nilai-nilai seni dan budaya Jawa. Di balik nama Masjid Watu Sanggar, terdapat cerita yang berkaitan dengan kondisi lingkungan masjid sejak dahulu. Nama Watu Sanggar diambil dari sebuah batu yang berada di tengah sungai di kawasan tersebut. “Dari dulu namanya memang Watu Sanggar. Namanya diambil dari sebuah batu yang ada di lingkungan masjid ini, letaknya di tengah-tengah sungai,” kata Amir Pranoto, pemilik kawasan Masjid Watu Sanggar. Masjid tersebut berada di kawasan yang cukup luas. Bangunan masjid memiliki luas sekitar 150 ubin, sedangkan keseluruhan kawasan mencapai hampir enam hektare. Kawasan tersebut kini juga dikembangkan menjadi tempat wisata edukasi dengan keindahan alam, yang dinamai Sawah Ijo. Pembangunan masjid berlangsung sekitar 2,5 tahun. Dalam prosesnya, konsep bangunan tidak dibuat sekadar sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang yang mempertemukan nilai keagamaan dengan kekayaan budaya lokal. Amir mengatakan, penggunaan simbol-simbol budaya Jawa merupakan bagian dari keinginannya untuk menghadirkan masjid dengan karakter yang berbeda. “Saya berkeinginan membangun masjid ini dengan mengadopsi nilai-nilai budaya atau seni-seni budaya Jawa,” ujarnya. Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai ornamen yang melekat pada bangunan. Gunungan, misalnya, menjadi salah satu elemen yang kuat menggambarkan karakter budaya Jawa. Sementara keberadaan ornamen menyerupai stupa candi memberikan sentuhan historis dan artistik pada kawasan masjid. Pengunjung Terpesona Arsitektur Jawa Keunikan Masjid Watu Sanggar ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Pengunjung tidak hanya datang untuk melaksanakan salat, tetapi juga menikmati suasana dan melihat langsung desain bangunan yang berbeda dari masjid pada umumnya. Pada Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung disebut cukup ramai. Sementara pada hari biasa, pengunjung biasanya datang pada pagi atau sore hari. “Kalau Sabtu-Minggu cukup lumayan. Kalau hari-hari biasa, sore atau pagi hari mereka terkesan dengan desain yang mengadopsi kultur Jawa seperti ini. Ternyata cukup diminati,” kata Amir. Menurut dia, konsep tersebut menjadi salah satu keunikan kawasan Masjid Watu Sanggar. Perpaduan antara tempat ibadah, seni arsitektur Jawa, dan kawasan wisata membuat masjid tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Bagi jamaah, pengalaman berkunjung juga dilengkapi dengan fasilitas sederhana tetapi menarik. Salah satunya adalah **kopi gratis** bagi jamaah yang datang untuk beribadah. “Kalau salat di masjid ini ada fasilitas namanya ngopi gratis. Itu fasilitas dari masjid yang diperuntukkan bagi para jamaah atau yang salat di sini,” katanya. Berdiri di Tanah yang Penuh Cerita Selain nama Watu Sanggar, kawasan tersebut juga menyimpan cerita turun-temurun mengenai sejarah tanah dan sumber air di sekitarnya. Menurut cerita para orang tua dan leluhur setempat, kawasan itu memiliki sejumlah nama dan sejarah tersendiri. Di antaranya terdapat tanah yang dikenal dengan nama Tanah Raja dan kawasan Pusar Kedungjaran. Di kawasan itu juga terdapat sumber mata air yang dikenal sebagai Sumber Air Nini Wahyu. Cerita masyarakat setempat bahkan menyebut kawasan tersebut sebagai tanah yang memiliki nuansa mistis atau wingit. Namun, seiring perkembangan zaman, kawasan tersebut justru berubah menjadi tempat yang religius sekaligus menjadi tujuan wisata. “Sumber airnya tidak pernah kering. Alhamdulillah sampai sekarang tetap lancar dan aman,” ujar Amir. Keberadaan sumber air tersebut menjadi salah satu bagian dari daya tarik kawasan Masjid Watu Sanggar. Bagi pengelola, perubahan kawasan yang sebelumnya dikenal melalui cerita-cerita leluhur menjadi kawasan religi dan wisata merupakan perjalanan tersendiri. Dikembangkan Menjadi Kawasan Wisata Masjid Watu Sanggar tidak berdiri sendiri. Kawasan di sekitarnya juga terus dikembangkan dengan berbagai fasilitas yang diharapkan dapat menjadi pendukung aktivitas masjid. Konsep pengembangan kawasan diarahkan pada wisata keluarga dan wisata religi. Salah satu fasilitas yang tersedia adalah kolam renang. Menariknya, kolam renang tersebut dapat digunakan secara gratis atau tidak dipungut biaya. Pengelola juga menyediakan cottage syariah yang diperuntukkan bagi keluarga maupun pasangan yang sah. Konsep tersebut dibuat untuk menjaga kenyamanan sekaligus memberikan pilihan aktivitas rekreasi yang tetap sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Selain kolam renang, kawasan tersebut juga dilengkapi dengan danau, playground, restoran, wahana kelinci, serta perpustakaan. Fasilitas yang tersedia membuat pengunjung tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga dapat menghabiskan waktu bersama keluarga. Kawasan tersebut bahkan dipersiapkan untuk berbagai kegiatan, termasuk acara pernikahan dan kegiatan MICE atau meeting, incentive, convention and exhibition. Sejumlah aula dengan kapasitas berbeda tersedia di lingkungan kawasan. Kapasitas ruangan mulai dari sekitar 50 orang, 100 orang, 330 orang hingga mencapai sekitar 400 orang. “Kalau mau pakai, bisa dipakai. Ada aula besar dan ada juga yang kecil. Kapasitasnya ada yang 50 orang, 100 orang, 330 orang sampai sekitar 400 orang,” kata Amir. Pengembangan tersebut sekaligus menjadi strategi agar kawasan masjid dapat terus hidup dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Masjid yang Tidak Hanya Menjadi Tempat Salat Masjid Watu Sanggar pada akhirnya tidak hanya menawarkan bangunan yang unik. Kawasan ini mencoba menghadirkan konsep yang menggabungkan ibadah, budaya, rekreasi, pendidikan, dan aktivitas keluarga dalam satu kawasan. Gunungan dan ornamen bernuansa Jawa menjadi identitas visual. Cerita Watu Sanggar menjadi bagian dari sejarah lokal. Sementara fasilitas wisata keluarga membuat kawasan tersebut memiliki fungsi yang lebih luas. Konsep inilah yang diharapkan mampu membuat masjid semakin ramai dan memberikan manfaat ekonomi maupun sosial bagi lingkungan sekitar. “Pengembangan kawasan ini sebagai pendukung dari masjid, supaya masjid juga makmur,” ujar Amir. Dengan luas kawasan enam hektare, Masjid Watu Sanggar masih memiliki ruang untuk terus berkembang. Ke depan, kawasan tersebut diharapkan tidak hanya dikenal masyarakat Purbalingga, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata religi dan keluarga di Jawa Tengah.