JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Jika pernah mengunjungi Thailand, hampir mustahil melewatkan semangkuk sup hangat dengan aroma khas: Tom Yum. Rasanya yang asam, pedas, segar, dan harum kaya langsung membangkitkan selera makan dengan cara yang menyenangkan. Lebih dari sekadar hidangan, Tom Yum mencerminkan identitas Thailand, menceritakan kisah tentang budaya, sejarah, dan cara hidup masyarakatnya. Secara historis, Tom Yum sudah dikenal sejak akhir abad ke-19. Nama "Tom Yum" berasal dari bahasa Thailand, di mana "tom" berarti merebus atau memanaskan, dan "yum" merujuk pada salad pedas dan asam. Hidangan ini diperkirakan berasal dari wilayah Tengah Thailand, khususnya di sekitar Sungai Chao Phraya, sebuah daerah yang kaya akan udang air tawar. Penduduk setempat memanfaatkan udang sebagai dasar kaldu. Dilansir dari Kompas, resep tertua yang terdokumentasi berasal dari tahun 1888 dengan nama Tom Yum Ikan Gabus. Menariknya, saat itu udang belum menjadi bahan utama. Versi dengan udang baru muncul kemudian dalam sebuah buku masak yang ditulis oleh seorang misionaris Amerika dan diterbitkan pada tahun 1897. Di situ terdapat resep bernama Tom Yum Goong dengan tambahan garnish, yang akhirnya menjadi dasar sup Tom Yum udang yang kita kenal sekarang. Awalnya, rasa asam pada Tom Yum bukan berasal dari jeruk nipis, melainkan dari irisan mangga muda, bawang putih yang diasamkan, dan buah madan. Seiring waktu, orang Thailand menambahkan serai, daun jeruk purut, dan lengkuas, yang kini dikenal sebagai "trinitas suci" di setiap mangkuk Tom Yum. Perubahan ini memperkaya dan mendefinisikan cita rasa unik sup tersebut. Seiring waktu, Tom Yum Goong dengan udang sebagai bintang utamanya menjadi versi yang paling populer dan menyebar ke luar Thailand. Awalnya hanya hidangan rumahan sederhana, kini telah menjadi ikon kuliner nasional. Ketika pariwisata Thailand berkembang pesat pada tahun 1980-an, Tom Yum mulai dipromosikan secara besar-besaran dan mendapat pengakuan global. Dari Bangkok hingga New York, dari restoran mewah hingga warung kaki lima, nama Tom Yum tetap menjadi daya tarik utama. Yang membuat Tom Yum benar-benar istimewa adalah keseimbangan rasa di dalamnya. Orang Thailand percaya pada filosofi “harmoni rasa” di mana manis, asin, asam, dan pedas harus berpadu sempurna. Dalam satu mangkuk Tom Yum, prinsip ini terlihat jelas. Serai, daun jeruk, dan lengkuas memberi aroma segar. Cabai membawa sensasi pedas menggugah selera. Perasan jeruk nipis memberi sentuhan asam yang segar dan ceria. Selain rasa, bahan-bahan tersebut juga membawa manfaat kesehatan. Rempah-rempah dipercaya bisa menghangatkan tubuh, meningkatkan imun, dan membantu pernapasan. Tidak mengherankan, saat pandemi Covid-19, Tom Yum sering disebut sebagai “sup penyembuh.” Bagi orang Thailand, Tom Yum bukan sekadar makan sendiri. Biasanya disajikan dalam mangkuk besar di tengah meja. Semuanya berbagi, menyeruput kaldu bersama-sama dan merasakan rasa kebersamaan. Inilah nilai sosial Tom Yum: ia tidak hanya menghangatkan tubuh tapi juga menyatukan orang-orang. Kini, para koki muda Thailand terus berinovasi dengan cara baru menyajikan Tom Yum. Ada yang menjadikannya saus pizza; ada pula yang membuatnya menjadi ramen. Namun versi klasik dengan udang dan jamur tetap memiliki tempat istimewa di hati banyak orang.