JAKARTA - Jumat (19/12/25), OpenAI meluncurkan browser web barunya, Atlas, dalam sebuah siaran langsung yang mengejutkan. Acara tersebut dibuka oleh CEO Sam Altman yang berbicara langsung kepada para penonton. “Kami percaya AI merupakan peluang langka yang hanya muncul sekali dalam satu dekade untuk memikirkan ulang apa itu sebuah browser,” kata Altman. “Sama seperti pada cara lama orang menggunakan internet, bilah URL dan kotak pencarian menjadi analogi yang tepat, kini kami mulai melihat bahwa pengalaman percakapan (chat) dan browser web dapat menjadi analogi baru yang cepat dan relevan.” Itu adalah pernyataan yang menginspirasi, dengan gaya klasik ala Steve Jobs. Namun, yang lebih penting dari browser Altman sendiri adalah “hal-hal lama” yang ia singkirkan untuk memberi ruang bagi yang baru. Bukan sekadar menggambarkan browser masa kini sebagai sesuatu yang usang, tetapi juga sebagai bagian dari satu paket layanan yang akan segera digantikan oleh AI — seperti yang dikatakan Altman, bagian dari “cara lama orang menggunakan internet.” Dan sebagian besar layanan yang akan menjadi usang itu dapat ditelusuri kembali ke satu perusahaan: Google. Proyek browser OpenAI sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di Silicon Valley setidaknya sejak musim panas lalu — dan sejak awal sudah jelas bahwa proyek ini berpotensi menjadi ancaman bagi Google, pemilik browser paling populer di dunia saat ini. Namun, detail produk dan presentasi yang dipaparkan pada hari Selasa memperjelas seberapa besar kerugian yang bisa dialami raksasa web tersebut di era AI — serta betapa kecil dampak keberhasilan Google dengan Gemini dalam menghadapi tantangan ini. Ancaman langsungnya cukup sederhana: ChatGPT menarik sekitar 800 juta pengguna setiap minggu, dan jika para pengguna tersebut beralih ke Atlas, kemungkinan besar mereka meninggalkan Chrome. Kehilangan pengguna ini memang tidak langsung menimbulkan kerugian finansial bagi Google (karena Chrome adalah produk gratis), tetapi hal itu membatasi kemampuan Google untuk menargetkan iklan kepada mereka atau mengarahkan mereka ke Google Search. Ini menjadi titik yang sangat sensitif, karena baru bulan lalu Google dilarang oleh Departemen Kehakiman AS untuk membuat kesepakatan eksklusivitas pencarian apa pun. Selain itu, ada pula cara OpenAI menangani pencarian itu sendiri. AI telah memberi tekanan pada model pencarian web, dengan menampilkan informasi yang sudah diproses alih-alih konten yang bisa dijadikan sasaran iklan. Namun dalam siaran langsung OpenAI, kepala teknik Atlas, Ben Goodger (yang juga merupakan tokoh penting dalam pengembangan Firefox dan Chrome), menggambarkan pencarian berbasis percakapan ini sebagai sebuah pergeseran paradigma. “Model pencarian baru ini sangat kuat,” kata Goodger. “Ini adalah pengalaman multi-tahap. Anda bisa melakukan percakapan bolak-balik dengan hasil pencarian, alih-alih hanya diarahkan ke sebuah halaman web.” Tentu saja, Google telah banyak melakukan integrasi AI ke dalam pengalaman pencarian normal — tetapi perusahaan ini sebagian besar melakukannya dengan pendekatan yang sama seperti daftar produk atau ulasan, yakni dengan menambahkan sebuah kotak pada halaman hasil pencarian. Namun, interaksi dua arah yang mendalam seperti yang ditawarkan OpenAI melampaui apa pun yang bisa didapatkan di Chrome, dan dengan pendekatannya yang sangat berbeda, hal ini tidak mudah untuk ditiru. Jika antarmuka pencarian OpenAI terbukti populer, hal tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi dominasi Google. Lalu ada pula persoalan periklanan. Saat ini OpenAI belum menayangkan iklan, tetapi perusahaan juga berhati-hati untuk tidak menutup kemungkinan tersebut. OpenAI belakangan juga banyak membuka lowongan kerja di bidang teknologi periklanan (adtech), yang memicu spekulasi bahwa pergeseran ke arah iklan mungkin sedang dipersiapkan. Dengan Atlas, ChatGPT kini dapat mengumpulkan konteks langsung dari jendela browser pengguna — menyediakan data yang sangat bernilai untuk penargetan iklan. Ini merupakan tingkat akses browser langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya: secara harfiah melihat kata-kata di layar saat pengguna mengetiknya. Dan setelah puluhan tahun kekhawatiran soal privasi, ini bukan jenis informasi sensitif yang kemungkinan besar akan dengan mudah diberikan pengguna kepada Google atau Meta. Atlas masih berada pada tahap awal, dan banyak hal akan bergantung pada produknya sendiri — serta apakah pengguna benar-benar menginginkan apa yang ditawarkan OpenAI. Namun, perusahaan ini telah menempuh jalur yang secara mengejutkan sangat komersial, dengan fokus pada pertumbuhan pengguna dan pendapatan, alih-alih ambisi samar seputar AGI. Ketika para pengamat infrastruktur mempertanyakan angka USD 300 miliar tentang apakah pendapatan OpenAI suatu hari dapat sebanding dengan pembangunan pusat data raksasanya, produk seperti Atlas mungkin menjadi tempat pertama untuk mencari jawabannya.