YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM- Apabila saudara menuju Kota Bantul dari arah Yogyakarta maka akan disuguhkan patung Diponegoro yang sangat megah di sisi kiri dan patung Jenderal Sudirman di sisi kanan. Patung itu berada di lingkungan taman perempatan Klodran. Salah satu tujuan dari pendirian patung Diponegoro itu adalah pemerintah Kabupaten Bantul ingin mengingatkan bahwa di Bantul pernah menjadi basis perjuangan pahlawan nasional yang tersohor, bernama Pangeran Diponegoro. Hal ini disampaikan Lilik Suharmaji dalam rangka dialog sejarah yang disiarkan Radio Persatuan Bantul atas kerjasama Dinas kebudayaan Kabupaten Bantul bersama Radio Persatuan Kabupaten Bantul pada 11 Juli 2023 dalam usaha sosialisasi sejarah perjuangan Diponegoro di wilayah Bantul. Pangeran Diponegoro lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785 dari keluarga Keraton Yogyakarta. Dia merupakan putra dari Sultan Hamengku Buwono III dengan Gusti Ayu Mangkorowati. Nama kecil Diponegoro adalah Bendoro Raden Mas Mustahar. Sejak usia 7 tahun Diponegoro dibawa nenek buyutnya, Ratu Ageng Tegalrejo (janda Sultan Mangkubumi) yang kemudian mendidiknya jauh dari kehidupan enak dan nyaman di dalam keraton. Dari tempaan Ratu Ageng Tegalrejo inilah, Diponegoro menjadi sosok pangeran Yogyakarta yang dekat dengan wong cilik seperti petani, pedagang, santri, ulama dan rakyat kebanyakan lainnya. Rupanya didikan Ratu Ageng Tegalrejo di Kampung Tegalrejo menjadikan Diponegoro muda menjadi pribadi yang tangguh dan peka dengan lingkungan sosialnya. Diponegoro tidak segan-segan menentang setiap kebijakan Kolonial Belanda, apabila kebijakan itu menambah penderitaan rakyat. Sejak ayahandanya, Pangeran Surojo menduduki takhta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono III (bertakhta 1812-1814), Diponegoro yang sudah menginjak dewasa diminta ayahandanya menjadi panesehat sultan. Untuk itulah Diponegoro walaupun tinggal di Tegalrejo harus menghadap ke keraton apabila Sultan Hamengku Buwono III membutuhkan kehadirannya untuk memecahkan masalah keraton. Setelah Sultan Hamengku Buwono III wafat pada 3 November 1814, penggantinya adalah Sultan Hamengku Buwono IV (bertakhta 1814-1822). Sebagai raja yang masih kecil berumur 10 tahun, maka Diponegoro ditunjuk oleh pihak keraton dan Kolonial Belanda sebagai Wali Negara. Sebagai Wali Negara inilah Diponegoro selalu berseberangan dengan Kolonial Belanda dan kalangan keraton seperti Patih Danurejo IV karena kebijakan-kebijakan itu selalu memberatkan rakyat kecil. Puncaknya Diponegoro mengobarkan Perang Jawa (1825-1830) karena Diponegoro sebagai salah satu Wali Negara dan pangeran keraton sudah tidak dihargai lagi. Setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pemerintahan, Diponegoro ditinggalkan, dikucilkan atau tidak dilibatkan. Setelah pemukiman Tegalrejo diserang oleh pasukan Kolonial Belanda dan tentara Kesultanan Yogyakarta pada 20 Juli 1825, Diponegoro dan para pengikutnya harus menyingkir dari Tegalrejo. Pemukiman Tegalrejo langsung dibakar atas perintah Patih Danurejo IV. Salah Satu Basis Perjuangan Diponegoro Diponegoro kemudian bermarkas di Gua Selarong, sebuah lungguh/apanace Diponegoro yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Bantul. Memang Gua Selarong tidak asing lagi bagi Diponegoro karena jauh sebelum perang terjadi, Diponegoro sudah sering pergi bertapa di Gua Secang yang tempatnya disekitar Gua Selarong. Perjuangan Diponegoro di wilayah Bantul tidak terbantahkan. Bekas Keraton Plered peninggalan Amangkurat I di Bantul pernah dijadikan markas pengikut Diponegoro untuk melawan Kolonial Belanda. Kolonial Belanda mempersiapkan pasukan di bawah komando Kolonel Frans David Cochius berkekuatan 4.200 personel. Pertempuran terjadi pada 9 Juni 1826. Saat penyerangan itu hanya 40 dari 400 pegikut Diponegoro yang dapat bertahan hidup. Peperangan di Siluk Bantul juga menjadi momentum Diponegoro dan pengikutnya dalam menghadapi tentara Kolonial Belanda. Pertempuran itu terjadi pada 17 September 1829. Di Siluk inilah paman Diponegoro yang bernama Pangeran Prabuningrat gugur dalam pertempuran. Setelah kekalahan di Siluk, pasukan Diponegoro kemudian menyeberangi Sungai Progo ke Kulonprogo yang kemudian menyusul gugurnya paman Diponegoro, Pangeran Joyokusumo dan dua putranya pada 21 September 1829 di Pegunungan Kelir. Perlu Diteladani Generasi Muda Ada nilai-nilai yang perlu diteladani generasi muda dari sosok Diponegoro: Pertama, peka terhadap penderitaan rakyat. Sebelum terjadi Perang Jawa (1825-1830) ada beberapa kasus yang membuat jiwa kerakyatan Diponegoro terusik, misalnya pembangunan jalan tol. Jalan tol memang oleh pemerintah kolonial disewakan kepada pengusaha Cina karena orang-orang Cina yang mempunyai dana besar suka mengelola jalan tol karena sangat menguntungkan. Dalam prakteknya keberadaan jalan tol ini menambah penderitaan rakyat. Setiap orang yang melewati jalan itu, harus membayar pajak jalan di pintu gerbang. Bagi orang yang melewati jalan itu walaupun tidak membawa barang, tetap dipungut pajak sehingga ada istilah pajak pantat. Apabila rakyat tidak dapat membayar jalan tol maka dagangan bawaan, baik barang maupun hewan harus ditinggalkan di pintu gerbang sebagai jaminan. Rakyat semakin menderita setelah di gerbang itu dijual opium. Rakyat membeli opium sambil menunggu antre di pintu gerbang. Dampaknya banyak rakyat yang kecanduan opium sehingga keluarganya semakin menderita. Masalah berikutnya adalah persewaan tanah milik para pangeran Yogyakarta. Dengan tanah disewakan kepada swasta (orang Eropa maupun Cina) maka rakyat tidak lagi bekerja di lahan itu karena sudah diambil alih pengusaha swasta yang ditanami komoditas ekspor yang laku di Eropa saat itu seperti tembakau, cengkeh, nila, dan sebagainya. Diponegoro sendiri satu-satunya pangeran yang tidak sudi tanahnya disewa oleh pengusaha Eropa dan Cina agar rakyat dapat bekerja bercocok tanam di tanahnya/ lungguhnya. Patih Danurejo IV merupakan biang dari permasalahan ini karena dia menjadi perantara antara para pangeran yang mempunyai lungguh dengan orang-orang Eropa swasta untuk memuluskan jalannya persewaaan tanah. Keuntungan yang diperoleh Sang Patih adalah mendapatkan uang dari transaksi jual beli sewa tanah. Puncak dari kekesalan Diponegoro terhadap Patih Danurejo IV, patih Yogyakarta yang dulu bisa menjadi orang penting di keraton karena rekomendasi Diponegoro itu terlibat dalam persewaan tanah. Patih Danurejo IV ditampar oleh Diponegoro dengan sandal selopnya dalam sebuah pertemuan di keraton. Kedua, Sosok Pangeran yang dermawan. Diponegoro merupakan salah satu pangeran Keraton Yogyakarta yang paling kaya. Hal ini karena Diponegoro juga berdagang hasil pertanian, kuda dan binatang pemeliharaan lainnya. Tegalrejo merupakan wilayah yang paling makmur karena selain padi yang melimpah, bangunan-bangunan rumah di Tegalrejo adalah bangunan paling baik diantara penghuni para pangeran. Walaupun Diponegoro merupakan sosok pangeran yang paling kaya, tetapi Diponegoro adalah pangeran yang dermawan. Semua hartanya diperuntukkan untuk perjuangan sehingga para pengikutnya dapat mengirim uang ke istri dan anaknya untuk hidup sehari-hari ketika suaminya harus meninggalkan ladang dan sawah untuk ikut berperang bersama Diponegoro. Uang Diponegoro dan uang yang terkumpul dari berbagai pihak juga digunakan untuk membeli senjata api yang dipasok warga Cina yang diselundupkan dengan ikan asin. Ketiga, religius. Walaupun Diponegoro sebagai pangeran keraton yang masih tetap percaya dengan adanya kekuatan benda-benda seperti keris, tombak, dan pusaka lain serta suka menyendiri untuk bertapa, tetapi Diponegoro merupakan sosok pangeran yang taat menjalankan perintah agama Islam. Diponegoro tidak meninggalkan sholat 5 waktu dalam keadaan dan situasi apapun. Bahkan menjelang hari-hari penangkapannya di Magelang, dia ketika ditawari berunding dengan Jenderal de Kock menjelang bulan Ramadhan, dia tidak bersedia karena ingin menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan khusuk. Setelah bulan Ramadhan selesai satu hari setelah Idul Fitri, Diponegoro bersedia berunding di Magelang sambil silaturahmi hingga berujung pada penangkapannya. Keempat, Diponegoro merupakan sosok yang pemberani. Diponegoro merupakan sosok pangeran yang paling berani diantara semua pengikut-pengikutnya. Diponegoro adalah seorang pemimpin perang yang tidak hanya di belakang meja atau asal tunjuk dan tidak langsung ke medan perang. Setiap pertempuran Diponegoro langsung terjun ke medan laga. Dalam pertempuran Gawok (sebelah barat Surakarta) pada 15 Oktober 1826 Diponegoro terluka parah. Beruntung kudanya segera membawa Diponegoro yang terluka menyingkir dari pertempuran. Bagi Diponegoro meninggal dunia di medan perang adalah mati sahid. Diponegoro paling tidak menyukai pengikutnya apalagi panglimanya yang takut atau pengecut dalam mengahadapi peperangan melawan Kolonial Belanda. Apabila ada pengikutnya yang takut dan lari dari medan peperangan, maka dia mengirim pakaian wanita sebagai simbul bahwa tidak boleh menjadi pria yang penakut apalagi sebagai tentara yang menjadi tumpuan dan harapan rakyat. Bahasa simbol ini ternyata sangat efektif untuk mengingatkan para panglima dan prajuritnya agar tidak takut dalam sebuah peretempuaran. Sebenarnya masih banyak nilai-nilai keteladanan yang dapat digali dari sosok Diponegoro sebelum perang, saat Perang, maupun setelah perang. Diponegoro merupakan pangeran keraton yang sangat dihormati lawan maupun kawan. Jenderal De Kock juga mengaku sangat hormat kepada Diponegoro. Dalam perjalanan ke pembuangan Diponegoro sangat dihormati. Gubernur Jenderal van de Bosch sudah mengingatkan siapa pun yang ditugaskan untuk mendampingi Diponegoro dalam perjalanan ke pengasingan maka harus melayaninya dengan baik. Untuk itulah tidak megherankan jika Mayor Stuers, Kapten Roeps dan Letnan Knoerle sangat hormat dan melayani Diponegoro dengan sepenuh hati saat dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Batavia dan dari Batavia ke Manado.