PEMATANG SIANTAR, NETRALNEWS.COM - Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar menggelar perayaan Dies Natalis ke-75 yang puncaknya berlangsung penuh hikmat. Perayaan emas berlian ini menjadi bukti perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan dalam mencetak para calon imam di tengah tantangan zaman. Sebuah momentum bersejarah membentang selama dua hari, dimulai sejak Jumat, 5 September 2025 hingga Sabtu, 6 September 2025. Gema syukur dan sukacita memenuhi kompleks seminari, menandai 75 tahun pengabdian yang tak lekang oleh waktu dalam formasi rohani. Tema besar "Nil Volentibus Arduum" yang berarti "Tidak Akan Sulit Bagi Mereka Yang Mau" menjadi jiwa dari seluruh rangkaian acara Dies Natalis ke-75 Seminari Menengah Christus Sacerdos. Filosofi ini meresap kuat, menggarisbawahi pentingnya keteguhan kehendak yang dibimbing rahmat ilahi untuk menaklukkan segala rintangan dalam panggilan suci. Puncak Perayaan Ekaristi Penuh Makna Suasana khidmat begitu terasa pada hari kedua perayaan, Sabtu, 6 September 2025, yang menjadi pusat dari seluruh acara. Agenda dimulai sejak pagi buta, diawali Ibadat Pagi yang menyejukkan jiwa para hadirin dan seluruh komunitas seminari. Setelah sarapan bersama yang mempererat tali persaudaraan, prosesi registrasi ulang dibuka untuk para tamu undangan yang terus berdatangan. Para penerima tamu dengan ramah mengarahkan setiap orang menuju tempat duduk yang telah disiapkan, memastikan perayaan agung dapat berjalan tertib dan lancar. Pukul 09.00 WIB, Perayaan Ekaristi Agung Dies Natalis ke-75 Seminari Menengah Christus Sacerdos dimulai, dipimpin langsung oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Lapangan seminari lengkap dengan panggung dengan dokarasinya yang megah menjadi saksi bisu persembahan syukur atas perjalanan tiga perempat abad institusi panggilan ini. Dalam homilinya yang mendalam, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap mengupas tuntas makna tema perayaan di hadapan ribuan umat yang hadir. Beliau menekankan bahwa semangat Injil menunjukkan kehendak manusia bila dibimbing oleh rahmat mampu menaklukkan segala halangan yang menghadang. Tantangan Panggilan di Era Instan Uskup menyoroti sebuah realitas zaman modern yang kontras, dimana para seminaris hidup dalam dunia yang menawarkan segala sesuatu serba instan dan mudah. Namun, panggilan suci menuntut ketekunan, kesabaran, kerja batin, dan daya juang yang luar biasa untuk terus bertumbuh. Belajar berdoa secara konsisten, bertahan dalam studi yang menantang, serta menjadi pribadi yang rendah hati adalah bagian dari proses formasi. Hidup bersama dalam latar belakang yang berbeda-beda seringkali memunculkan ego, tetapi para seminaris dilatih untuk terus melayani walau tak terlihat. Semua itu bukanlah proses yang mudah, tetapi bagi mereka yang sungguh berkehendak tidak ada yang terlalu berarti. Kehendak mereka dibakar oleh cinta kepada Tuhan setelah mengalami perjumpaan dan tatapan belas kasih-Nya yang menjadi kekuatan penembus batas. Fokus utama yang harus selalu dijaga adalah Tuhan, sebuah hal yang sangat relevan bagi para seminaris di tengah gempuran narasi yang merelatifkan kebenaran. Budaya populer saat ini kerap menertawakan kekudusan, namun mereka yang hidup dalam kesadaran akan tatapan belas kasih Tuhan akan tetap berjalan dalam arah yang pasti. Panggilan Adalah Rencana Allah Mengutip Rasul Paulus, Uskup menegaskan bahwa Allah adalah Segalanya dalam perjalanan panggilan ini. Seminaris dipanggil bukan karena mereka kuat, cerdas, atau merasa layak, melainkan karena Allah lebih dahulu memilih dan menyertai mereka dalam setiap proses. Paus Benediktus XVI pernah berkata bahwa awal menjadi seorang Kristen bukanlah keputusan etis atau sebuah ide besar. Awalnya adalah perjumpaan transformatif bersama Pribadi yang memberi hidup, cakrawala baru, dan arah yang pasti. Panggilan imamat bukanlah sebuah proyek pribadi yang dirancang oleh manusia, melainkan sepenuhnya adalah rencana agung dari Allah. Para seminaris tidak sendirian dalam perjalanan ini, karena ada para pastor dan guru yang senantiasa menyalakan cinta akan kebenaran di dalam hati mereka. Dukungan ekosistem panggilan juga datang dari para donatur yang murah hati, yang berkomitmen membela, membangun, dan menopang seminari ini. Mereka adalah bagian hidup yang membangkitkan kembali tatapan Kristus melalui hubungan nyata yang penuh kasih. Warisan 75 Tahun dan Visi Masa Depan Tujuh puluh lima tahun bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari penguatan misi Seminari Menengah Christus Sacerdos di masa mendatang. Sebuah inisiatif baru telah diambil Keuskupan Agung Medan dengan mengutus dua orang frater untuk belajar di Belanda dan melanjutkan formasi menjadi pastor di sana. Momen bersejarah Dies Natalis ke-75 Seminari Menengah Christus Sacerdos ini menjadi peneguhan untuk meletakkan dasar iman sebagai fondasi kokoh di keuskupan. Sejak didirikan pada tahun 1950 di Padang oleh Pastor Bernardus Pendelama dan berpusat di Pematangsiantar sejak 1953, seminari ini telah menjadi rahim panggilan yang subur. Selama perjalanannya, seminari telah melahirkan tokoh-tokoh penting bagi Gereja dan bangsa. Berikut adalah sebagian dari buah karya Seminari Menengah Christus Sacerdos: - 7 orang Uskup - Lebih dari 330 orang Imam - Puluhan Diakon - Tokoh-tokoh awam yang berkarya di berbagai bidang di Indonesia maupun di luar negeri Visi besar seminari adalah menjadi "oase ilahi" pendidikan calon imam di tengah dunia yang kering secara rohani. Semua pihak diajak untuk terus membentuk seminari ini menjadi tempat kudus, tempat anak-anak muda dapat mendengar bisikan lembut Yesus yang berkata, "Ikutilah Aku". Komitmen Baru dan Simbol Harapan Seusai homili, sebuah ritus penting dilaksanakan, yaitu pelantikan panitia Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan. Sinode ini merupakan sebuah forum penting yang akan berlangsung dari awal tahun 2026 hingga pertengahan 2027 untuk menentukan arah pastoral keuskupan. Setelah Perayaan Ekaristi berakhir, acara dilanjutkan momen simbolis yang penuh harapan di halaman seminari. Pelepasan puluhan balon dan burung merpati ke udara menjadi simbol harapan baru untuk menyongsong masa depan yang lebih tinggi (Ad Altiora). Acara bersejarah dalam perayaan Dies Natalis ke-75 Seminari Menengah Christus Sacerdos ini turut disaksikan oleh berbagai tokoh penting. Tampak figur Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama, utusan Walikota Pematangsiantar, Anggota DPR, serta orang tua seminaris dan para alumni dari berbagai angkatan. Jaminan Keamanan dari Pihak Kepolisian Seluruh rangkaian acara Dies Natalis ke-75 Seminari Menengah Christus Sacerdos berjalan aman dan kondusif berkat pengamanan dari pihak Kepolisian Resort Siantar. Sebanyak 20 personel diturunkan untuk memastikan kelancaran acara sejak hari pertama. Kompol H. Marpaung selaku koordinator pengamanan dari Polres Siantar menyatakan komitmennya. "Kami dari Kepolisian Resort Siantar, selama pelaksanaan kegiatan terkait, dari kemarin Jumat, 5 September hingga hari ini Sabtu, 6 September 2025 kita tetap siaga mengamankan kegiatan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengamanan ini adalah tugas pokok kepolisian sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 sebagai pelindung, pelayan, pengayom, dan pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. "Situasi masih aman dan kondusif, dan kami akan memastikan pengamanan hingga acara ini berakhir," tegas Kompol H. Marpaung. Mewakili panitia, Pastor Michael Hutabarat, OFMCap, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan pihak kepolisian. "Kita harus mengucapkan terimakasih, karena itu sangat penting sekali sehingga semua umat dan semua orang yang datang merasa aman dan tenang tanpa ada rasa khawatir, sehingga kegembiraan itu lengkap semua," tutupnya.