BANDUNG- Pada Awal abad ke 20 islam di indonesia mengalami masa modernisasi, dari pemikiran tradisional kepada pemikiran modern yang mengembalikan ajaran pada dua ajaran pokok yaitu al-quran dan as-sunnah. Banyak bermunculan para mujadid atau para pembaruan praktik agama Islam yang dilakukan oleh umat muslim, seperti KH Ahmad Dahlan dalam gerakannya di Muhammadiyah, Syekh Ahmad Soorkati dalam gerakannya di al-irsyad. Tanpa terkecuali para pembaru dari kalangan perempuan, nyai Ahmad Dahlan atau Siti walidah dengan semangat emansipasinya didalam Aisyiyah, Rahmah El-Yunusiah dengan pengajarannya di Diniyah putri. Persatuan islam istri (persistri) sebagai salah satu yang ikut meramaikan dan andil pada modernisasi islam di indonesia, khususnya di tanah pasundan atau parahyangan sebagai awal dari semangat pergerakan organisasi ini. Persistri hadir sebagai pendukung atau otonom jalannya semangat pergerakan bagi organisasi utamanya yaitu persatuan islam (persis), lahir di bandung pada tahun 1923 dengan ciri khas gerakan atau warna islam puritan yang selalu menyuarakan untuk kembali kepada Al-quran dan as-sunnah, menghancurkan segala aspek ibadah yang terdapat didalamnya takhayul, bid'ah dan khurafat, syirik, musyrik, dan taqlid buta. Persistri sebagai organisasi otonom persis di kalangan perempuan membantu jalannya pemurnian kehidupan beragama di kalangan umat Islam Indonesia. Persistri sendiri terbentuk 13 tahun setelah organisasi induknya atau lebih tepatnya setelah diadakan Muktamar ketiga pada tanggal 24 dan 25 Desember 1936 di Gedung Persis Jalan Pangeran Sumedang (Dadan wildan DKK, 2019). Pada awal berdirinya persistri yang diketuai oleh Hj Maryam Abdurrahman sama seperti organisasi yang menaunginya Keberadaan persistri di panggung sejarah membantu untuk mengubah nasib wanita muslimah Indonesia yang malang saat itu seperti kecemasan, kebodohan, kemiskinan, kekerasan dalam hubungan sosial dan keluarga (Erni isnaeninah, 2019). mengembalikan muslimat Indonesia pada ajaran Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw, sekaligus menyelenggarakan kegiatan dalam program garapan jamaah yang berkaitan dengan semua permasalahan yang dihadapi perempuan Islam Indonesia pada saat itu bahkan hingga saat ini. Nama persatuan islam istri sendiri berasal bahasa sunda yaitu istri yang artinya adalah wanita atau perempuan lawan kata dari pameuget artinya laki-laki. Kehadiran persistri sebagai organisasi otonom tidak lepas dari dua faktor yang menjadi penyebab kemunculannya. Faktor Pertama: adanya permusuhan sikap dan pandangan dari pihak lain terhadap perempuan persis karena tuntutan keyakinan berjilbab harus menutupi semua anggota badan yang hanya menyisakan wajah dan pergelangan tangan yang tentunya sangat berbeda dengan jilbab perempuan pada masa itu. Faktor Kedua: faktor ini menjadi penyebab utama yang berlaku hingga saat ini yaitu inisiatif dari bapak-bapak tokoh persis yang risih ketika harus membicarakan masalah sekitar hukum khusus perempuan. Seperti cara merawat jenazah perempuan, masalah junub (keadaan tidak suci), Hubungan intim suami dengan istri hingga masalah haid. Masalah-masalah yang berkenaan dengan perempuan akan lebih bebas dan terbuka dengan mendalam di lingkungan golongannya. Dalam semangat pergerakannya para mubaligh wanita (mubaligah) yang membantu perjuangan Persis untuk menyampaikan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah di kalangan kaum wanita. Para mubaligah Persis ini tergabung dalam bagian otonom Persis khusus para wanita (istri) yang disebut Persatuan Islam Istri (Persistri). Dalam aktivitasnya, Persistri melaksanakan beberapa kegiatan keagamaan seperti acara tablig khusus kaum ibu yang dipimpin oleh Nyonya E. Abdurrahman dan Nyonya Dahniar. Tablig rutin Persistri ini dilaksanakan setiap hari Senin sore di Mesjid Persis Jalan Pangeran Soemedang Bandung. Jemaah yang mengikuti tablig Persistri itu tidak kurang dari 50 orang jemaah setiap kali tablig. Tablig ini tidak saja diikuti oleh ibu-ibu Persistri, tetapi juga ibu-ibu yang bukan anggota bahkan ibu-ibu dari organisasi-organisasi Islam lainnya, seperti Muhammadiyah dan Sarekat Islam. Selain tablig umum yang rutin dilaksanakan pada setiap hari Senin sore, diadakan pula kegiatan lain sejenis kursus mubaligah yang dipimpin oleh Tuan A.D. Haani dan K.H. Muhammad Ramli. Materi pelajaran yang diberikan kepada ibu-ibu peserta Tamhiedul mubalighah (kursus mubalig bagi kaum wanita) antara lain pelajaran ilmu tauhid oleh ibu R. Maryam, pengajaran ayat-ayat Al-Qur’an oleh Nyonya Dahniar, pengajaran ilmu akhlak serta soal-jawab masalah-masalah ubudiyah oleh K.H. Muhammad Ramli yang dibantu pula oleh Tuan A.D. Haani dan Tuan H. Azhari dalam berbagai masalah agama. Untuk menunjang aktivitas tabligh ini mereka menerbitkan edisi buletin yang bernama Buletin Persistri, buletin ini diterbitkan dikarenakan aktivitas dakwah tabligh berat dilakukan khususnya bagian unit perempuan dan alumni (Howard M. Federspiel: 2001), maka dibuatlah edisi buletin yang didalamnya membahas materi-materi untuk membantu meningkatkan kesadaran akan ajaran islam dikalangan anggota awam, dengan gaya bahasa mirip khutbah atau ceramah. Semangat pergerakan yang dilakukan oleh Persistri ini terus berjalan dari tahun-ke tahun hingga saat ini dengan berbagai program yang disesuaikan dengan keadaan sosial dilapangan. Referensi Wildan, D DKK. (2019). ANATOMI GERAKAN DAKWAH. PERSATUAN ISLAM. Tangerang Selatan: Amana Publishing. Wildan, D. (1995). Sejarah perjuangan persis 1923-1983. Bandung: Gema Syahida. Isnaeniah, E. (2019). Karakteristik Organisasi Perempuan Persatuan Islam Istri (Persistri). Dalam Intizar, Vol. 25, No. 1, Juni. Federspiel, H M. (2001). Labirin Ideologi Muslim. Penerjemah Ruslani dan kurniawan abdullah. Jakarta: serambi. Shodiq, R Fathoni. (2018). Sejarah Persatuan Islam (Persis) Tahun 1923-1983. Diakses 22 juni 2023 dari https://wawasansejarah.com/sejarah-persatuan-islam-persis/.