JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Film horor Indonesia "Kampung Keramat" resmi tayang di bioskop sejak 13 Februari, menghadirkan kisah yang menggabungkan unsur supranatural dengan budaya lokal. Meskipun memiliki kemiripan judul, film ini tidak memiliki hubungan dengan "Keramat" (2009) yang sempat populer. Sinopsis: Ritual Penyembuhan yang Berujung Teror Film ini mengisahkan Maya, seorang wanita muda yang mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan. Bersama keluarganya, ia dibawa ke Kampung Bekandang, sebuah desa terpencil yang dipercaya memiliki dukun sakti yang mampu menyembuhkan penyakit gaib. Namun, setibanya di sana, Maya mulai mengalami gangguan mistis yang semakin mengarah pada kerasukan jenglot. Konsep penyakit gaib dan ritual penyembuhan yang diangkat dalam film ini memperkuat unsur budaya lokal, mengingatkan pada suasana dalam film-film seperti "Kafir" dan "KKN di Desa Penari". Kelebihan dan Kekurangan Film "Kampung Keramat" 1. Adegan Dramatis yang Kuat Beberapa adegan dalam film ini cukup berkesan, salah satunya adalah adegan emosional di kuburan saat hujan deras. Karakter Erlan (diperankan oleh Naufal Samudra) meluapkan amarahnya dalam suasana yang didukung efek hujan dan petir yang tampak realistis, membuat penonton merasakan intensitas emosinya. Selain itu, adegan rumah yang terbakar tanpa menggunakan CGI juga menjadi daya tarik tersendiri, karena memberikan efek dramatis yang lebih nyata. 2. Akting Aktor Senior yang Mengesankan Kehadiran aktor senior seperti Egy Fedly dan Yati Surachman menambah kedalaman cerita. Mereka berperan sebagai kakek dan nenek Maya yang menyarankan pengobatan alternatif di Kampung Bekandang. Namun, ketegangan meningkat ketika terungkap bahwa Maya justru dijadikan tumbal dalam ritual dukun desa. 3. Kekurangan dalam Penggambaran Lokasi dan Riasan Meski memiliki cerita yang menarik, film ini masih memiliki beberapa kelemahan: Desain produksi yang terasa kurang hidup: Rumah besar yang ditinggali keluarga Maya tampak terlalu kosong dan tidak memiliki detail yang mendukung suasana mencekam. Begitu pula dengan penggambaran desa yang terasa sepi, membuatnya kurang realistis sebagai sebuah kampung yang dihuni banyak orang. Make-up yang kurang maksimal: Riasan karakter, terutama dukun, terlihat kurang menyeramkan dan lebih menyerupai tokoh dalam sinetron misteri Mak Lampir, alih-alih menampilkan kesan horor yang lebih modern dan realistis.