JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Another remake film korea, dua versi satu cerita, My Annoying Brother ala Indonesia hadir dengan nuansa lokal. My Annoying brother film korea keluaran tahun 2016 ini adalah film drama keluarga yang dipadukan dengan sentuhan komedi. Film yang dibintangi oleh Jo Jung-suk, Do Kyung-soo (D.O. dari EXO), serta Park Shin-hye. Sekilas cerita aja nih, Go Doo-shik (Jo Jung-suk) alias kakak dari Go Doo-young (Do Kyung-soo) adalah seorang penipu yang mendapatkan pembebasan bersyarat dengan alasan harus merawat adiknya, sedangkan Go Doo-young (Do Kyung-soo) adalah seorang atlet judo berbakat yang mengalami kebutaan setelah kecelakaan dalam pertandingan. Hubungan kakak beradik ini penuh dengan konflik yang berujung saling mendukung satu sama lain dimasa-masa sulit. Doo-shik awalnya hanya peduli pada dirinya sendiri dan tidak benar-benar ingin membantu Doo-young. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan mereka mulai membaik, terutama dengan bantuan Lee Soo-hyun (Park Shin-hye), seorang pelatih judo yang mendukung Doo-young untuk bangkit kembali. Tapi dibalik itu, konflik utama terjadi ketika Doo-shik terungkap mengidap penyakit mematikan. Menyadari hidupnya tinggal sebentar lagi, ia berusaha menjadi kakak yang lebih baik dan membantu adiknya menemukan kembali semangat hidup. Film ini di remake versi Indonesia pada tahun 2024 di bulan Oktober. Ketika di remake menjadi versi Indonesia jalan cerita dari film ini nggak banyak yang berubah, yang paling kelihatan cuman versi Indonesia dibuat lebih melokal dan ada sedikit bumbu romansa antara Angga Yunanda (Kamal) yang berperan sebagai Go Doo Young versi Indonesia dan juga Caitlin halderman (Amanda) sebagai pelatih Judo Kamal. Kalau aku pribadi, tidak terlalu ada masalah dengan jalan ceritanya. Yang jadi pertimbangan adalah akting dari aktor yang membintangi My Annoying Brother versi Indonesia yaitu Angga Yunanda dan Vino G Bastian. “Kenapa?” Karena menurutku akting dari dua pemeran utama ini masih kurang dapet pembawaanya. Vino G. Bastian memang menunjukkan kepiawaian aktingnya, terutama dalam membangun karakter kakak yang menyebalkan namun penuh perhatian di bagian akhir film. Namun, di beberapa adegan komedi ekspresinya kadang berlebihan jadi bikin aktingnya kelihatan kurang natural. Sementara itu, Angga Yunanda sebagai Kemal berhasil menghadirkan emosi yang cukup menyentuh, terutama dalam menggambarkan perjuangan seorang atlet yang kehilangan harapan. Namun, dibandingkan Do Kyung-soo dalam versi Korea, ekspresinya dalam beberapa adegan terasa kurang menyentuh dan nanggung, seolah masih menahan diri untuk benar-benar tenggelam dalam karakter Go Doo Young. Chemistry antara Vino dan Angga juga terasa cukup baik, tapi nggak sampai pada tingkat yang bikin aku benar-benar terbawa dalam ikatan emosional mereka. Secara keseluruhan, mereka memang berhasil menyampaikan pesan film, tetapi tidak memberikan something new atau hal yang mengejutkan. Jika dibandingkan dengan versi Korea jujur aja aku lebih pilih versi Korea, bukan karena apa tapi My Annoying Brother versi Indonesia intensitas emosinya terasa lebih ringan, dan momen-momen haru tidak sekuat yang seharusnya. Bagi orang yang belum nonton versi aslinya, mungkin film ini masih cukup ngena, tapi bagi aku yang sudah akrab dengan versi Korea, remake ini rasanya seperti versi yang lebih aman dan tidak terlalu mengambil resiko dalam eksplorasi akting. Overall kembali lagi ke selera masing-masing orang sih, ada yang lebih prefer drama yang lebih kompleks ada juga yang lebih suka drama yang lebih ringan, kedua versi dari film My Annoying Brother ini worth it buat di tonton buat pendamping ketika gabut, dan lagi gak pengen nonton drama yang ceritanya terlalu berat.