Netral English Netral Mandarin
04:39wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Sebut Rezim JKW Otoriter, DS: Cewe Ini Lucu ya, Bisa Bicara Blak2an Bilang Gada Kebebasan, Dia Kira Dia Marsinah

Rabu, 01-September-2021 13:25

Asfinawati dan Denny Siregar
Foto : Kolase Netralnews
Asfinawati dan Denny Siregar
24

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar menyentil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati gegara menyebut rezim Presiden Jokowi otoriter tak menjamin kebebasan. 

Dalam cuitannya, Denny membandingkan situasi saat ini yang masih bebas berbicara dan berbeda dengan era Orde Baru. Untuk itu ia bandingkan dengan sosok aktivis buruh, Marsinah.

“Cewe ini lucu ya. Lha dia sampe sekarang msh bisa bicara blak2an, masih bisa tenang gada yg mantau, tapi terus bilang kalau gada kebebasan..,” kata Denny Siregar, Rabu 1 September 2021.

“Dia kira dia Marsinah...,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati, mengungkapkan bahwa rezim otoriter tak akan senang dengan kebebasan, tak terkecuali kebebasan akademik.

“Kalau menurut saya rezim otoriter itu pasti tidak senang dengan kebebasan. Jangankan kebebasan berbicara, pikiran saja kita nggak bisa bebas,” ujar Asfinawati dalam sebuah webinar yang digelar oleh LP3ES pada Selasa, (31/8/2021).

“Jadi kalau kita lihat ada pemerintah yang mengendalikan pikiran orang, dan mengenalikan kebebasan-kebebasan akademis, itu artinya pasti dia rezim otoriter, tinggal kadarnya seperti apa,” imbuh Asfinawati dinukil Gatra.com.

Asfinawati juga menyebut bahwa rezim otoriter tak mengenal batas zaman. Menurutnya, kecenderungan sebuah pemerintah untuk mengendalikan pikiran masyarakatnya dari waktu ke waktu akan selalu ada. Hanya saja, menurutnya, mungkin derajat otoritarianismenya berebeda-beda.

Secara lebih spesifik, Asfinawat menyinggung soal kebebasan di lingkungan akademik dan kebebasan mendapatkan informasi. Menurutnya, bentuk-bentuk kebebasan ini akan mampu memerdekakan pikiran masyarakat.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P