PACITAN- Indonesia memiliki warisan budaya tak benda yang tersebar diberbagai daerah. Bisa kita lihat bahwa warisan budaya Indonesia mewarisi sejarah bangsa Indonesia ini didirikan. Kultur budaya Indonesia yang beragam, membuat keanekaragaman tak benda tetap lestari hingga sekarang. Salah satu warisan budaya tak benda tersebut adalah kesenian Kethek Ogleng. Kesenian ini berasal dari Kabupaten Pacitan yang di inisiasi oleh seniman bernama Sutiman pada tahun 1962. Kethek Ogleng adalah sebuah tarian yang menirukan tingkah laku Monyet atau Kera. Kesenian tersebut merupakan kesenian yang dibawakan oleh seorang penari yang memakai kostum Kera Putih. Selain kostum yang dipakai oleh sang penari, penari juga memakai mahkota diatas kepala mereka. Tidak lupa tarian tersebut diiringi oleh gamelan yang bunyinya “ogleng, ogleng, ogleng” yang menjadikan penamaan kesenian ini sebagai nama Kethek Ogleng. Tarian Kethek Ogleng bersifat santai dan tidak kaku dan terkesan menarik karena gaya tarian yang akrobatik seperti halnya Kera. Sejarah Kethek Ogleng Latar cerita Kethek Ogleng berawal dari kisah asmara antara raja Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Berawal dari kisah hubungan asmara, namun hubungan tersebut tidak mendapat restu oleh sang ayah – raja Jenggala. Hal ini bermula karena sang ayah ingin menikahkan putri-Nya dengan pria pilihannya. Mendengar akan hal itu, Dewi Sekartaji meninggalkan istana tanpa sepengetahuan sang ayah. Ia meninggalkan kerajaan dengan ditemani dayang dan memutuskan pergi ke arah Barat. Mendengar berita perginya sang kekasih dari istana kerajaan, Panji Asmorobangun memutuskan untuk mencari Dewi Sekartaji. Namun setelah ia belum beranjak lebih jauh, Panji bertemu dengan seorang pendeta dan mendapatkan petuah darinya. Ia memberikan petuah untuk mencari Dewi Sekartaji ke arah Barat. Namun saat mencari Dewi Sekartaji, Panji Asmorobangun harus menyamar menjadi seekor Kera (Kethek) tanpa sepengetahuan siapapun. Selain Panji yang menyamar sebagai seekor Kera, Dewi Sekartaji juga menyamar sebagai Endang Roro Tompe. Penyamaran ini tidak diketahui oleh siapapun kecuali diri mereka sendiri. Pada saat Panji sampai di Barat, ia bertemu dengan Endang Roro Tompe. Mereka memutuskan untuk bersahabat ketika awal pertemuan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa penampilannya hanya samaran untuk menyembunyikan identitas aslinya. Sehingga suatu saat Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji memutuskan untuk memberi tahu identitas asli mereka. Sang Kethek memberi tahu identitas aslinya sebagai Panji Asmorobangun, demikian dengan Endang Roro Tompe yang memberi tahu identitas aslinya sebagai Dewi Sekartaji. Mengetahui akan hal itu, mereka memutuskan untuk kembali ke kerajaan dan memutuskan untuk menikah. Nilai Pendidikan dalam Tarian Kethek Ogleng Dari setiap kesenian yang ditampilkan, tentunya memiliki esensi nilai tersendiri yang ada di dalamnya. Nilai yang terkandung dalam kesenian bertujuan untuk mewariskan nilai budaya itu sendiri. Dalam pandangan umum kesenian tidak hanya dilihat sebagai hiburan saja. Namun bisa dilihat dari berbagai aspek seperti aspek pendidikan. Dalam kesenian Kethek Ogleng nilai pendidikan dapat dilihat dari kepribadian dalam gerakan tariannya. Seperti gerakan mulut dan tangan yang memiliki filosofi untuk selalu bekerja keras. Selain itu, gerakan ¬mondar-mandir dalam pertunjukan juga menunjukkan arti untuk selalu berbuat baik kepada sesama makhluk. Dimana filosofi tersebut mengajarkan kita untuk selalu bersikap baik kepada siapapun agar kita mendapat balasan terhadap apa yang telah kita lakukan. Pendidikan karakter dalam kesenian Kethek Ogleng juga bisa diambil dari kisah Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Dimana sejarah mengisahkan bahwa sikap sabar dalam menghadapi masalah harus tetap kita jalani. Hal ini berawal ketika Dewi Sekartaji memutuskan untuk meninggalkan kerajaan karena keputusan sang ayah yang tidak bisa ia terima. Selain itu, Panji Asmorobangun yang merupakan pujaan hati Dewi Sekartaji memutuskan untuk ikut mencarinya hingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kerajaannya. Nilai pendidikan lain yang terkandung dalam Kethek Ogleng juga terdapat pada Nilai Kerohanian dan cara bermasyarakat. Dimana tarian ini melibatkan banyak pihak untuk melaksanakannya. Seperti membutuhkan sinden untuk mengiringi tarian tersebut. Selain itu Gamelan Jawa juga masuk dalam unsur nilai dalam mengiringi tarian tersebut. Makna Kesenian Kesenian Kethek Ogleng Kesenian tentunya memiliki makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk menjaga nilai keaslian dari budaya yang telah di turunkan oleh para pendahulu. Dalam kesenian Kethek Ogleng memiliki makna simbolis seperti tarian Kethek yang dibebaskan. Hal ini bukan tanpa maksud, melainkan memiliki makna bahwa kehidupan setiap manusia memiliki prosedurnya masing-masing. Selain itu kesenian Kethek Ogleng memiliki beberapa versi sendiri dari setiap pembawanya. Namun tidak menghilangkan esensi makna asli yang terkandung di dalamnya. Maka seharusnya kita sebagai generasi anak muda Indonesia selayaknya untuk melestarikan budaya pendahulu yang diwariskan kepada kita. Jangan sampai dengan perkembangan zaman, warisan budaya Indonesia menjadi tertinggal dan dilupakan. Daftar Pustaka Briliana, N., Herdiana, W., & Waluyo, P. W. (2021). Perancangan Batik Terinspirasi Oleh Kisah Kethek Ogleng. ATRAT: Jurnal Seni Rupa, 8(3). Ratnasari, S. D. (2016). Nilai Pendidikan Dalam Pertunjukan Kesenian Kethek Ogleng Pacitan. Culture, 3(1), 1-21. Wardhani, F. A., & Sugito, B. MAKNA SIMBOLIK KESENIAN KETHEK OGLENG DI DESA TOKAWI KECAMATAN NAWANGAN KABUPATEN PACITAN Oleh.