JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sinopsis film The Mauritanian akan dibahas dalam artikel ini. Film The Mauritanian merupakan drama hukum rilisan 2021 yang diangkat dari kisah nyata Mohamedou Ould Slahi, seorang pria asal Mauritania yang ditahan di penjara militer Amerika Serikat, Guantanamo Bay, selama 14 tahun tanpa pernah didakwa secara resmi. Film ini disutradarai Kevin Macdonald dan diadaptasi dari buku memoar Guantánamo Diary karya Slahi yang dirilis tahun 2015. Tahar Rahim memerankan tokoh utama, Mohamedou Ould Slahi. Ia beradu akting dengan Jodie Foster, Shailene Woodley, Benedict Cumberbatch, dan Zachary Levi dalam peran pendukung yang kuat dan menyentuh. Rotten Tomatoes melaporkan 75 persen dari 217 ulasan kritikus bersifat positif, dengan rating rata-rata 6,6/10. Sinopsis Film The Mauritanian Cerita dimulai pada bulan November 2001, dua bulan setelah tragedi 9/11. Mohamedou Ould Slahi yang tinggal di Mauritania, diminta oleh pihak berwenang setempat untuk bertemu dengan perwakilan Amerika. Tanpa rasa curiga, ia menyetujui permintaan tersebut. Namun, sejak saat itu, ia menghilang. Tiga tahun kemudian, pada bulan Februari 2005, seorang pengacara asal Amerika, Nancy Hollander (diperankan oleh Jodie Foster), dihubungi oleh rekan pengacara dari Paris yang menerima permintaan dari keluarga Mohamedou. Mereka baru mengetahui dari berita bahwa Mohamedou ditahan di Guantanamo Bay dan dituduh terlibat dalam serangan 11 September. Nancy pun merasa tertarik untuk menyelidiki kasus ini karena ia memiliki izin keamanan dari kasus sebelumnya. Bersama rekannya, Teri Duncan (Shailene Woodley), ia terbang ke Guantanamo dan bertemu Mohamedou untuk pertama kalinya. Sang tahanan langsung setuju untuk dibela oleh mereka. Sementara itu, di New Orleans, Jaksa Militer Marinir, Stuart Couch (Benedict Cumberbatch), diminta oleh atasannya untuk mengurus dakwaan terhadap Mohamedou. Stuart diberi informasi bahwa Mohamedou pernah bergabung dengan Al-Qaeda dan merekrut pelaku pembajak pesawat dalam tragedi 9/11—termasuk yang menabrakkan pesawat ke gedung tempat temannya meninggal. Namun ketika Stuart mulai menelaah berkas, ia menemukan fakta mengejutkan. Dari surat Mohamedou dan dokumen intelijen, diketahui bahwa pengakuan Mohamedou diperoleh lewat penyiksaan brutal, termasuk pelecehan seksual oleh para penjaga. Bahkan, ibunya juga diancam akan dipenjara dan diperkosa jika ia tidak mengaku. Karena tidak sanggup lagi, Mohamedou akhirnya mengaku secara palsu demi menyelamatkan ibunya dan menghentikan penyiksaan yang dialaminya. Stuart pun memutuskan untuk tidak melanjutkan kasus ini karena merasa tindakan tersebut tidak etis. Pada bulan Desember 2009, Mohamedou memberikan kesaksian di pengadilan melalui video call. Pada bulan Maret 2010, ia mendapatkan berita bahwa hakim telah memutuskan untuk membebaskannya. Namun, kenyataan tidak seindah keputusan tersebut. Pemerintah Amerika mengajukan banding, yang membuatnya tetap terkurung di Guantanamo. Ibunya meninggal dunia pada tahun 2013—tanpa pernah memiliki kesempatan untuk melihat Mohamedou lagi. Ia akhirnya benar-benar dibebaskan pada tahun 2016, setelah menghabiskan 14 tahun di penjara tanpa pernah didakwa.