Netral English Netral Mandarin
23:33wib
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno memastikan kebijakan karantina berlaku untuk semua tim MotoGP 2022 tanpa terkecuali. Pemerintah memutuskan memberi nama ibu kota negara baru Indonesia dengan istilah Nusantara. Pemberian nama tersebut dinilai terkesan Jawa Sentris.
Soal Banjir, PDIP: Gubernur Anies Jauh- jauh Hari Sudah Siapkan 'Kambing Hitam'

Minggu, 17-Oktober-2021 16:42

Wakil Ketua DPD PDIP DKI Jakarta, Ronny Talapessy,
Foto : Rmol
Wakil Ketua DPD PDIP DKI Jakarta, Ronny Talapessy,
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua DPD PDIP DKI Jakarta, Ronny Talapessy, mengkritik pernyataan Gubernur DKI Anies Baswedan yang menyebut bahwa Pemprov DKI tidak bisa lagi menentukan titik-titik banjir di Ibu Kota karena perubahan iklim membuat curah hujan bisa terjadi secara ekstrem di berbagai lokasi.

Menurut Ronny, pernyataan Anies yang disampaikan saat memimpin apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan itu menunjukkan ketidakseriusannya dalam menangani masalah banjir di Jakarta.

Ronny menilai Anies seperti menyiapkan 'kambing hitam' jauh-jauh hari untuk mengelak dari tanggung jawab ketika banjir kembali melanda Ibu Kota.

"Ini bagi saya terlihat seperti upaya ngeles terbaru dari seorang Gubernur yang tidak serius mengurus banjir di Jakarta. Anies jauh-jauh hari sudah seperti menyiapkan kambing hitam," kata Ronny dalam keterangannya, Minggu (17/10/2021).

"Dalam forum yang sama, Anies juga malah sibuk menghitung curah hujan dan lagi-lagi menyalahkan jumlah air yang jatuh ke bumi. Ini sama saja Anies hendak mengatakan "wahai air hujan, please jangan turun banyak-banyak dong.," sambungnya.

Ronny mengatakan, pernyataan Anies membuat publik kecewa karena mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu lebih sibuk berteori ketimbang kerja konkret mengatasi banjir.

"Ini tentu saja mengecewakan publik. Jakarta butuh kerja konkret atasi banjir, bukan malah sibuk berteori, bukan malah sibuk menghitung jumlah air jatuh ke bumi. Pertanyaanya, ngapain ngukur curah hujan kalau drainase tidak dibenahi dengan optimal? Publik tidak mendengar soal ini dari Pak Anies," tandasnya.

Ronny menambahkan, selama empat tahun menjabat, Anies belum punya solusi jitu mengatasi masalah banjir di Jakarta. Bahkan, lanjutnya, program-program yang digaungkan Anies seperti sumur serapan hingga naturalisasi sungai juga sebatas teori.

"Dari dulu Pak Anies suka berteori soal hujan, tapi solusinya juga tidak ada. Sumur resapan yang jadi teori dan program beliau juga sampai sekarang tidak berlanjut. Teori naturalisasi sungai mengikuti contoh yang ada di luar negeri sampai sekarang juga tidak ada," pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur Anies Baswedan mengaku tahun ini akan cukup sulit memprediksi potensi wilayah terdampak banjir. Hal itu diakibatkan terjadinya perubahan iklim yang berpengaruh dengan curah hujan.

"Climate change yang menyebabkan tidak bisa lagi kita menentukan titik-titik mana yang akan terjadi karena hujannya bisa terjadi secara ekstrem di berbagai lokasi," kata Anies saat memimpin apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan di lapangan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (13/10/2021).

"Jadi dengan global warming yang sekarang terjadi climate change yang dialami seluruh dunia memang hujan tidak lagi memiliki pola yang diprediksi seperti dahulu," sambungnya.

Anies menuturkan, masyarakat selama ini jarang mempertanyakan tingkat curah hujan di Ibu Kota. Padahal, menurutnya, justru hal itu yang menjadi indikator suatu kawasan dilanda banjir atau sebaliknya.

"Kalau hujan tidak tanya berapa milimeter, padahal yang menentukan itu banjir atau tidak milimeter curah hujan," ucap dia. 

"Karena itulah saya mengajak kepada seluruh masyarakat Jakarta untuk mengantisipasi tentang curah hujan. Kita kalau ada gempa bumi biasanya tanya berapa skala richter," ujar Anies. 

Anies menjelaskan, ada kalanya terjadi hujan dalam waktu singkat, namun curahnya sangat tinggi. Seperti yang terjadi pada awal tahun 2020, daratan Jakarta hampir seluruhnya terdampak banjir karena intensitas hujan sangat ekstrem yaitu 370 milimeter

Di Jakarta, lanjutnya, jika curah hujan 100 milimeter per hari, dan itu terjadi secara merata maka infrastruktur yang disiapkan akan mampu mencegah terjadinya banjir. Sebaliknya, jika melebihi dari ukuran tersebut maka banjir sulit dicegah.

"Jadi, kapasitas kita 100 milimeter per hari. Kalau hujannya itu merata sepanjang 24 jam, sistem kita sanggup menampung. Tapi bila turun seperti kemarin (tahun 2020) 370 milimeter turun dalam waktu 5 jam, maka bisa dibayangkan itu volume air yang turun dalam waktu yang amat singkat itu ekstrem," terangnya.

Terkait hal itu, Gubernur Anies mengaku pihaknya telah memasang alat ukur curah hujan di 267 kelurahan di Ibu Kota. Alat ini untuk mendeteksi potensi terjadinya banjir. 

"Sekarang 267 kelurahan ada alat ukur curah hujan sehingga kita tahu persis pada saat ini kondisi hujan seperti apa," pungkas Anies.  

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli

Berita Terkait

Berita Rekomendasi