JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 2019-2024 Tifatul Sembiring turut angkat suara terkait adanya dugaan Calon Presiden (Capres) yang sedang menjabat sebagai menteri, melakukan tindak kekerasan seperti menampar hingga mencekik Wakil Menteri (Wamen). Tindakan itu disebut-sebut terjadi saat rapat kabinet dan disaksikan oleh beberapa menteri lain. Tifatul Sembiring mempertanyakan, apakah informasi tersebut benar adanya. Dia juga mempertanyakan, apakah ada yang bisa memberikan penjelasan soal isu yang tengah jadi perbincangan itu. "Kalau boleh saya bertanya: Apakah informasi ini valid? Adakah yg bisa memberi penjelasan? *SayaTanyaJanganMarahPula," cuit Tifatul Sembiring, Senin (18/9/2023). Membaca pertanyaan itu, ada seorang netizen yang berkelakar ikut bertanya. Netizen mempertanyakan, mengapa PKS tidak mau bergabung ke KIM dan pertanyakan itu dijawab kelakar balik oleh Tifatul Sembiring. "Oh itu kenapa PKS gak mau gabung ke KIM ya tadz ? Takut kena ya ? #SayaTanyaJanganMarahPula," kata @R**adian**. "Gak kuat mesti pake helm tiap ngantor…*emoticon*," timpal pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika pada tahun 2009 hingga 2014 itu. Untuk diketahui, sebelumnya Content creator Alifurrahman mengaku membaca isu tersebut yang tengah jadi pergunjingan di sebuah grup WhatsApp (WA). Dia membuka dan membaca pertanyaan, respon dan rasa saling penasaran antaranggota di dalam grup. "Ada pertanyaan, saat rapat kabinet, adalah salah seorang Capres yang saat ini jadi menteri, mencekik salah seorang wakil menteri. Saat rapat belum dimulai, dicekik dan sebelumnya ditampar," ujar Alifurrahman, dikutip dari kanal Youtube. Berada dalam situasi demikian, para menteri yang lain, yang hadir rapat, disebut membantu melerai. Tidak hanya menteri, tetapi juga dibantu dipisahkan oleh staf yang hadir. Awalnya cerita tersebut didapat Alifurrahman dari informannya. Informan dipastikan merupakan seorang staf yang juga hadir dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat kejadian itu berlangsung. "Ada menteri cekik Wamen. Informan bilang begitu dan ceritanya beredar di grup WA," katanya. Menurut Alifurrahman, kasus itu hanya tinggal menunggu soal waktu dan akan diklarifikasi hingga dibenarkan berbagai pihak. Disaksikan oleh beberapa menteri dan staf, tentu ada beragam sudut pandang dari masing-masing orang. "Saat itu situasi keos, para menteri agak ketakutan. Karena menteri bukan preman yang biasa dengan tampar, cekik karena orang terdirik namun dihadapkan kondisi itu," katanya. Disebut Alifurrahman, beberapa menteri agak trauma dan kasus itu jadi aib di sidang kabinet. Kasus itu bahkan sudah sampai ke telinga Presiden Joko Widodo (Jokowi). Diduga tindakan menampar dan mencekik terjadi karena Presiden Jokowi sempat memberikan amanah pada menteri yang merupakan Cawapres. Amanah itu memerlukan sinergi antar kementerian, tetapi amanah itu gagal, dipertanyakan presiden dan ditertawakan banyak orang. "Gimana mau jadi capres, dikasih satu kerjaan aja nggak bisa. Menteri itu tersinggung, saat rapat kabinet sudah menunggu menteri terkait ternyata tidak hadir, yang hadir hanya wakil menteri," katanya. Alhasil emosi dan amarah dilampiaskan kepada wakil menteri yang hadir. Tetapi terduga korban tampar dan cekik itu hanya diam dan tidak cerita pada siapa-siapa, apalagi punya harga diri dan bisa jadi pengalaman sejarah yang buruk.